Mohammad Agung Ridlo
Mohammad Agung Ridlo.(Dok BahteraJateng)

Kerentanan Wilayah Hulu Hilir di Kota Semarang 

Oleh: Mohammad Agung Ridlo

“Semarang alami penurunan signifikan kawasan konservasi akibat konversi lahan hulu, picu banjir hilir, erosi, dan degradasi mangrove; butuh kebijakan pelestarian tegas”.


Kota Semarang diperkirakan akan mengalami penurunan luas kawasan konservasi yang signifikan di masa depan, terutama akibat konversi lahan yang terus meningkat di wilayah hulu seperti Gunungpati, Mijen, dan Ngaliyan. Proyeksi perubahan penggunaan lahan menunjukkan bahwa hingga tahun 2034, luas lahan hutan dan konservasi di Semarang akan berkurang sekitar 18.433 hektar, sementara lahan terbangun akan meningkat secara drastis. Penurunan ini mencerminkan tekanan pembangunan dan ekspansi kota yang semakin besar, sehingga daya dukung lingkungan Kota Semarang diperkirakan akan semakin menurun di masa mendatang.

Perubahan penggunaan lahan di wilayah hulu berdampak langsung pada wilayah hilir. Fungsi resapan air dan pengendalian limpasan permukaan berkurang, menyebabkan risiko banjir dan bencana hidrometeorologis lainnya meningkat. Penelitian di Sub DAS Beringin, yang mencakup wilayah Mijen, Ngaliyan, dan Tugu, menunjukkan bahwa perubahan tutupan lahan dari hutan dan kebun campuran menjadi kawasan industri dan pemukiman telah menyebabkan peningkatan erosi, lahan kritis, degradasi lahan, serta banjir di daerah hilir. Pada periode 2015–2021, luas lahan terbangun di Kecamatan Mijen dan Ngaliyan bertambah menjadi 1.161 hektar, sementara lahan terbuka berkurang menjadi 1.938 hektar.


Dampak Berkurangnya Kawasan Konservasi

Berkurangnya kawasan konservasi di wilayah hulu berdampak langsung pada wilayah hilir. Fungsi resapan air berkurang, menyebabkan limpasan permukaan meningkat dan banjir lebih sering terjadi di wilayah hilir saat hujan lebat. Selain itu, berkurangnya vegetasi dan hutan juga menurunkan kapasitas pengendalian erosi dan konservasi air, yang pada gilirannya meningkatkan risiko longsor di daerah perbukitan.

Penurunan luas kawasan konservasi juga berdampak pada kualitas hidup masyarakat. Degradasi lahan di Semarang memiliki dampak signifikan terhadap produktivitas pertanian dan kualitas hidup warga, terutama di wilayah pesisir yang mengalami konversi mangrove dan hutan kota. Kerusakan hutan mangrove di kawasan pesisir menyebabkan erosi pantai dan kerusakan pada area tambak produktif warga sekitar. Berdasarkan data, luasan hutan mangrove di Semarang yang kritis dan rusak mencapai 11 hektar (73,33%), dengan hanya 4 hektar (26,67%) yang masih dalam kondisi baik.

Konversi Lahan Tingkatkan Bencana 

Dengan berkurangnya kawasan konservasi, wilayah hulu akan mengalami peningkatan risiko longsor dan kekeringan, sementara wilayah hilir lebih rentan terhadap banjir dan rob, terutama di kawasan pesisir yang juga mengalami konversi mangrove dan hutan kota. Data menunjukkan bahwa banjir besar di Semarang pada awal 2023 dan kerugian ekonomi akibat banjir rob mencapai miliaran rupiah, terutama di daerah dengan konversi lahan konservasi yang tinggi.

Analisis temporal mengungkapkan dalam kurun waktu sepuluh tahun terakhir terjadi penurunan luas tutupan lahan mangrove di pesisir Semarang, yang berkontribusi terhadap peningkatan kerentanan bencana banjir rob. Peningkatan risiko bencana ini juga dipengaruhi oleh penurunan tanah tiap tahun yang mencapai 5–10 cm akibat eksploitasi sumber daya alam, seperti penambangan galian C, yang menambah kompleksitas risiko bencana di wilayah Semarang.

Pelestarian Ekosistem Kawasan Konservasi

Untuk mencegah bencana serupa di masa depan, diperlukan kebijakan tata ruang yang tegas, pemantauan berkala, serta partisipasi masyarakat dalam program konservasi. Penguatan zona hijau permanen dan penegakan sanksi terhadap pembangunan ilegal di kawasan konservasi menjadi kunci utama dalam menjaga kelestarian ekosistem dan mencegah bencana di Semarang.

Pemerintah Kota Semarang perlu memperkuat komitmen terhadap pelestarian kawasan konservasi melalui regulasi yang jelas dan implementasi yang efektif. Namun, hingga kini belum ada upaya yang serius dari Pemerintah Kota Semarang untuk melestarikannya, sehingga banyak bangunan yang tidak terawat, rusak, bahkan roboh dengan sendirinya. Masyarakat juga perlu dilibatkan dalam upaya konservasi, baik melalui program edukasi maupun partisipasi aktif dalam pengelolaan kawasan hijau.

Kesimpulan

Konversi lahan konservasi di Semarang akan terus mengurangi luasan kawasan hijau, memperburuk daya dukung lingkungan, dan meningkatkan risiko bencana banjir, longsor, serta kekeringan baik di wilayah hulu maupun hilir. Kebijakan dan pengawasan yang kuat sangat dibutuhkan untuk menjaga keberlanjutan kota dan mencegah bencana hidrometeorologis yang semakin sering terjadi.

Daftar Pustaka

MangroveTag. (2025). KOTA SEMARANG. https://mangrovetag.com/semarang/

Sukmawardhono, D., & Nugroho, B. (2020). Perubahan Tutupan Lahan di Sub DAS Beringin Kota Semarang. Proceeding SNIPA. https://proceeding.unnes.ac.id/index.php/snipa/article/download/2356/1844

Pelestarian Kawasan Konservasi di Kota Semarang. (n.d.). Repositori Kemdikbud. https://repositori.kemdikbud.go.id/368/1/Pelestarian%20Kawasan%20Konservasi%20di%20Kota%20Semarang.pdf

BRIN. (2024). Luas Tutupan Lahan Mangrove di Pesisir Semarang Menurun 10 Tahun Terakhir. https://www.brin.go.id/news/124874/luas-tutupan-lahan-mangrove-di-pesisir-semarang-menurun-10-tahun-terakhir

Jurnal Fakultas Sains dan Arsitektur. (n.d.). Pengembangan Kawasan Konservasi Heritage di Semarang. https://jurnal.umjambi.ac.id/JFSA/article/download/565/282/1821

Kesadaran Masyarakat Pesisir Terhadap Degradasi Lahan. (2024). E-Journal IVET. https://e-journal.ivet.ac.id/index.php/envoist/article/download/3432/2348

Konflik Lingkungan di Bukit Mangunharjo Tembalang. (n.d.). Neliti. https://media.neliti.com/media/publications/160391-ID-konflik-lingkungan-di-bukit-mangunharjo.pdf

Dr. Ir. Mohammad Agung Ridlo, M.T., adalah Ketua Program Studi S2 Magister Perencanaan Wilayah dan Kota (Planologi) Fakultas Teknik UNISSULA. Juga sebagai Sekretaris I Bidang Penataan Kota, Pemberdayaan Rakyat Urban, Pengembangan Potensi Daerah, dan Pemanfaatan SDA, ICMI Orwil Jawa Tengah. Selain itu juga menjadi Ketua Bidang Teknologi Tradisional, Komite Seni Budaya Nusantara (KSBN) Provinsi Jawa Tengah. Serta sebagai Sekretaris Umum Satupena Jawa Tengah)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *