Buku Biografi Bati Mulyono
Peringatan 100 hari Bati Mulyono dan peluncuran buku biografi berjudul “Bati Mulyono: Target Pertama Operasi Penembakan Misterius” pada Sabtu malam (2/8) di Alam Indah, Semarang.(BahteraJateng)
|

Surat Wasiat Dalam Buku Biografi Bati Mulyono

SEMARANG [BahteraJateng] – Sebuah buku biografi berjudul “Bati Mulyono: Target Pertama Operasi Penembakan Misterius” resmi diluncurkan pada Sabtu malam (2/8) di Alam Indah, Semarang.

Peluncuran ini bertepatan dengan 100 hari wafatnya Bati Mulyono, sosok yang dikenal sebagai legenda urban Semarang sekaligus korban selamat dari Operasi Penembakan Misterius (Petrus) era Orde Baru.

Buku tersebut ditulis secara kolektif oleh sejumlah tokoh, keluarga, jurnalis, dan akademisi, antara lain Idha Budhiati (putri Bati Mulyono), Hendrar Prihadi, Sugeng Teguh Santoso, Komaruddin Hidayat, hingga wartawan senior seperti Derek Manangka dan Benny Benke.

Dalam sambutannya, Idha Budhiati menyebut buku ini sebagai bentuk penghormatan sekaligus pengingat sejarah yang selama ini dianggap tabu.

“Kami ingin publik memahami bahwa ayah saya (Bati Mulyono-red) bukan sekadar figur yang diberitakan sebagai preman, tapi korban dari kebijakan politik yang represif,” tuturnya.

Buku biografi Bati Mulyono
Buku biografi Bati Mulyono berjudul “Bati Mulyono: Target Pertama Operasi Penembakan Misterius” resmi diluncurkan pada Sabtu malam (2/8).(BahteraJateng)

Surat Wasiat Bati Mulyono

Salah satu bagian paling mencolok dari buku ini adalah surat wasiat Bati Mulyono yang ditulis pada 2024. Dalam surat tersebut, ia secara tegas menolak upaya menjadikan Soeharto sebagai Pahlawan Nasional.

Ia menyebut rezim Orde Baru sebagai pelaku kekerasan sistematis melalui Operasi Petrus, yang menurutnya telah merenggut nyawa sekitar 2.500 orang tanpa proses hukum.

“Aku tidak butuh patung atau monumen. Tapi aku ingin bangsa ini jujur pada sejarahnya sendiri,” tulis Bati Mulyono.

Ia juga mengingatkan bahwa pemberian gelar pahlawan kepada Soeharto sama dengan menginjak-injak martabat konstitusi dan menormalisasi kekerasan negara.

Biografi ini menjadi dokumen penting yang tidak hanya merekam kisah pribadi, tetapi juga menggugah kesadaran publik terhadap sejarah pelanggaran HAM di masa lalu yang belum tuntas hingga kini.

Dengan diluncurkannya buku ini dapat menjadi bahan refleksi dan mendorong negara mengakui kesalahan masa lalu. (sun)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *