Argo Merbabu
KAI Daop 4 Semarang menggelar perayaan HUT ke-81 PT Kereta Api Indonesia (Persero), melalui penggunaan vintage livery pada KA Argo Merbabu dan pembacaan puisi “Di Stasiun Tawang”, Senin (28/9).(Dok. Humas Daop 4)

KAI Daop 4 Hidupkan Sejarah Perkeretaapian Lewat Argo Merbabu dan Sastra “Di Stasiun Tawang”

SEMARANG[BahteraJateng] — KAI Daop 4 Semarang menghidupkan kembali nuansa sejarah perkeretaapian melalui dua kegiatan dalam perayaan HUT ke-81 PT Kereta Api Indonesia (Persero) pada Senin (28/9). Perayaan tersebut diwujudkan melalui penggunaan vintage livery pada KA Argo Merbabu dan pembacaan puisi “Di Stasiun Tawang”.

Vintage livery KA Argo Merbabu terinspirasi dari kereta seri ABL-9000 yang memiliki catatan dalam perkembangan layanan kereta api Indonesia pada era Djawatan Kereta Api (DKA).

Penerapan livery tersebut merupakan hasil kolaborasi KAI Daop 4 Semarang dengan Indonesian Railway Preservation Society (IRPS). Satu rangkaian Argo Merbabu dengan livery tersebut terdiri atas sembilan kereta eksekutif New Image, satu kereta makan New Image hasil modifikasi Balai Yasa Tegal, dan satu kereta pembangkit.

Rangkaian tersebut memiliki kapasitas 450 tempat duduk dan melayani perjalanan relasi Semarang Tawang-Gambir pulang pergi. Meski mengusung tampilan bernuansa masa lalu, rangkaian tetap berfungsi sebagai sarana pelayanan pelanggan.

Manager Humas KAI Daop 4 Semarang Luqman Arif mengatakan vintage livery menjadi cara KAI menghadirkan kembali salah satu cerita perjalanan panjang perkeretaapian Indonesia kepada masyarakat.

“HUT ke-81 KAI menjadi momentum untuk melihat perjalanan perusahaan sekaligus mengenang sejarah perkeretaapian yang telah menjadi bagian dari perjalanan bangsa,” ujar Luqman.

Selain melalui tampilan kereta, nuansa sejarah juga dihadirkan lewat pembacaan puisi “Di Stasiun Tawang” karya Louis-Philippe Dalembert. Kegiatan tersebut berkolaborasi dengan sastrawan sekaligus akademisi Universitas Diponegoro Triyanto Triwikromo dan Ucik Fuadhiyah, dosen Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa Universitas Negeri Semarang.

Stasiun Semarang Tawang dipilih sebagai ruang pembacaan puisi karena memiliki nilai sejarah. Stasiun tersebut dibangun pada 1914 dan hingga kini masih menjadi bagian dari aktivitas perjalanan kereta api.

Melalui puisi, Stasiun Tawang tidak hanya dipandang sebagai tempat kedatangan dan keberangkatan kereta, tetapi juga sebagai ruang yang menyimpan cerita tentang perjalanan, pertemuan, perpisahan, kota, dan perubahan zaman.

“Kereta api dan sastra memiliki satu ruang pertemuan yang sama, yaitu manusia dan perjalanannya. Stasiun menjadi tempat banyak cerita dimulai maupun berakhir,” kata Luqman.

Ia menambahkan, vintage livery dan pembacaan puisi menjadi dua cara untuk mengajak masyarakat melihat perjalanan kereta api dari sisi sejarah sekaligus budaya.

“81 tahun KAI adalah perjalanan yang panjang. Kami ingin merayakannya dengan mengingat dari mana perjalanan ini berasal, menghargai cerita yang telah menjadi bagian dari sejarah, sekaligus terus melangkah bersama masyarakat,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *