APBN di Jateng Surplus Rp3,18 T
SEMARANG [BahteraJateng]- Direktorat Jendeal Perbendarahaan Wilayah Jawa Tengah mencatat kinerja APBN di provinsi ini selama semester 1 2025 mengalami surplus sebesar Rp3,18 triliun.
Kepala Bidang PPA II, Kanwil Ditjen Perbendaharaan Provinsi Jawa Tengah, Mahfud mengatakan,
pendapatan negara mencapai Rp53,4 Triliun atau 41,21 persen dari target didorong oleh kinerja kuat sektor industri pengolahan menjadi penopang utama penerimaan pajak.

“Selain itu, kenaikan harga referensi CPO turut meningkatkan penerimaan Bea Keluar, sementara PNBP mencatatkan pertumbuhan signifikan berkat optimalisasi layanan umum,” kata dia.
Dia melanjutkan, capaian ini mencerminkan ketahanan dan daya dorong APBN terhadap aktivitas ekonomi di Jawa Tengah. Sinergi lintas unit terus diperkuat, mulai dari reformasi perpajakan, pengawasan rokok ilegal hingga perluasan akses pembiayaan bagi UMKM, sebagai wujud nyata kehadiran negara untuk seluruh masyarakat Jawa Tengah.
“Perekonomian Jawa Tengah pada triwulan I 2025 tumbuh stabil sebesar 4,96 persen (yoy), sejajar dengan triwulan sebelumnya dan lebih tinggi dari nasional,” kata dia.
Kontribusi Jawa Tengah, kata dia, terhadap perekonomian Pulau Jawa tercatat sebagai terbesar keempat, yaitu sebesar 14,49 persen. Pada Juni 2025, inflasi di Jawa Tengah tercatat sebesar 2,20 persen (yoy), lebih tinggi dari Mei 2025 sebesar 1,66 persen.
Berdasarkan data, inflasi tertinggi terjadi di Kabupaten Rembang (2,67 persen) dan terendah di Kabupaten Wonosobo (1,92 persen). Nilai Tukar Petani (NTP) juga menunjukkan perbaikan, naik dari 111,67 pada Mei menjadi 113,72 di Juni 2025, didorong oleh peningkatan harga pada subsektor hortikultura, tanaman pangan, dan perkebunan rakyat. Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) di bulan Juni 2025 berada di angka 109,9, masih dalam zona optimis meskipun mengalami penurunan
dibandingkan Mei (120,8).
Sementara itu, Nilai Tukar Nelayan (NTN) naik dari 98,96 menjadi 99,07 pada bulan yang sama, seiring naiknya harga tangkapan laut seperti kembung, rajungan, teri, dan tenggiri.
Seluruh capaian indikator tersebut tidak lepas dari peran APBN hadir melalui berbagai program belanja negara, transfer ke daerah dan perlindungan sosial untuk mendorong pertumbuhan dan pemerataan ekonomi di Jawa Tengah.
Di sisi belanja, realisasi Belanja Negara sebesar Rp50,22 Triliun atau 46,82% menunjukkan upaya berkelanjutan pemerintah dalam menjaga kualitas belanja yang tepat sasaran. Meskipun terdapat dinamika efisiensi dan transisi kebijakan, penyaluran TKD telah realisasi Rp36,10 Triliun, tumbuh 1,12 persen (yoy) sehingga menunjukkan tren positif dalam mendukung pembangunan daerah dan pelayanan publik.
“Hal ini menjadi bukti bahwa APBN hadir sebagai instrumen adaptif dan responsif dalam mendorong pertumbuhan ekonomi inklusif dan berkelanjutan di Jawa Tengah,” kata dia.
Kinerja APBD Jawa Tengah menunjukkan fondasi fiskal solid dengan capaian pendapatan daerah mencapai Rp53,92 Triliun atau 47,63 persen dari target, mencerminkan pengelolaan sehat di tengah dinamika ekonomi. Kontribusi Pendapatan Asli Daerah (PAD) telah mencapai Rp16,02 Triliun serta Transfer ke Daerah (TKD) mendominasi struktur pendapatan sebesar 66,97 persen turut memperkuat kapasitas fiskal daerah.
Dari sisi belanja daerah, realisasi berjalan secara bertahap dan menunjukkan komitmen pemerintah dalam menjaga ritme pelaksanaan anggaran terukur dan berkualitas. Dengan surplus anggaran sebesar Rp14,14 Triliun, terdapat potensi besar untuk mendorong program prioritas dan pelayanan publik lebih optimal dalam enam bulan ke depan.

