Tradisi bernilai spiritual digelar kembali di Kabupaten Demak melalui Prosesi Abon-Abon dari Keraton Surakarta, Rabu (4/6), bertempat di Pendopo Notobratan, Kadilangu. Ponco/ Bahtera

Menjaga Warisan Wali dalam Prosesi Abon-Abon di Kadilangu

DEMAK [BahteraJateng]- Tradisi bernilai spiritual digelar kembali di Kabupaten Demak melalui Prosesi Abon-Abon dari Keraton Surakarta, Rabu (4/6), bertempat di Pendopo Notobratan, Kadilangu.

Plh. Bupati Demak Muhammad Badruddin menilai tradisi Abon-Abon bukan sekedar bentuk pelestarian budaya. Namun juga mengingatkan atas nilai-nilai spiritual dan sejarah penyebaran Islam di tanah Jawa.


“Tradisi ini adalah bagian dari penjamasan pusaka Kanjeng Sunan Kalijaga, yaitu Kotang Ontokusumo dan Keris Kyai Carubuk, menjadi puncak dari Grebeg Besar Demak,” kata Badruddin.

Dia mengharapkan, prosesi berjalan tertib, aman, dan tetap menjaga kesakralan serta nilai-nilai sejarah menyertai.
Kegiatan ini menjadi bagian awal dari rangkaian Grebeg Besar Demak. Puncaknya adalah penjamasan pusaka peninggalan Sunan Kalijaga pada Hari Raya Idul Adha.


“Kegiatan ini dapat menjadi agenda budaya berskala nasional maupun internasional, dan mendongkrak potensi wisata religi Kabupaten Demak,” kata dia.

Sesepuh Ahli Waris Sunan Kalijaga, HR Muhamad Cahyo Iman Santoso, menyampaikan pentingnya menjaga kesinambungan budaya dan spiritualitas warisan para Wali, khususnya Sunan Kalijaga.

Menurutnya, abon-abon bukan sekedar simbol, melainkan bentuk penghormatan atas perjalanan spiritual dan perjuangan dakwah Walisongo.

“Minyak dan ramuan dari abon-abon yang dibawa masyarakat akan disatukan menjadi minyak jamas pusaka. Ini adalah bentuk kebersamaan spiritual yang sarat makna,” jelasnya.

Mewakili Keraton Kasunanan Surakarta, Kanjeng Gusti Pangeran Haryo Adipati Dipokusumo menegaskan, Prosesi Abon-Abon adalah warisan budaya sarat nilai Islam. Penerapan tradisi pada dakwah Sunan Kalijaga menggunakan budaya lokal. Seperti wayang, gamelan, dan pakaian adat sebagai sarana syiar Islam.

“Melalui budaya, Sunan Kalijaga menyampaikan ajaran Islam secara halus dan meresap ke dalam kehidupan. Ini masyarakat yang menjadi kekuatan Islam Jawa,” ujarnya.

Salah satu simbol dalam prosesi ini adalah penanaman pohon kelapa mengarah ke barat sedikit ke utara. Hal ini melambangkan keterhubungan dengan kiblat dan kehidupan berkesinambungan. Keraton menekankan upacara seperti ini adalah bentuk nyata dari akulturasi budaya dan agama telah berlangsung berabad-abad. (hen)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *