Jembatan Kaca Tinjomoyo Semarang
Jembatan Kaca Tinjomoyo Semarang.(Dok. GW)

Kolaboratif dan Adaptif Jadi Kunci Memajukan Pariwisata Kota Semarang

SEMARANG[BahteraJateng] – Sikap kolaboratif yang diimbangi kemampuan beradaptasi terhadap perkembangan zaman dinilai menjadi kunci utama dalam memajukan sektor pariwisata di Kota Semarang, terutama di tengah era disrupsi dan VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, and Ambiguity).

Hal itu disampaikan Koordinator Pegiat Pariwisata Kota Semarang, Gus Wahid, saat Coffee Morning yang digelar di Hutan Wisata Tinjomoyo, beberapa waktu lalu.


Menurutnya, kolaborasi antarpelaku pariwisata tetap penting, namun harus disertai kemampuan beradaptasi dengan tren dan kebutuhan wisatawan yang terus berubah.

“Kolaborasi saja belum cukup, harus diimbangi dengan sikap adaptif terhadap perkembangan zaman,” ujarnya.


Ia menegaskan, konsep pariwisata berkelanjutan juga harus menjadi pijakan utama, baik dari aspek ekonomi, sosial, maupun lingkungan. Jangan sampai sebuah destinasi viral sesaat, tetapi kemudian rusak dan sulit dipulihkan.

Gus Wahid juga menyoroti tingginya kunjungan wisatawan ke kawasan Kota Lama Semarang sepanjang 2025.

“Sebagai ruang publik, kawasan tersebut sulit dibatasi, namun perlu upaya pengelolaan agar penurunan muka tanah dapat dikendalikan sehingga bangunan bersejarah tetap terjaga,” tandasnya.

Sementara itu, Ketua Pokdarwis Wolu Makmur, Widodo, berharap adanya kolaborasi lebih luas untuk menghidupkan kembali sejumlah destinasi seperti jembatan kaca, tubbing, dan kawasan Tinjomoyo.

“Setelah soft launching, kunjungan sempat meningkat namun kemudian kembali menurun,” katanya.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Semarang, Indriyasari, mendorong para pelaku wisata terus mencari formula terbaik untuk memajukan sektor ini.

“Kemajuan pariwisata akan memberikan dampak ekonomi dan multiplier effect besar bagi masyarakat,” ujarnya.

Lebih lanjut, Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng, kata dia telah mencanangkan fokus pembangunan kota pada sektor pariwisata mulai 2027.

Pemerintah daerah menargetkan peningkatan kunjungan wisatawan dan siap memfasilitasi berbagai upaya pengembangan destinasi.

Pada kegiatan tersebut, peserta juga berkesempatan menjajal Jembatan Kaca Tinjomoyo yang memiliki ketinggian sekitar 40 meter dan panjang 80 meter dengan konstruksi beton serta kaca berlapis ganda, sehingga dinilai aman digunakan wisatawan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *