|

Pemkab Blora Raih Penghargaan Kabupaten Terinovatif di IGA 2024

BLORA[BahteraJateng] – Pemkab Blora meraih penghargaan sebagai Kabupaten Terinovatif dalam ajang Innovative Government Award (IGA) 2024 yang diselenggarakan Kementerian Dalam Negeri. Penghargaan ini menjadi kado istimewa di hari jadi Kabupaten Blora yang ke-275 tahun.

Penghargaan diserahkan di Hotel Mercure Surabaya Grand Mirama, Kamis (5/12/2024), oleh Kepala Badan Strategi Kebijakan Dalam Negeri Kemendagri, Dr. Yusharto Huntoyungo, M.Pd, kepada Wakil Bupati Blora, Tri Yuli Setyowati, yang mewakili Bupati Blora, H. Arief Rohman.

Blora berhasil mempertahankan gelar ini dengan mengunggulkan program 99 Petani Muda dan Berprestasi (99 Pedati) dan Dolan Soetijono. Program 99 Pedati menggaet petani milenial untuk meningkatkan produktivitas pertanian melalui teknologi modern seperti greenhouse dan hidroponik, yang diterapkan di Asha Farm. Inovasi ini membantu petani muda Blora meningkatkan efisiensi sekaligus kualitas hasil pertanian.

Blora juga mencatat rekam jejak cemerlang dalam ajang ini. Pada IGA 2023, Pemkab Blora meraih predikat Kabupaten Terinovatif melalui program Gerakan Sejuta Kotak Umat (GESEKU) dan Sistem Informasi Layanan Anak Tidak Sekolah (SILAT).

Pada IGA 2022, Blora mendapat predikat Kabupaten Sangat Inovatif, menunjukkan konsistensi pemerintah daerah dalam menciptakan inovasi yang berdampak luas.

Bupati Blora, H. Arief Rohman, menyampaikan apresiasi atas kontribusi masyarakat dan ASN yang terus berinovasi. “Saya Blora dapat menjadi kabupaten organik dan bebas dari anak tidak sekolah,” ujarnya.

Selain Blora, beberapa kabupaten lain juga mendapatkan penghargaan serupa, seperti Banyuwangi, Sragen, Sidoarjo, dan Wonogiri. Penghargaan ini menjadi bukti nyata keberhasilan Blora dalam berinovasi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Sebagai informasi, GESEKU adalah Gerakan pemanfaatan kotoran ternak menjadi pupuk organik, meningkatkan nilai tambah ekonomi petani dan SILAT adalah Aplikasi berbasis web yang membantu mengatasi masalah anak putus sekolah dengan verifikasi, intervensi, dan monitoring.(sun)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *