Rizqi Ari Slamet Fauzi, Mahasiswa UNDIP. {Foto Ist]
Rizqi Ari Slamet Fauzi, Mahasiswa UNDIP. {Foto Ist]
|

Sosialisasi Pengolahan Limbah Batok Kelapa Menjadi Bahan Bakar Ramah Lingkungan

Oleh : Rizqi Ari Slamet Fauzi

MAHASISWA Kuliah Kerja Nyata (KKNT) Universitas Diponegoro Semarang (UNDIP) dari kelompok 37 telah sukses menggelar kegiatan sosialisasi penggunaan limbah batok kelapa menjadi briket di Lapak UMKM Desa/Kecamatan Mranggen, Kabupaten Demak dengan tema “Sosialisasi Pengolahan Limbah Batok Kelapa Menjadi Bahan Bakar Ramah Lingkungan oleh Kelompok KKN Tematik 34”, pada hari Senin(2/2).


Kegiatan ini dilaksanakan oleh Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKNT) Tim 37 Universitas Diponegoro (Undip) sebagai bentuk edukasi dan pemberdayaan masyarakat, khususnya pelaku UMKM kelapa parut, dalam memanfaatkan limbah batok kelapa menjadi bahan bakar ramah lingkungan yang memiliki nilai guna dan nilai ekonomi. Kegiatan sosialisasi dilaksanakan pada pukul 10.00 WIB hingga 11.00 WIB dan diikuti oleh pelaku UMKM kelapa parut di Desa Mranggen

Masalah limbah batok kelapa di Indonesia merupakan masalah yang cukup serius. Setiap tahunnya, Indonesia menghasilkan kelapa sebanyak 3 juta ton. Dari hasil tersebut, terdapat limbah tempurung kelapa sebanyak sekitar 360 ribu ton per tahun. Kurangnya sarana pengelolaan limbah tempurung kelapa serta rendahnya kesadaran masyarakat tentang cara mengelola limbah tersebut, maka diperlukan kegiatan sosialisasi mengenai cara memanfaatkan limbah tempurung kelapa sebagai bahan baku membuat briket. Kegiatan ini bertujuan untuk memanfaatkan limbah tempurung kelapa di Desa Mranggen, meningkatkan nilai jual tempurung kelapa, serta membuka peluang usaha baru bagi masyarakat Desa Dungkek. Masyarakat Desa Dungkek dapat memproduksi briket sendiri.

Fauzi sebagai pemateri menyebutkan bahwa keunggulan briket ini adalah bahan bakunya mudah diperoleh di sekitar Desa Mranggen, menghasilkan panas yang tinggi, tidak mengeluarkan asap dan abu yang minim saat digunakan, memiliki aroma khas, biaya produksinya relatif murah, serta memancarkan panas dalam waktu yang lama.

Limbah tempurung kelapa dapat diolah menjadi briket dengan langkah-langkah berikut. Pertama, limbah tempurung kelapa dijemur di bawah sinar matahari agar kadar airnya berkurang. Tujuannya adalah memudahkan proses pembakaran. Kedua, limbah itu dibakar sampai menjadi arang untuk proses mengkarbonisasi dan memudahkan proses pemecahan. Ketiga, arang dari tempurung kelapa dihancurkan menjadi bubuk dengan cara ditumbuk. Keempat, bubuk arang disaring agar mendapatkan butiran yang lebih halus. Kelima, arang yang sudah disiapkan dicampur dengan tepung tapioka dalam jumlah 15% dari total bahan, kemudian diaduk sampai merata, tujuannya adalah untuk menjadi bahan pengikat. Keenam, adonan briket dicetak dengan menggunakan pipa, lalu dipadatkan agar menjadi lebih kuat saat proses pengeringan. Langkah terakhirnya, adonan briket dijemur di bawah sinar matahari atau digunakan oven bila diperlukan.

Sebagai bentuk keberlanjutan program, kegiatan ini diharapkan dapat mendorong pelaku UMKM untuk secara mandiri mengolah limbah batok kelapa yang dihasilkan dalam kegiatan usaha sehari-hari menjadi bahan bakar ramah lingkungan. Selain itu, hasil sosialisasi ini diharapkan dapat menjadi dasar pengembangan program lanjutan, baik berupa pelatihan praktik maupun kerja sama dengan pihak terkait guna meningkatkan nilai tambah limbah batok kelapa secara berkelanjutan.

*Rizqi Ari Slamet Fauzi adalah Mahasiswa UNDIP.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *