Pasar Bulu Semarang
Penampilan tarian-tarian para pedagang Pasar Bulu dalam Greget Tradisional Pasar Bulu, Minggu (14/12). (Dok BahteraJateng/day)

Hidupkan Pasar Rakyat, Pemkot Semarang Gelar Kegiatan Kreatif di Pasar Tradisional di Tahun 2026

SEMARANG[BahteraJateng] — Pemerintah Kota Semarang melalui Dinas Perdagangan mengalokasikan anggaran pada tahun 2026 untuk menyelenggarakan berbagai kegiatan kreatif di pasar-pasar tradisional.

Program ini bertujuan menghidupkan kembali pasar rakyat agar tidak hanya menjadi pusat transaksi ekonomi, tetapi juga ruang interaksi sosial dan ekspresi budaya.


Hal itu, disampaikan Kepala Bidang Penataan dan Penetapan Dinas Perdagangan Kota Semarang, Edi Subeno, dalam kegiatan Greget Tradisional Pasar Bulu pada Minggu (14/12).

Ia mengatakan kegiatan tersebut akan menggandeng sejumlah komunitas kreatif di Kota Semarang, mulai dari komunitas seni, fotografi, hingga musik. Event yang digelar diharapkan bersifat edukatif, inklusif, dan berbasis budaya lokal.

“Pasar Bulu menjadi salah satu lokasi yang direncanakan. Secara keseluruhan, kami menargetkan sekitar enam kali kegiatan pada tahun 2026. Waktu pelaksanaannya masih kami godok,” kata Edi Subeno kepada BahteraJateng.

Menurutnya, pemerintah tengah mempertimbangkan apakah kegiatan tersebut akan dilaksanakan pada momen tertentu seperti menjelang Lebaran dan Tahun Baru, atau justru pada periode ketika aktivitas ekonomi pasar cenderung menurun.

“Prinsipnya, bagaimana pasar tetap hidup dan ramai,” jelasnya.

Melalui pendekatan ini, Pemkot Semarang berharap pasar tradisional dapat berfungsi sebagai penggerak ekonomi kerakyatan yang berkelanjutan, sekaligus ruang budaya yang memperkuat identitas lokal.

Isu Pembongkaran Pasar Bulu

Dalam kesempatan yang sama, Edi Subeno juga menegaskan bahwa tidak ada wacana maupun rencana dari Dinas Perdagangan untuk merobohkan atau mengganti Pasar Bulu. Ia membantah isu yang berkembang di kalangan pedagang terkait rencana pembongkaran pasar tersebut.

“Kalau dari pemerintah sendiri, khususnya Dinas Perdagangan, tidak ada wacana ataupun rencana merobohkan maupun mengganti Pasar Bulu menjadi hal lain. Itu tidak ada,” tegasnya.

Sebaliknya, pemerintah justru mendorong penguatan pasar tradisional melalui program Greget Pasar atau Greget Pasar Tradisional. Program ini merupakan kolaborasi antara pemerintah, pegiat seni, komunitas kreatif, dan pedagang pasar untuk meramaikan kembali pasar rakyat yang terdampak penurunan jumlah pengunjung.

Ketua Panitia Greget Tradisional, Suyahmi, mengungkapkan bahwa isu pembongkaran Pasar Bulu sempat menimbulkan kegelisahan di kalangan sekitar 240 pedagang. Ia menyebut adanya pernyataan dari oknum pejabat yang menilai Pasar Bulu kumuh, diduga karena pernah terjadi banjir di area basement parkir.

“Padahal pasar ini bersih dan bangunannya relatif baru. Kalau ada masalah, seharusnya dipikirkan solusinya agar pasar terlihat lebih baik, bukan justru melabeli kumuh,” tandasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *