Ketua Komisi Hukum dan HAM MUI Jateng Eman Sulaiman berfoto bersama dengan para tokoh masyarakat setempat di Masjid Baitussalam Ngaliyan, Semarang, Senin (17/3).(Foto Ist)

Bacalah Al-Quran Meski Masih Terbata-bata

SEMARANG[BahteraJateng] – Membaca Al-Quran merupakan ibadah yang sangat dianjurkan dalam Islam. Setiap huruf yang dibaca mendatangkan pahala besar, bahkan bagi mereka yang belum lancar dan masih terbata-bata.

Hal ini disampaikan oleh Ketua Komisi Hukum dan HAM MUI Jawa Tengah, Eman Sulaiman, dalam Peringatan Nuzulul Quran di Masjid Baitussalam, Ngaliyan, Semarang, Senin malam, (17/3).


Acara ini diawali dengan sambutan dari Ketua Takmir Masjid Baitussalam, Gendro Susilo, diikuti dengan pembacaan ayat suci Al-Quran oleh Ustaz Luthfi Fahmi Mahbubi.

Dalam ceramahnya, Eman menegaskan bahwa membaca Al-Quran tidak hanya mendatangkan pahala bagi mereka yang fasih, tetapi juga bagi mereka yang berusaha meskipun terbata-bata. Allah memberikan dua pahala bagi orang yang membaca dengan kesulitan tetapi tetap berusaha.


“Sering kali seseorang merasa malu atau enggan membaca Al-Quran karena tidak lancar. Namun, dalam Islam, kita diajarkan untuk tidak takut dalam beribadah. Allah melihat usaha kita,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa semakin sering seseorang membaca Al-Quran, semakin besar pula pahala yang diperoleh. Setiap bacaan yang diucapkan dengan niat tulus akan diterima oleh Allah dengan kasih sayang. Oleh karena itu, tidak ada alasan untuk ragu atau malu dalam belajar membaca Al-Quran.

Selain membahas pentingnya membaca Al-Quran, Eman juga menyinggung makna puasa dalam Islam. Ia menjelaskan bahwa puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi juga merupakan ujian spiritual yang menguji ketahanan mental, emosional, dan moral seseorang.

“Aspek terberat dari puasa adalah menjaga hati dan pikiran dari perbuatan buruk serta menahan diri dari berbagai keinginan duniawi,” katanya.

Nabi Muhammad SAW mengingatkan bahwa puasa juga berarti menahan diri dari perkataan kotor, dusta, dan perbuatan yang tidak baik. Selain itu, puasa mengajarkan manusia untuk lebih fokus pada nilai-nilai spiritual daripada kesenangan duniawi yang bersifat sementara.

Acara ini dihadiri oleh sejumlah tokoh masyarakat, seperti Ketua Yayasan Baitussalam Didik Suwarsono, dosen UIN Walisongo M. Saefullah dan Abdul Sattar, dosen Unissula Mohammad Agung Ridlo, serta Ketua RW IV Ngaliyan Gunoto Saparie.

Mereka turut serta dalam memperingati turunnya Al-Quran dan memperdalam pemahaman tentang ibadah dalam Islam.(sun)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *