Kebakaran Misterius di Seyegan Sleman
Muftiana, pemilik rumah yang mengalami kebakaran berulang secara misterius di Seyegan, Sleman. (Foto. BahteraJateng/HH)

Diluar Hasil Usaha, Kerugian Korban Kebakaran Misterius di Seyegan Sleman Membengkak Jadi Rp70 Juta

YOGYAKARTA[BahteraJateng] – Kerugian yang dialami Muftiana, pemilik rumah yang menjadi lokasi fenomena kebakaran misterius di Padukuhan Kasuran, Kalurahan Margomulyo, Kapanewon Seyegan, Sleman, terus bertambah. Hingga Kamis (4/6/2026), kerugian ditaksir mencapai sekitar Rp70 juta.

Jumlah tersebut meningkat signifikan dibandingkan perkiraan sebelumnya yang berada di kisaran Rp40 juta. Menurut Muftiana, nilai tersebut baru mencakup kerusakan barang dan biaya yang telah dikeluarkan selama penanganan kejadian.

“Kalau sekarang mungkin sekitar Rp70 jutaan. Itu belum termasuk penurunan omzet usaha,” kata Muftiana.

Ia menjelaskan, besarnya kerugian juga dipengaruhi oleh sejumlah biaya tambahan yang harus ditanggung secara mandiri, termasuk pembongkaran septic tank dan beberapa bagian rumah untuk mendukung proses penelitian yang dilakukan tim ahli.

“Pembongkaran septic tank itu biaya sendiri. Belum lagi keramik dan bagian rumah lainnya yang harus dibongkar untuk penelitian,” ujarnya.

Selain itu, keluarga juga harus mengeluarkan biaya untuk mengisi ulang alat pemadam api ringan (APAR) yang digunakan berulang kali untuk memadamkan api yang muncul secara tiba-tiba.

Meski demikian, Muftiana mengaku bersyukur karena sejauh ini kebutuhan logistik sehari-hari masih terbantu oleh pemerintah, relawan, dan keluarga besar. Bantuan yang diterima antara lain berupa bahan kebutuhan pokok dan peralatan penanganan kebakaran.

“Logistik dari pemerintah ada, dari keluarga juga banyak membantu. APAR juga ada bantuan dari relawan dan Damkar. Tapi kalau bantuan uang tunai sejauh ini belum ada,” katanya.

Di tengah berbagai bantuan tersebut, Muftiana menyebut kebutuhan yang paling mendesak saat ini adalah blower untuk membantu menghalau gas yang diduga menjadi penyebab munculnya api.

“Yang paling kami butuhkan sekarang blower untuk membantu menghalau gas,” ujarnya.

Sementara itu, fenomena kebakaran misterius di rumahnya masih terus terjadi. Hingga saat ini tercatat sudah 97 kali kemunculan api sejak pertama kali terjadi pada 23 Mei 2026.

Meski penyebab pastinya belum diketahui, sejumlah penelitian yang dilakukan tim gabungan dari Universitas Gadjah Mada (UGM), UPN Veteran Yogyakarta, BRIN, dan instansi lainnya mulai memberikan gambaran awal mengenai sumber permasalahan tersebut.

Muftiana mengaku menyerahkan sepenuhnya proses pengungkapan penyebab kebakaran kepada para ahli. Sebagai warga awam, ia tidak ingin berspekulasi terkait dugaan gas metana maupun gas lainnya yang saat ini sedang diteliti.

“Kalau soal metana dan sebagainya saya tidak paham. Saya serahkan kepada para ahli yang meneliti,” katanya.

Ia berharap hasil penelitian dapat segera memberikan kepastian, sehingga langkah penanganan yang tepat bisa segera dilakukan dan keluarganya dapat kembali menjalani kehidupan secara normal.(day)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *