Hari Santri Ungkap Peran Kiai dan Santri dalam Perjuangan Kemerdekaan RI yang Terkubur
SEMARANG[BahteraJateng] – Momentum peringatan hari santri berhasil membuka peran penting para kiai dan santri dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia yang sempat terkubur sehingga nyaris terhapus dari catatan sejarah bangsa.
Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jateng KH Abdul Ghaffar Rozin yang juga pengasuh pesantren Maslakul Huda Kajen Pati, mengatakan terungkapnya peran kiai dan santri dalam perjuangan kemerdekaan sehingga kini diketahui oleh publik, bukan berarti perjuangan sudah selesai.
“Buku sejarah yang ada masih belum mencantumkan peran-peran kiai santri dalam perjuangan kemerdekaan RI,” kata Gus Rozin dalam Sarasehan Santri Masa Kini 5.0 , Menguasai Teknologi, Merawat Tradisi dan Menjaga Aqidah yang diselenggarakan Masjid Raya Baiturrahman (MRB) Jawa Tengah, di aula masjid MRB pada Senin (26/10).
Menurutnya, ini berarti tantangan untuk meyakinkan kepada pemegang otoritas dan kebijakan serta publik tentang adanya peristiwa sejarah resolusi jihad yang difatwakan Rois Akbar PBNU KH Hasyim Asy’ari dan berhasil menggerakkan rakyat untuk melawan penjajah harus terus digelorakan.
Hal ini, lanjutnya, menuntut masyarakat pesantren untuk terus bermuhasabah atau evaluasi diri seraya bersiap menyiapkan diri untuk masuk ke dunia kompetisi untuk bersaing dengan elemen-elemen lain agar pada saatnya nanti bisa menjadi pihak pemegang kebijakan.
Sebelumnya, Ketua Yayasan Pusat Kajian dan Pengembangan Islam (YPKPI) Masjid Raya Baiturrahman Jateng Ahmad Darodji, saat menyampaikan pidato kunci mengatakan kalau saja tidak ada seruan resolusi jihad kiai Hasyim Asy’ari bisa jadi Indonesia gagal mempertahankan kemerdekaan yang sudah dicapai.
Bulan Agustus 1945 ,ujarnya , Indonesia memproklamirkan kemerdekaan, bulan Oktober sekutu sebagai pemenang perang dunia II yang diboncengi Belanda masuk ke Indonesia dan ingin mengembalikan Indonesia kepada penjajah Belanda, sementara Indonesia belum memiliki angkatan petang yang kuat
“Akhirnya presiden Soekarno minta kiai Hasyim untuk mengambil langkah menggerakkan rakyat melawan sekutu. Resolusi jihad kiai Hasyim, 22 Oktober 1945 berhasil menggerakkan rakyat bersama kiai dan santri memenangkan perang 10 November di Surabaya,” kata kiai Darodji.
Selain Gus Rozin, sarasehan yang dimoderatori ketua Takmir MRB Jateng Multazam Achmad, dan diikuti ratusan pelajar dan santri Semarang juga menampilkan Anashom, (Ketua PCNU Kota Semarang), Shodiq Hamzah Usman (pengasuh pesantre Asshodiqiyah Semarang) dan Fadlolan Musyafa, (Pengasuh pesantren Fadlu Fadlan Semarang) sebagai narasumber sarasehan.


