Novel “Bau” Angkat Sejarah Lokal Kendal dari Perspektif Baru
KENDAL[BahteraJateng] – Diskusi buku berjudul “Jejak Diplomasi Bahurekso dalam Novel Bau karya Gunoto Saparie” digelar di Teras Budaya Prof. Mudjahirin Thohir, Jalan Sabrang Lor, Kutoharjo, Kaliwungu pada Kamis malam (18/9).
Acara menghadirkan penulis novel Gunoto Saparie, sejarawan dan Ketua Lesbumi Kendal Muchlisin, serta akademisi Universitas Diponegoro Sukarjo Waluyo, dengan moderator Lukluk Anjaina.

Gunoto Saparie, yang juga Ketua Umum Satupena Jawa Tengah, menjelaskan bahwa novel Bau lahir dari keprihatinannya terhadap kelangkaan tema sejarah lokal dalam karya fiksi.
Menurutnya, sebagian besar novel sejarah masih berkisar pada perang kemerdekaan dan tokoh nasional.

“Saya ingin menyingkap halaman sejarah Kendal, tentang panglima setia sekaligus bupati pertama yang berada dalam pusaran kekuasaan Mataram dan Belanda,” ujarnya.
Sejarawan Muchlisin menilai novel ini menawarkan perspektif berbeda dalam memandang Bahurekso. Alih-alih menonjolkan kesaktian dan karisma, Gunoto memilih menghadirkan sudut pandang kolonial.
“Ini dekonstruksi sejarah yang berani. Pertanyaannya, apakah masyarakat Kendal bisa menerima tafsir baru ini?” katanya.
Sementara itu, Sukarjo Waluyo menegaskan bahwa Bau menandai hadirnya suara alternatif dalam sastra sejarah. Ia menyoroti bahwa novel ini pernah masuk nominasi Prasidatama Balai Bahasa Jawa Tengah.
“Gunoto menampilkan Bahurekso bukan hanya sebagai panglima, tetapi juga manusia yang bergulat dengan jati diri dan pengabdian,” jelasnya.
Ia menambahkan, karya ini berhasil menghidupkan narasi pesisir Kendal yang kerap terpinggirkan dari sejarah arus utama.
Diskusi dihadiri sejumlah tokoh budaya seperti Prof. Mudjahirin Thohir, Bahrul Ulum, Ibnu Fikri, Faisal Mimbar, serta penyair Achmad Subchan Darussalam dan Setia Naka Andrian. Sejumlah penyair muda juga turut membacakan puisi, menambah nuansa artistik acara.
Gunoto menutup diskusi dengan refleksi bahwa sejarah tidak hanya milik tokoh besar, tetapi juga denyut kecil di pesisir yang layak dihargai.

