Gambang Semarang Tetap Diputar di Stasiun Tawang di Tengah Polemik Royalti
SEMARANG[BahteraJateng] – Di tengah polemik penghentian pemutaran lagu Stasiun Balapan di Stasiun Solo karena persoalan royalti, Stasiun Tawang Semarang masih setia memutar instrumen Gambang Semarang.
Musik tradisional khas Semarang itu diputar setiap kali kereta api datang maupun berangkat dari stasiun bersejarah tersebut.
Manager Humas PT KAI Daop 4 Semarang, Franoto Wibowo, mengatakan pihaknya tetap mempertahankan pemutaran instrumen Gambang Semarang.
“Kita masih memutar instrumen Gambang Semarang saat kereta datang ataupun berangkat,” ujarnya, kepada BahteraJateng pada Jumat (29/8).
Franoto menjelaskan, terkait royalti pihaknya mengikuti aturan yang berlaku. Menurut dia, semua urusan royalti instrumen tersebut ditangani langsung oleh kantor pusat PT KAI.
“Mungkin ada dan semua diurus oleh kantor pusat kami. Sehingga aman diputar di Stasiun Tawang,” jelasnya.
Instrumen Gambang Semarang sendiri diciptakan komponis Oey Yok Siang. Pemutarannya di Stasiun Tawang bukan sekadar hiburan, melainkan juga bagian dari upaya melestarikan kearifan lokal.
“Karena Stasiun Tawang merupakan bangunan cagar budaya, dan sekaligus kita melestarikan kearifan lokal dan budaya di Indonesia,” tutur Franoto.
Stasiun Tawang, yang berdiri sejak zaman kolonial Belanda dan diresmikan pada 1914, dirancang oleh arsitek Belanda Sloth Blauwboer. Hingga kini, stasiun ini tidak hanya menjadi simpul transportasi penting, tetapi juga ikon sejarah dan budaya di Kota Semarang.
Dengan pemutaran instrumen Gambang Semarang, PT KAI berharap setiap perjalanan kereta api dari dan menuju Tawang dapat menghadirkan nuansa khas kota sekaligus menjaga identitas budaya lokal di tengah modernisasi transportasi.

