Agus Widyanto, wartawan senior, peminat kebudayaan dan falsafah Jawa.(BahteraJateng)

Konten Plasebo

Oleh Agus Widyanto

Sekarang ini banyak konten terutama dalam bentuk audio visual yang isinya seperti mengafirmasi, menjadi jawaban atas ekspetasi positif dan negatif dari berbagai kelompok. Konten yang tone, sentimen dan narasinya negatif seperti ingin memuaskan rasa dendam, amarah, kekecewaan terhadap seseorang yang dianggap mengecewakan, mencederai kepercayaan publik.

Lantas ada pula konten dengan materi sama namun tone-nya positif, memperlihatkan empati serta dukungan dan bisa jadi penuh atau setidaknya menyelipkan “pujian”. Konten seperti ini tentu dibutuhkan oleh para lovers, barisan pendukung setia sang tokoh, dan patut diduga konten ini diproduksi untuk menjaga kepercayaan dan dukungan untuk sang tokoh.

Yang pasti, judul, thumbnail (Gambar Pratinjau) dan ilustrasinya diarahkan agar mengundang klik, mendapatkan views, dan dirancang supaya sesuai dengan trend pencarian algoritmik. Kita ambil tema yang masih terus bergulir hingga kini: Ijazah Jokowi.

Tidak perlulah kita kutip polemik, pro-kontra, dan silang sengkarut soal isu yang sengaja atau tidak sengaja menjadi isu yang berkepanjangan. Ceritanya seperti sinetron yang sulit diduga kapan akan berakhir. Tema itu diambil sekedar contoh ada upaya dari entah siapa yang “berjualan dengan menyediakan konten pemuas atas kekesalan dan juga konten untuk rasa sayang dan dukungan” yang sekarang mendominasi ruang digital kita.

Semua tema yang menjadi bahan perbincangan, pasti diramaikan dengan konten “berat sebelah” yang membuang azas cover both side, prinsip jurnalistik yang mewajibkan penyajian informasi yang berimbang dan tidak memihak, dengan mempertimbangkan berbagai sudut pandang atau perspektif terkait suatu peristiwa atau isu.

Di sini kita tidak ingin latah menyebutnya sebagai “Hoax” karena ada unsur fakta yang terkandung di dalamnya. Ada realitas, minimal realitas psikologis karena ada yang menyatakannya. Ada komentar atas realitas sosiologis. Kita juga tak mau menyebutnya sebagai konten pesanan karena tidak tahu siapa yang meberi order dan apa bukti transaksinya.

Dalam konteks ini, kita lebih pas menyebutnya sebagai “Konten Plasebo”, yakni konten yang dibuat dengan tujuan untuk memuaskan hasrat orang terhadap suatu peristiwa, atas realitas sosiologis yang menjadi perhatian banyak orang.

Meminjam istilah di kedokteran, Plasebo adalah “obat palsu” yang bentuknya dibuat mirip dengan obat asli. Meski tidak mengandung obat apa pun (sering juga disebut obat kosong), plasebo bisa menimbulkan efek semu yang membuat penggunanya merasa lebih baik. Efek semu yang membuat pasien merasa lebih baik, meskipun secara klinis tidak memiliki efek terapeutik, itulah yang disebut efek plasebo.

Efek plasebo sendiri dinarasikan sebagai efek yang bekerja merangsang pikiran dengan hal positif yang akan meningkatkan mood. Karenanya efek plasebo sering dipakai untuk terapi pasien yang menderita gangguan mental. Efek plasebo dapat terjadi karena beberapa faktor yang memengaruhinya seperti pikiran dan harapan.

Dalam konteks itulah terminologi “Konten Plasebo” kita pinjam untuk menyebut konten-konten yang merangsang pikiran publik untuk meghasilkan kognisi dan respons sesuai keinginan si pembuat konten. Kalau kontennya menyerang Si A, tujuannya pasti membentuk citra buruk Si A di ruang publik. Kasar kata yang tidak benci diajak membenci; yang sudah benci diberi afirmasi, penguatan, bahwa Si A memang layak dan patut dibenci.

Model sajian konten seperti ini sejatinya bukanlah hal baru. Sebelum ada media sosial dan teknologi informasi digital, konten seperti itu muncul dalam pergunjingan lisan. Ada banyak istilah yang dipakai untuk menyebut hal itu mulai dari gosip, ngrasani, gibah, bergunjing. Itu adalah barang lama yang tampil dalam kemasan baru dengan bantuan teknologi digital saja.

Persoalan menjadi penting terkait konten plasebo sekarang ini. Dukungan teknologi informasi yang sangat maju, dan kemasan yang sangat menarik; dan diglorifikasi alias diulang-ulang menjadi isu viral; membuat banyak warga masyarakat yang terpengaruh dan percaya bahwa itu adalah sebuah kebenaran.

Persoalannya menjadi lebih serius jika dalam konteks literasi dan kemampuan mencerna dan mengolah informasinya rendah. Sajian konten yang dari prasyarat kelengkapan 5 W + 1 H hanya memenuhi unsur “What/Apa” karena ditambahi narasi dan puzzle gambar yang canggih, membuat audiens (penonton, pembaca, pendengar)-nya kehilangan daya nalar dan daya kritisnya.

Patut dikhawatirkan merebaknya “Konten Plasebo” bukan hanya memperdaya masyarakat; produksi dan penyebarannya pun patut diduga sebagai proxy sekaligus alat pembodohan masyarakat. Kalau dibuat lebih spesifik, masyarakat mana yang menjadi target proxy untuk dibodohi, jawabannya tergantung bahasa yang digunakan. Kalau memakai Bahasa Indonesia, yang menjadi target yang pengguna Bahasa Indonesia.

Yang membuat kita semua layak lebih cemas adalah kecenderungan konten di media massa yang seharusnya menjaga kredibilitasnya dengan mengedepankan kaidah-kaidah jurnalistik, ikut terseret arus karena interest atau dorongan tertentu.

Setidaknya, banyak media massa terlihat memakai judul yang mengarah pada persepsi tertentu, meski bisa saja apa yang ada di judul tak ditemukan, atau berisi tanda tanya atau pertanyaan semata. Kalau di ruang medsos, pola tersebut sekilas situasinya bisa digambarkan dengan insert atau penimpalan suara “Iiinii parah”.

Mendesak pembuatan regulasi untuk mengatur, bukan satu-satunya jalan yang harus dipilih. Pembuatan regulasi harus disertai pendidikan masyarakat, dikmas, edukasi publik atau apalah namanya untuk menyebut urgensi dilakukannya membangun kemampuan masyarakat untuk “MEMILIH dan MEMILAH” konten-konten yang menghampiri dan tersedia di depannya.

Kehadiran informasi, konten, sajian dan hiburan idealnya mejadi sesuatu yang mencerahkan, menginspirasi, memberi pengetahuan yang bermanfaat, dan menghibur; bukannya malah membuat akal budinya menjadi pendek, pemarah, pengerutu, dan berkurang dayan alar da tergangu logikanya.

(Agus Widyanto, adalah wartawan senior, peminat kebudayaan dan falsafah Jawa)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *