Kadar Lusman Dorong Evaluasi Penanganan Genangan di Simpang Lima
SEMARANG[BahteraJateng] – Ketua DPRD Kota Semarang, Kadar Lusman, mendorong Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap penanganan genangan air di kawasan Simpang Lima, menyusul kejadian banjir saat event HUT ke-479 Kota Semarang baru-baru ini.
Dorongan tersebut muncul setelah Wali Kota Semarang menyampaikan evaluasi dalam rapat paripurna, termasuk permintaan maaf kepada masyarakat atas terganggunya kegiatan Semarang Night Carnival 2026 akibat genangan air.

Menurut Kadar Lusman, banjir yang terjadi bukan semata karena curah hujan tinggi, tetapi dipicu adanya sumbatan pada saluran drainase, khususnya aliran air dari kawasan atas seperti Candi dan Sultan Agung menuju Simpang Lima.
“Air seharusnya mengalir melalui saluran, tetapi karena ada sumbatan, akhirnya meluap ke jalan dan menggenangi kawasan Simpang Lima,” ujar Pilus sapaan akrabnya kepada BahteraJateng, Senin (4/5).
Ia menjelaskan, kondisi tersebut menyebabkan air tidak tertampung dengan baik sehingga meluber ke badan jalan, bahkan hingga mengganggu jalannya acara besar seperti Semarang Night Carnival yang akhirnya harus dihentikan karena cuaca buruk.
Politikus PDI Perjuangan tersebut menilai, langkah evaluasi yang disampaikan Pemkot perlu ditindaklanjuti secara konkret, termasuk rencana pembenahan total saluran drainase di kawasan tersebut.
Ia juga mengingatkan bahwa perbaikan berpotensi berdampak terhadap aktivitas lalu lintas dalam waktu dekat.
“Dalam waktu dekat mungkin pengguna jalan akan terganggu karena akan ada perbaikan saluran menuju Simpang Lima. Ini bagian dari upaya mencari solusi,” katanya.
Lebih lanjut, ia mengkritisi metode pengecekan saluran yang selama ini digunakan, seperti uji aliran dengan bola, yang dinilai belum mampu mendeteksi sumbatan secara menyeluruh.
“Kalau hanya pakai bola, belum tentu sumbatan terdeteksi. Bisa saja ada celah kecil yang membuat bola tetap lewat, padahal di dalamnya ada hambatan,” jelasnya.
Karena itu, ia mendorong agar dilakukan langkah lebih komprehensif, termasuk pembongkaran saluran secara terukur untuk mengetahui kondisi sebenarnya di dalam drainase.
“Kalau perlu dibongkar, tapi tentu tidak asal bongkar. Harus tepat sasaran agar ditemukan titik persoalan yang sebenarnya,” tegasnya.
Ia menambahkan, persoalan banjir dan rob masih menjadi pekerjaan rumah utama Kota Semarang. Namun, untuk kasus di Simpang Lima, ia menegaskan bahwa genangan lebih disebabkan oleh air hujan yang tidak tertampung optimal, bukan limpasan sungai.
“Ini murni karena air hujan yang tidak tertampung dengan baik, sehingga mencari jalannya sendiri,” pungkasnya.

