Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala BKKBN, Wihaji. Foto Ist
|

Kemendukbangga Tekankan Pentingnya Program Genting

MAKASSAR [BahteraJateng]- Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/ Kepala BKKN menekankan pentingnya program Genting (Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting) guna pencegahan stunting.

Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala BKKBN, Wihaji mengatakan, sebagai bentuk intervensi berbasis keadilan sosial ditujukan kepada keluarga-keluarga belum beruntung, terutama di wilayah penghasil sumber daya alam.


“Saya bikin Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting. Ini pertolongan keadilan. Banyak daerah sumber alamnya diambil, tapi masyarakatnya masih stunting. Ini tanggung jawab kita semua,” kata dia, di sela kegiatan di lapangan Karebosi, Makassar, dihadiri 2000 Penyuluh Keluarga Berencana (PKB/PLKB) dan Tim Pendamping Keluarga (TPK) se-Sulawesi Selatan, sebagai rangkaian Hari Keluarga Nasional (Harganas) ke-32 Tingkat Provinsi Sulawesi Selatan, Minggu (27/7).

Ia mengapresiasi, dukungan dari berbagai pihak seperti perusahaan swasta, yayasan, dan tokoh masyarakat menjadi “orang tua asuh” bagi balita berisiko stunting. Berdasarkan data SSGI 2024, angka stunting di Sulsel tercatat 23,3 persen, menurun 4,1 persen dari tahun sebelumnya, menjadikan Sulawesi Selatan sebagai provinsi dengan penurunan stunting terbaik kedua secara nasional, setelah Jawa Barat.

“Namun, angka ini masih di atas rata-rata nasional yang berada di angka 19,8 persen,” ungkap Menteri Wihaji.

Menteri Wihaji menekankan, angka 23,3 persen bukan sekadar statistik melainkan dalam setiap 10 balita. Dua di antaranya masih mengalami stunting. Ia meminta para kepala daerah untuk tetap waspada dan terus bekerja keras.

“Kalau ada 10 balita, dua di antaranya stunting. Hati-hati. Kita patut bersyukur, karena seandainya kita stunting, belum tentu kita bisa bicara di sini. Belum tentu bisa jadi Wali Kota, Bupati, atau Penyuluh KB,” ucapnya.

Ia menyoroti pentingnya intervensi sejak dini agar anak-anak Indonesia memiliki IQ yang optimal. Menteri Wihaji menyebut bahwa rata-rata IQ anak stunting bisa di bawah 78 dapat memengaruhi masa depan mereka.

Menteri Wihaji juga menegaskan, pemerintah tidak bisa berjalan sendiri. Karena itu, ia mendorong kolaborasi dalam konsep pentahelik, sinergi antara pemerintah, dunia usaha, akademisi, komunitas, dan media, untuk mempercepat penanganan stunting dan pelaksanaan program-program prioritas.

“Negara wajib hadir, tapi tidak semua bisa di-cover dengan cepat. Maka dari itu, harus kita support bersama-sama,” tegas Menteri Wihaji.

Menteri Wihaji berpesan kepada para wali kota, bupati, dan seluruh pemangku kebijakan di Sulsel untuk terus menjaga momentum ini dan memperkuat kerja kolaboratif demi menyelamatkan generasi mendatang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *