Diskusi publik AJI Kota Semarang
Sesi diskusi publik bertajuk 'Menilik Praktik Energi Hijau di Balik Krisis Ekologis, Greenwahsing atau Transisi Energi Palsu'., yang digelar AJI Kota Semarang, Sabtu (16/5). (Dok. AJI)

Anggaran MBG Disebut Bisa untuk Bangun Pembangkit Listrik Bersih Gantikan PLTU

SEMARANG[BahteraJateng] – Pengoperasian Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) berbahan bakar batu bara di Indonesia terus mendapatkan sorotan karena dampak lingkungannya yang disebut sangat besar. Pemerintah pun didorong untuk segera beralih ke sumber energi bersih dan terbarukan.

Anggaran program nasional seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) sebesar Rp 335 triliun, disebut dapat membiayai pembangunan kapasitas energi terbarukan hingga puluhan gigawatt.


Juru Kampanye Energi Fossil Trend Asia Novita Indri Pratiwi menyampaikan bahwa terdapat setidaknya 20 PLTU batu bara yang harus segera dipensiunkan. Pihaknya mencatat, sebanyak 156.000 kematian dini turut dipicu oleh polusi udara. Sementara itu biaya ekonomi dan kerugian kesehatan mencapai Rp 1.813 triliun.

“Setiap tahunnya, terdapat 9.010 kematian dini. Rp 100,5 triliun per tahun, untuk biaya ekonomi dan kerugian kesehatan. Masyarakat juga mengalami berkurang pendapatan Rp 48,4 triliun per tahun,” ungkapnya pada sesi diskusi publik, bertajuk ‘Menilik Praktik Energi Hijau di Balik Krisis Ekologis, Greenwahsing atau Transisi Energi Palsu’., yang digelar Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Semarang pada Sabtu (16/5).

Jawa dinilai menjadi kunci persoalan energi nasional, karena mayoritas PLTU besar berada di pulau ini, namun hingga kini menurutnya belum ada langkah signifikan untuk menutup pembangkit batu bara tersebut.

Sejumlah daerah di Jawa Tengah seperti Jepara, Rembang, dan Cilacap disebut masuk dalam daftar kawasan dengan PLTU yang memiliki tingkat polusi tinggi.

Novi sendiri menegaskan, selama ini listrik dari batu bara selalu dipromosikan sebagai energi murah, namun biaya kerusakan yang ditanggung masyarakat tidak pernah benar-benar dihitung.

“Murah, murah, murah. Tapi kerusakan di hulunya, transportasinya, sampai pembakaran di hilir tidak pernah dimasukkan dalam hitungan ekonomi,” sebutnya.

Di sisi lain, energi terbarukan dianggap memiliki peluang besar untuk dikembangkan di Indonesia. Pembangunan pembangkit listrik tenaga angin berkapasitas besar memang membutuhkan biaya tinggi, mulai miliaran dolar AS, terlebih jika dibangun di kawasan lepas pantai.

Namun, investasi tersebut dinilai jauh lebih murah dibanding akumulasi kerusakan sosial, kesehatan, dan lingkungan yang ditimbulkan energi fosil selama puluhan tahun.

Bahkan, anggaran program nasional seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) sebesar Rp 335 triliun, disebut dapat membiayai pembangunan kapasitas energi terbarukan hingga puluhan gigawatt, tergantung jenis teknologi yang digunakan.

“Pertanyaan besarnya kini bukan lagi apakah Indonesia memiliki potensi energi terbarukan. Melainkan apakah negara benar-benar siap meninggalkan ketergantungan terhadap batu bara dan menanggung konsekuensi perubahan, menuju energi yang lebih bersih dan berkelanjutan,” tandasnya.(day)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *