Agus Widyanto
Agus Widyanto.(Dok. BahteraJateng)

Pemimpin Baik dari Kacamata Serat Wulangreh

Oleh: Agus Widyanto

Pemimpin yang baik merupakan sosok yang selalu diharapkan kehadirannya. Sayangnya, mendapatkan pemimpin disebut baik dalam kehidupannya yang nyata ibarat mencari jarum di tumpukan jerami. Pemimpin yang awalnya terlihat baik, berubah setelah sang penerima amanat menjalankan tugas kepemimpinannya.

Wajah dan perilaku yang terlihat baik tidak selalu pararel dengan kepemimpinan (leadership)-nya. Kita seringkali kecewa dengan pemimpin yang kita pilih. Bukan saja karena janjinya tak ditepati atau karena ekspektasi yang terlalu tinggi, tapi karena perubahan persepsi baru yang seringkali terjadi setelah melihat realitas sepak terjangnya dalam menjalankan tugasnya.

Kecewa terhadap pemimpin dan wakil yang dipilih sepertinya menjadi fenomena yang menggejala. Meski merasa “dikadalin”, para pemilih dan pendukung yang kecewa banyak yang memilih pergi dalam diam; memilih jalan sunyi. Jarang sekali pendukung yang kecewa kukuh berjuang mendorong perbaikan performa tokoh yang dijagokannya. Sikap “mutung” (patah hati sehingga tidak mau melanjutkan hubungan) lebih banyak dipilih dengan aneka alasan.

Memang, ada juga pendukung dan pemilih kecewa yang memilih cara frontal. Mungkin karena gondoknya sudah seleher mereka memilih jalan pintas (shortcut) yang terlihat lebih banyak bikin gaduh katimbang mendorong terjadinya perbaikan kebijakan dan performa. Buntutnya, perlawanan secara frontal (dan terkadang sampai brutal) oleh publik seringkali dipandang sinis dan distigma sebagai bagian dari “Barisan Sakit Hati”. Yang lebih sinis menyebutnya “Jadi lawan karena tidak kebagian”.

Memilih pemimpin yang baik memang tidak semudah membalik tangan. Apalagi di era digital yang memudahkan mereka yang memiliki sumber daya bisa dengan singkat membangun citra dalam sekejap, meraih banyak penggemar, bahkan meraup dukungan besar karena aksi di ruang digital. Banyak, make up, penyesatan, bahkan tipuan yang bisa dilakukan dalam kontestasi politik sehingga masyarakat terhanyut dan terbawa masuk sehingga “salah pilih”.

Seorang pemimpin di Jawa yang bertahta sebagai raja di kasunanan Surakarta pada rentang waktu 29 September 1788 sampai dengan 2 Oktober 1820, Paku Buwono IV, membuat catatan yang kita kenal sebagai “Serat Wulangreh”. Isinya, tentang kriteria pemimpin yang baik. Wulangreh yang bermakna ajaran untuk mencapai sesuatu, menyebut ada enam sifat yang tidak boleh dimiliki oleh seorang pemimpin. Ke-6 sifat tersebut meliputi “1. Lonyo, 2. Lemer, 3. Genjah, 4. Angrong Pasanakan, 5. Nyumur Gumiling, 6. Ambuntut Arit.”

Kosa kata Jawa “Lonyo” artinya pemimpin yang ragu-ragu dalam mengambil keputusan, tidak mempunyai ketetapan hati, dan mudah goyah. Sedangkan “Lemer” menggambarkan sifat pemimpin yang selalu iri hati dan mudah tenggelam pada keinginan-keinginan yang menuju pemborosan. Adapun “Genjah” artinya tidak mantap dalam pekerjaan dan jabatan, tidak mau belajar tentang apa yang menjadi tanggung jawabnya, mudah bosan dan jika menghadapi kesulitan sedikit saja mengubah pola.

Sifat “Anggrong Pasanakan” dipakai untuk menyebut pemimpin yang suka menganggu istri saudara atau kawan dan berselingkuh dengannya. Pemimpin yang suka ngablak, bicara tanpa kendali, tidak bisa memilah mana yang perlu disampaikan mana yang tidak, dalam Wulangreh disebut sebagai “Nyumur Gumuling”.

Watak “Ambuntut Arit” sebagai tanda pemimpin yang tidak memiliki sikap ksatria. Tidak memiliki kebesaran hati, tidak mau menerima kritik, tidak mau mengakui kesalahan, tidak sportif, dan suka melempar tanggung jawab atau mencari kambing hitam jika melakukan kesalahan.

Selain enam sifat yang harus dihindari, Paku Buwono IV dalam Wulangreh menambahkan 3 sifat berlebihan yang harus dihindari, yakni: Adigang, Adigung, Adiguna. “Adigang” Adalah Gambaran sifat kijang yang membanggakan kecepatan larinya; “Adigung” ibarat sifat gajah yang membanggakan kebesaran dan ketinggian tubuhnya; “Adiguna” dianalogikan sebagai sifat ular yang merasa hebat karena bisanya yang mematikan.

Dalam keseharian, pemimpin berperilaku adigang, adigung, adiguna, dalam Khazanah Jawa biasa disebut suka menyombongkan “Kasudiran” (mengandalkan kemampuan oleh kekuatan fisiknya dan kepandaian berkelahi atau berperang); “Kawiryan” (senang memperlihatkan kehebatan serta kebesaran atau keterkenalan nama keluarga atau orang tuanya); dan “kapinteran” (memamerkan kepandaian, pengetahuan, keahliannya).

Bagaimana pemimpin kita sekarang? Biarlah rasa hati kita semua yang menjawabnya.

(Agus Widyanto adalah wartawan senior, peminat kebudayaan dan falsafah Jawa)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *