Bosweisen Dieng Disiapkan Jadi Destinasi Wisata Spiritual Baru Banjarnegara
BANJARNEGARA[BahteraJateng] – Pemerintah Desa Bakal, Kecamatan Batur, Kabupaten Banjarnegara, mulai mendorong pengembangan kawasan Bosweisen sebagai destinasi wisata spiritual dan budaya baru di Dataran Tinggi Dieng. Kawasan seluas sekitar 30–40 hektare tersebut dinilai memiliki potensi sejarah, spiritual, dan alam yang kuat.
Bosweisen merupakan lahan bekas kawasan penggembalaan peninggalan kolonial Belanda. Namun, bagi masyarakat setempat, kawasan ini memiliki nilai sakral.

Di lokasi tersebut terdapat Pendopo Sanghyang Bagasworo yang diyakini sebagai tempat mufakat Eyang Semar dalam kisah pewayangan. Tata ruangnya mengikuti filosofi Sedulur Papat Kalima Pancer, dengan empat akses jalan yang melambangkan empat penjuru mata angin dan satu pusat sebagai pancer.
Tokoh masyarakat Desa Bakal, Muharor, mengatakan Bosweisen bukan sekadar kawasan wisata, melainkan tempat untuk kontemplasi dan pelestarian nilai budaya Jawa.
“Ini tempat untuk menenangkan diri, bukan untuk hura-hura,” ujarnya.
Selain nilai spiritual, kawasan Bosweisen juga memiliki potensi geologis. Hamparan batu andesit purba di lokasi tersebut diyakini menjadi material pembangunan candi-candi Dieng. Salah satu batu yang menonjol dikenal sebagai Batu Semar karena bentuknya menyerupai tokoh pewayangan.
Pemerintah desa berencana mengembangkan Bosweisen dengan konsep “Kampung Jawa” berarsitektur Majapahit. Rencana tersebut mencakup pembangunan penginapan beragam kelas, mulai dari vila, cottage, hingga barak untuk pelajar. Meski mengusung nuansa tradisional, fasilitasnya akan tetap berstandar modern.
Kepala Desa Bakal, Madkhurodin, menyebut pengembangan kawasan juga akan mengintegrasikan agrowisata untuk melindungi komoditas lokal seperti carica dan terong Belanda.
“Ini sebagai pagar alam agar lahan pertanian tetap terjaga dan memberi manfaat ekonomi bagi warga,” katanya.
Namun, pengembangan Bosweisen masih terkendala akses infrastruktur. Jalan menuju kawasan tersebut, khususnya dari Desa Bakal ke arah Kawah Sikidang, mengalami kerusakan berat dan rawan longsor.
Madkhurodin meminta dukungan pemerintah daerah untuk pembangunan jalan selebar enam meter. “Dana Desa tidak mencukupi untuk pengembangan sebesar ini,” tegasnya.
Sekretaris Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Banjarnegara, Eryanto Arief, menyatakan Desa Bakal telah masuk prioritas dalam Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan Daerah (Ripparda) 2026. Namun, ia menekankan bahwa penguatan sumber daya manusia lebih penting dibanding pembangunan fisik.
“Destinasi bisa berkembang kalau SDM-nya kuat. Pokdarwis harus solid dan pengelola harus punya jiwa entrepreneur,” ujarnya.
Ke depan, ritual tahunan Sedekah Bumi setiap 14 Agustus direncanakan menjadi agenda budaya utama di Bosweisen. Pemerintah desa berharap kegiatan tersebut dapat menarik wisatawan sekaligus menjaga nilai spiritual kawasan.(day)

