Happy Salma saat memerankan tokoh Nyai Ontosoroh dalam pementasan monolog, dalam peringatan seabad Pramoedya Ananta Toer, di pendapa rumah dinas Bupati Blora, Jumat (8/2) malam.(foto Ist)
|

Happy Salma “Nyai Ontosoroh” di Seabad Pramoedya Ananta Toer

BLORA[BahteraJateng] – Happy Salma sukses memerankan tokoh Nyai Ontosoroh dalam pementasan monolog yang digelar di pendapa rumah dinas Bupati Blora, Jumat (8/2) malam.

Pementasan ini merupakan bagian dari rangkaian peringatan seabad Pramoedya Ananta Toer, sastrawan besar asal Blora yang menciptakan tokoh tersebut dalam novel Bumi Manusia.


Meski telah beberapa kali memerankan Nyai Ontosoroh, Happy Salma mengaku cukup gugup kali ini karena tampil di tanah kelahiran Pram.

“Biar bagaimanapun ini pertama kali saya mementaskan di Blora, tempat kelahiran Pramoedya yang menciptakan tokoh ini. Saya cukup gugup tapi saya sangat senang sekali,” ujar aktris kelahiran 4 Januari 1980 itu.


Dengan hanya dua kursi kayu, meja sederhana, koper tua, dan alunan musik lirih, Happy berhasil membawa penonton hanyut dalam kisah seorang perempuan pribumi yang menolak tunduk pada ketidakadilan kolonial.

Pementasan yang disutradarai oleh Wawan Sofwan ini sukses membuat suasana pendapa hening. Hadirin, termasuk sastrawan, seniman, mahasiswa, pelajar, hingga masyarakat umum, enggan beranjak dari tempat mereka.

Di akhir pertunjukan, Happy menutup monolog dengan kalimat yang menggema, “Namun kami tidak kalah, sebab kami telah melawan dengan sebaik-baiknya dan sehormat-hormatnya.” Riuh tepuk tangan pun memenuhi pendapa, menandai apresiasi tinggi atas pementasan tersebut.

Kisah Nyai Ontosoroh

Monolog ini mengisahkan perjalanan hidup Nyai Ontosoroh, yang lahir dengan nama Sanikem. Ia adalah gadis pribumi yang “dijual” oleh ayahnya kepada seorang Belanda, Herman Mellema, demi jabatan. Dalam usia 14 tahun, Sanikem meninggalkan rumah dengan membawa koper tua dan menjalani kehidupan sebagai istri simpanan.

Seiring waktu, Herman mulai mengajari Sanikem membaca majalah berbahasa Belanda dan mengelola perusahaan. Berkat kecerdasannya, ia berhasil menjalankan bisnis hingga namanya berubah menjadi Nyai Ontosoroh. Dari hubungannya dengan Herman, ia melahirkan dua anak, Robert dan Annelies Mellema.

Namun, kebahagiaan itu tak bertahan lama. Herman ternyata memiliki istri sah di Belanda, Amelia Mellema Hammers, dan seorang anak sah bernama Ir. Maurits Mellema. Setelah Herman meninggal di rumah plesiran, Maurits menuntut hak warisan, termasuk hak asuh Annelies.

Nyai Ontosoroh berjuang mempertahankan haknya, namun pengadilan kolonial tidak mengakuinya karena statusnya sebagai pribumi. Annelies dipaksa pindah ke Belanda, meninggalkan ibunya dan suaminya, Minke, tokoh utama dalam Bumi Manusia.

Kisah ini menggambarkan perjuangan perempuan dalam menghadapi ketidakadilan kolonial. Lewat perannya, Happy Salma kembali menghidupkan semangat perlawanan Nyai Ontosoroh, membuat monolog ini menjadi salah satu pementasan yang tak terlupakan dalam peringatan seabad Pramoedya Ananta Toer.(sun)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *