Petani Muda Blora: Sektor Pertanian Merupakan Lapangan Kerja yang Menjanjikan
BLORA[BahteraJateng] – Kemauan dan kemampuan merubah manajemen petani biasa menjadi manajemen (petani) bisnis merupakan kunci keberhasilan dalam budidaya tanaman pertanian.
Hal itu disampaikan Supiyoto asal Dusun Kalitengah, Desa Jiken, Kabupaten Blora dirumahnya pada Sabtu (20/9).
Supiyoto atau lebih dikenal dengan Pak Icha, merupakan petani muda yang cukup sukses budidaya tanaman hortikultura, terutama tanaman cabai. Bahkan, bapak dua anak yang menjabat sebagai Ketua Kelompok Tani Wijiarta ini, dijadikan tokoh petani cabai sukses dikalangan komunitas petani cabai Blora, sekaligus guru bagi yang lainnya.
“Awal menggeluti budidaya cabai ini tahun 2000, dan selama tiga tahun berikutnya gagal untuk mendapatkan hasil. Berkaca dari kegagalannya para pendahulu (petani cabai disekitar rumahnya), saya mulai mengurai satu-persatu sumber kegagalan, dan tetap mencoba menanam cabai bermodalkan pinjaman bank pemerintah,” kata Supiyoto kepada Bahterajateng.
“Pada tahun 2014, baru mulai menemukan hasil yang cukup bagus dari panen cabai. Bahkan pernah, kalau dihitung satu kali musim panen menembus angka 200 jutaan dengan modal hampir 50 jutaan,” lanjut Supiyoto.
Kepiawaiannya dalam membaca peluang pasar dan musim, dirinya dijadikan patokan dalam memulai musim tanam cabai bagi petani cabai lainnya.
“Kunci sukses itu paham ilmunya menanam cabai dan musim panen yang memiliki nilai tinggi, dan yang terpenting, gemukkan dulu tanahmu sebelum menggemukkan tanamannya. Maka untuk itu, saya menggunakan pupuk kandang dengan jumlah cukup tinggi disemua lahan pertanian yang saya miliki,” kata Supiyoto.
Dengan penggunaan pupuk kandang, tahun kedua dan ketiga, tanah akan tampak lebih baik, dan mengurangi lebih dari 50 persen penggunaan pupuk kimia.
“Dan saya yakin, lima tahun kedepan, sektor pertanian merupakan lapangan kerja yang sangat menjanjikan,” ujar Supiyoto.
Disela-sela musim tanam cabai, Supiyoto menanam tanaman palawija dan tembakau. Ini dilakukannya agar tenaga kerja yang dimilikinya masih tetap beraktivitas.
“Tenaga kerja rutin yang ikut saya, enam orang mas, tiap hari bekerja dilahan. Saya selalu mengusahakan mereka ada pekerjaan tiap hari. Tanaman tembakau ini, selain menambah penghasilan, juga untuk pekerjaan para tenaga. Alhamdulillah, panen tembakau saya masuk grade B1, untuk berikutnya, semoga bisa masuk SP (spesial). Kalau harga B1, Rp. 48.000 per kilogram, kalau kelas SP, bisa mencapai Rp. 50.000 lebih per kilogramnya,” pungkas Supiyoto.(sun)

