“Rojo Tikus”, Satire Kekuasaan dalam Pakeliran Multidimensi Teater Lingkar
DEMAK[Bahtera Jateng] — Kelompok Teater Lingkar menghadirkan pertunjukan bertajuk Rojo Tikus, sebuah karya pakeliran multidimensi yang memadukan teater modern dengan tradisi pedalangan Jawa. Pementasan yang digelar gratis untuk masyarakat itu berlangsung di Stadion Pancasila pada Sabtu malam (9/5)
Pertunjukan tersebut menarik perhatian publik karena melibatkan budayawan nasional Sujiwo Tejo dalam proses kreatif sekaligus penampilannya di atas panggung. Sementara pementasan disutradarai dan didalangi oleh Sindhunata Gesit Widiharto, yang memperkenalkan konsep “sutradalang” dalam garapan ini.

Sujiwo Tejo membuka pertunjukan dengan membawakan lagu “Jancuk”, sebuah penampilan khas bernuansa satire yang langsung disambut riuh penonton. Atmosfer panggung semakin hidup melalui tata cahaya megah, perpaduan musik gamelan dengan instrumen modern, serta koreografi para penari yang mengisi hampir seluruh ruang pertunjukan.
Sindhunata menjelaskan, Rojo Tikus dirancang sebagai bentuk pakeliran multidimensi yang menggabungkan berbagai cabang seni dalam satu kesatuan dramaturgi. Pedalangan ditempatkan sebagai poros utama yang kemudian diperkaya unsur teater, tari, visual film melalui layar multimedia, serta eksplorasi musik pentatonis gamelan dan diatonis Barat.
“Multidimensi di sini ada dimensi pedalangan sebagai porosnya yang mendalami teater. Di dalamnya juga ada kolaborasi multidisiplin seni, ada tari, film lewat layar, lalu musik perpaduan pentatonis gamelan dan diatonis Barat yang kami mix menjadi satu kesatuan,” kata Sindhunata seusai pementasan.
Menurut dia, konsep “sutradalang” menjadi pembeda utama dalam pertunjukan tersebut. Seorang sutradalang, kata dia, tidak hanya mengarahkan pertunjukan dari belakang panggung, melainkan juga terlibat langsung sebagai dalang bersama aktor dan pemusik.
Berasal dari keluarga teater dan tumbuh dalam tradisi pedalangan, Sindhunata mengaku ingin menghadirkan pertunjukan wayang yang lebih realistis serta dekat dengan generasi muda tanpa meninggalkan akar budayanya.
“Wayang itu sebenarnya luwes. Yang katanya kuno dan membosankan, ternyata bisa dikolaborasikan dengan teater menjadi lebih asyik dan tidak kaku,” ujarnya.
Melalui lakon Rojo Tikus, Teater Lingkar mengangkat fenomena sosial tentang “tikus-tikus berdasi” yang identik dengan penyalahgunaan kekuasaan dan kerakusan elite. Kritik sosial tersebut disampaikan melalui dialog satir, humor, dan simbol-simbol khas pertunjukan rakyat.
“Seniman biasanya mengkritik lewat karya, bukan bakar ban di jalan. Lewat dialog satir dan sarkas yang tipis tapi mengena,” kata Sindhunata.
Ia menggambarkan tokoh “Rojo Tikus” sebagai figur yang sebenarnya ingin kembali ke jalan benar, tetapi terus terjebak dalam lingkar kekuasaan dan pengaruh lingkungan sekitarnya.
“Orde tikus itu jargonnya harus berbuncit, berdecit, dan berduit. Orde tikus itu subur, rakyat tidak. Rakyat dipajak,” ujarnya.
Meski sarat kritik sosial, pertunjukan tetap dikemas ringan melalui unsur komedi, tradisi, dan nilai budaya Jawa yang kuat. Ribuan penonton tampak memadati area stadion dan bertahan menyaksikan pementasan hingga akhir acara.(day)

