Garuda “Sayap Pembebasan”: Menyingkap Spirit Penebusan di Relief Candi Sukuh

KARANGANYAR[BahteraJateng] – Relief kuno Candi Sukuh di lereng Gunung Lawu kembali menjadi sorotan. Sebuah penafsiran baru bertajuk “Garuda atau Garudheya: Sayap Pembebasan dari Candi Sukuh” menghadirkan kisah legendaris dalam bentuk karya seni monumental yang memadukan mitologi, spiritualitas, dan estetika Nusantara.

Karya ini bukan sekadar pementasan ulang legenda, tetapi refleksi mendalam tentang perjuangan manusia dalam menempuh jalan pembebasan jiwa — pesan yang tersimpan dalam pahatan batu candi peninggalan abad ke-15 itu.


Narasi Epik dari Lawu: Penebusan Winata oleh Sang Garuda

Fawarti Gendra Nata Utami, penggagas utama proyek ini, menjelaskan bahwa karya tersebut berakar pada kisah relief Candi Sukuh yang memadukan mitos Jawa kuno dan kisah Mahabharata. Fokusnya adalah legenda Garudheya, burung suci putra Kasyapa dan Winata.


“Garudheya sejak awal menyaksikan penderitaan ibunya, Winata, yang diperbudak oleh saudaranya sendiri, Kadru,” jelas Fawarti.

“Untuk menebus kebebasan sang ibu, ia menempuh perjalanan spiritual dan heroik demi memperoleh tirta amerta — air kehidupan yang menjadi tebusannya,” imbuhnya.

Perjalanan Garudheya dilukiskan sebagai rangkaian ujian: melintasi api, samudra, dan dunia para dewa. Setiap rintangan menggambarkan ujian batin, keteguhan, dan kesetiaan seorang anak. Dalam sendratari yang memvisualisasikan kisah ini, gerak lembut namun tegas para penari mengekspresikan transformasi Garudheya menuju pencerahan.

Candi Sukuh: Simbol Kesuburan dan Penyucian Diri

Candi Sukuh, dengan relief kesuburan dan simbol kosmisnya, menjadi latar filosofis bagi karya ini. Ragam simbol dalam candi tersebut menegaskan makna penyucian diri, keseimbangan alam, dan perjuangan manusia melawan belenggu nafsu duniawi.

Karya “Garuda: Sayap Pembebasan dari Candi Sukuh” menempatkan Garuda bukan sekadar figur heroik, tetapi lambang kesadaran dan kebebasan spiritual.

“Sayap Garuda yang kami tampilkan bukan hanya sayap jasmani, tetapi juga lambang kesadaran. Ini mengajarkan kita bahwa kebebasan sejati lahir dari keberanian melampaui batas diri untuk mencapai cahaya dharma,” pungkasnya.

Penafsiran baru ini diharapkan mampu menghidupkan kembali ketertarikan masyarakat, khususnya generasi muda, terhadap warisan budaya leluhur. Candi Sukuh bukan hanya peninggalan sejarah, tetapi sumber inspirasi filosofis dan spiritual yang tetap relevan bagi manusia modern.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *