| |

Ribuan Warga NU Gelar Istighosah Kemanusiaan di Demak

DEMAK [BahteraJateng]- Ribuan warga Nahdliyin memadati Jalan Raya Semarang–Demak, tepatnya di Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak, Jawa Tengah, dalam sebuah aksi doa bersama dan Shalawat akbar, Minggu (15/6).

Aksi damai ini merupakan bentuk keprihatinan dan protes atas musibah banjir rob telah puluhan tahun melanda kawasan pesisir utara Jawa tersebut.


Aksi bertajuk “Kemanusiaan di Atas Musibah Banjir Rob Sayung” ini membuat jalur Pantura lumpuh total. Jalan setiap hari sudah tergenang banjir setinggi lutut, hari itu berubah menjadi lautan manusia khusyuk melantunkan doa dan sholawat di bawah terik matahari. Mulai dari anak-anak hingga lansia, massa menunjukkan solidaritas dalam bentuk damai namun sarat makna.

Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) menyampaikan permohonan maaf atas lambannya penanganan banjir rob di wilayah tersebut. Mereka mengakui beban penderitaan masyarakat adalah konsekuensi dari kegagalan pemerintah dalam mengatasi persoalan infrastruktur pesisir secara cepat dan menyeluruh.


Menteri PUPR, Dody Hanggodo secara terbuka meminta maaf dan mengakui, permasalahan rob tak bisa selesai dalam waktu singkat karena terkendala oleh anggaran dan waktu. Namun ia memastikan, pemerintah tidak tinggal diam.

“Kami minta maaf sebesar-besarnya karena kami terlihat lamban dalam menangani. Insya Allah, kami tetap berjuang untuk menyelesaikan masalah rob yang menimpa wilayah pantai utara Jawa ini,” ujar Menteri Dody saat menemui para peserta aksi.

Permintaan maaf juga disampaikan oleh mantan Wakil Gubernur Jawa Tengah periode 2019–2024, Taj Yasin Maimoen atau yang akrab disapa Gus Yasin. Ia mengaku menyesal karena selama masa jabatannya belum mampu menangani banjir rob di Sayung secara optimal.

“Saya merasa bersalah karena selama lima tahun saya menjabat, saya belum bisa menangani. Saya mohon maaf kepada semua warga. Jangan salahkan siapa-siapa, salahkan saya,” ucap Wakil Gubernur Jawa Tengah 2024-2029.

Koordinator aksi, Mustain menegaskan, istigasah massal ini lahir dari keresahan masyarakat  merasa terabaikan selama bertahun-tahun. Ia berharap suara masyarakat bisa sampai ke telinga Presiden Prabowo Subianto dan mendorong pemerintah pusat untuk segera bertindak lebih nyata.

“Ini adalah aspirasi murni warga. Kami percaya, dengan doa dan perjuangan ini, semoga didengar para pemimpin, termasuk Presiden. Kami ingin ada solusi nyata, bukan sekadar janji,” ujar Mustain.

Sebelumnya, banjir rob terjadi hampir setiap hari di kawasan Sayung telah mengganggu aktivitas warga, merusak akses jalan utama, serta mengancam kesehatan dan keselamatan penduduk. Meski upaya penanganan seperti pembangunan tanggul dan peninggian jalan sudah dilakukan, hasilnya dinilai belum cukup mengatasi akar masalah.

Aksi damai ini menjadi sorotan nasional sebagai simbol keputusasaan. Selain itu, harapan masyarakat terhadap kehadiran negara dalam menghadirkan keadilan dan perlindungan di tengah bencana tak kunjung usai. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *