Ketua Umum Lembaga Kebudayaan Betawi, Beky Murda ni (tengah), Dr Daisy (kanan) dan Lahyanto (kiri)
| |

Budaya Betawi Potensial Jadi Ikon Diplomasi Budaya

JAKARTA[BahteraJateng] – Budaya Betawi potensial menjadi ikon diplomasi budaya sebagai representasi Jakarta di ruang global maupun sebagai ikon Indonesia. Keberadaan Kawasan Perkampungan Budaya Betawi (PBB) seluas 289 hektar yang ada di Kelurahan Srengseng Sawah Kecamatan Jagakarsa Kota Administratif Jakarta Selatan menjadi pilar penguat potensi Budaya Betawi sebagai Ikon Jakarta dan Ikon Indonesia.

Demikian benang merah perenungan berbagai acara memperingati Milad (Ulang Tahun) ke-24 Perkampungan Budaya Betawi yang secara resmi kehadiran pertamanya terjadi pada tanggal 15 September 2000. Benang merah tersebut dikuatkan dalam sarasehan bertajuk “Benteng Utama Budaya Betawi Siap Mendukung Jakarta sebagai Kota Global” yang digelar di Gedung Serba Guna Mh Thamrin yang ada di Kawasan PBB, Sabtu (14/09/2024).


Ketua Umum Lembaga Kebudayaan Betawi (LKB), Beky Mardani, dalam sarasehan tersebut mengingatkan perlunya memanfaatkan teknologi terkini khususnya kecerdasan buatan dan media digital dalam upaya pelestarian budaya Betawi tanpa menghilangkan nilai-nilai budayanya. “Dalam pelaksanaan sosialisasi, pengemasannya harus mengikuti trend, mengikuti perkembangan teknologi mutakhir yang sudah menjadi bagian keseharian generasi masa kini. Tapi jangan sampai kehilangan esensi nilai-nilainya,” ujar Beky.

Mengenai keberadaan Kampung Betawi, Beky yang juga seorang jurnalis televisi ini menyebutkan ada empat fungsi yang harus diperankan, yaitu untuk fungsi pelestarian, pembinaan, pemanfaatan dan pengembangan budaya Betawi. Yang pasti, keberadaannya harus disyukuri, tapi harus terus dibenahi menyertakan pakar dari perguruan tinggi yang ada di sekitar PBB, seperti Universitas Pancasila, ISTN (Institut Sains dan Teknologi Nasional), IISIP (Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik), Universitas Tama Jagakarsa, IBI K 57 (Institut Bisnis dan Informatika Kosgoro 1957) dan Universitas Indraprasta PGRI atau lebih dikenal dengan sebutan Unindra.

Dia berharap Perkampungan Budaya Betawi di Srengseng Sawah bisa menjadi tempat study budaya bagi mahasiswa terutama yang berkampus Jagakarsa Jakarta Selatan. “Di Perkampungan Budaya Betawi Srengseng Sawah bisa dilihat prototip rumah Betawi pinggir, tengah dan pesisir. Semuanya lengkap,” tegas dia.

Pada sarasehan yang dimoderatori wartawan senior, Lahyanto Nadie, juga dipaparkan hasil kajian ISTN tentang Budaya Betawi. Dosen Arsitektur Lanskap ISTN, Dr. Daisy Radnawati, S.T., M.Si. Daisy membeberkan terjadinya disrupsi perkembangan budaya yang tidak hanya dialami oleh Budaya Betawi tapi juga dialami seluruh budaya tradisional di seluruh dunia. Dia mencontohkan bagaimana membawa batik Betawi ke dalam desain berbagai perabotan rumah melalui modifikasi tanpa melanggar nilai budaya dan simbol sakral di dalamnya.

Yang pasti, Daisy menyebut bahwa disrupsi adalah kondisi tersebut tidak mungkin dihindari. Hal itu menjadi tantangan semua pihak, utamanya para pemangku kepentingan, bagaimana menjaga keseimbangan modernisasi dan menjaga tradisi. “Saya dibesarkan di Betawi, lahir dan besar di wilayah Betawi. Ada beberapa tradisi yang mulai menghilang,” kenangnya.

Diennaryati Tjokrosuprihatono, cucu Pahlawan Nasional Betawi MH Thamrin

Cucu Pahlawan Betawi Moh Husnie Thamrin yang hadir pada sarasehan tersebut, juga menyumbangkan sarannya. Diennaryati Tjokrosuprihatono, cucu dari pahlawan Betawi MH Thamrin yang pernah menjabat Dubes RI di Equador 2016 – 2020 ini mengungkapkan pengalamannya bahwa menu kuliner Betawi yang disediakannya pada jamuan resmi, ternyata mendapat apresiasi yang baik dari masyarakat internasional.

Melestarikan Budaya Betawi harus diwujudkan dengan melaksanakan, tidak cukup hanya mewacanakan. Dienny yang kini menjadi Sekretaris Universitas Pancasila Jakarta mengaku sudah mempraktikkan di kantor kedutaan Indonesia di Ekuador. Responnya cukup baik. “Kami biasa menyelenggarakan ‘dining’ dengan menampilkan berbagai masakan Betawi,” ungkapnya.

Inspirasi membawa kuliner Betawi sebagai jamuan resmi diperolehnya saat menyaksikan yang terjadi di Hong Kong. “Saya terkesan saat ke Hong Kong menyaksikan bagaimana mereka memperkenalkan budaya China kepada dunia di era modern ini. Diplomasi budaya seperti itu seharusnya kita lakukan,” kata Dieny yang menyelesaikan pendidikan strata satu dan strata duanya di Fakultas Psikologi UI.

Karena itulah kuliner Betawi yang ada di Kawasan Perkampungan Budaya Betawi Srengseng Sawah perlu diberdayakan dan perlu dikembangkan untuk standar jamuan resmi. Dalam Kawasan Perkampungan Budaya Betawi setiap hari dapat dijumpai aktivitas keseharian masyarakat Betawi seperti Latihan Pukul (Pencak Silat), Ngederes, Aqiqah, Injek Tanah, Ngarak Penganten Sunat, memancing, budidaya ikan tawar, berkebun, berdagang. Juga ada pedagang makanan khas Betawi seperti Sayur Asem, Sayur Lodeh, Soto Mie, Soto Betawi, Ikan Pecak, Gabus Pucung, Gado-Gado, Laksa, Toge Rebus, Kerak Telor, Bir Pletok, Dodol, Tape Uli, Geplak, Wajik, dan lain-lain. (sun)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *