MPWK Unissula
Para peserta dan narasumber berfoto bersama pada akhir kegiatan Pelatihan dan Penguatan Kompetensi Penulisan Puisi Esai di Ruang Kuliah Lantai 3 Program Magister Perencanaan Wilayah dan Kota Universitas Islam Sultan Agung Semarang, Sabtu (22/11).(Dok)
|

Puisi Esai Ajak Kita Menulis dengan Dua Mata

SEMARANG[BahteraJateng] – Genre puisi esai mengajak penulis melihat dunia dengan “dua mata”: satu mata untuk menyaksikan realitas, satu mata untuk menengok ke dalam diri.

Pesan itu disampaikan Ketua Umum Satupena Pusat Denny JA dalam sambutan tertulis yang dibacakan Ketua Satupena Jawa Tengah Gunoto Saparie pada Pelatihan dan Penguatan Kompetensi Penulisan Puisi Esai tentang Perencanaan Wilayah dan Kota pada Sabtu (22/11), di Ruang Kuliah Lantai 3 Program Planologi Unissula, Semarang.

Kegiatan yang digelar Program Magister Perencanaan Wilayah dan Kota (MPWK) Universitas Sultan Agung (Unissula) bekerja sama dengan Satupena Jawa Tengah itu dibuka oleh Dekan Fakultas Teknik Unissula, Dr. Abdul Rokhim.

Dalam sambutannya, Denny menekankan bahwa puisi esai menyatukan fakta dan empati sehingga setiap bait dapat menjadi catatan kecil yang jujur tentang zaman. Ia mendorong peserta berani menulis pengalaman, luka, harapan, dan keresahan sosial.

Pemateri Mohammad Agung Ridlo memaparkan kekuatan puisi esai sebagai medium yang memadukan narasi argumentatif dan bahasa puitis.

Menurutnya, dalam konteks perkotaan, puisi esai efektif menyuarakan kritik sosial, isu kebijakan, serta dinamika masyarakat urban.

“Sejumlah isu yang dapat diangkat, seperti konflik agraria, hilangnya ruang publik, ketimpangan ekonomi, hingga dampak urbanisasi terhadap lingkungan dan budaya lokal,” ujarnya.

Gunoto Saparie turut memberikan contoh kasus planologi di Jawa Tengah yang potensial menjadi bahan puisi esai. Di antaranya revitalisasi Kota Lama Semarang yang memuat persoalan penataan kawasan, relokasi pedagang, dan tarik-menarik antara pelestarian budaya dengan kebutuhan komersialisasi.

“Contoh lain adalah penataan Banjir Kanal Timur dan Barat yang menyangkut kebutuhan teknis penanggulangan banjir serta dampak sosial relokasi warga bantaran sungai,” katanya.

Sebelumnya, Gunoto juga menguraikan ciri khas puisi esai, seperti alur cerita panjang, eksplorasi konflik sosial, bahasa komunikatif, dan penggunaan catatan kaki.

Pelatihan yang dipandu Tirta Nursari itu turut menampilkan pembacaan puisi oleh sejumlah peserta dan pemutaran video puisi esai dari Satupena Pusat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *