Haul Akbar Mbah Syafi'i
Ketua DPRD Kota Semarang sekaligus tokoh masyarakat, Kadar Lusman, dalam pembukaan Lomba Rebana dan Pasar UMKM memperingati Haul Akbar Mbah Syafi'i, Sabtu (11/4).(Dok. Humas Sekwan)
|

Mengenal Mbah Syafi’i Piyoro Negoro, Ulama Penyebar Islam di Semarang

SEMARANG[BahteraJateng] — Nama KH. R. Syafii Piyoro Negoro atau yang dikenal sebagai Mbah Syafi’i menjadi sosok penting dalam sejarah penyebaran Islam di wilayah Semarang dan sekitarnya. Kiprah dan keteladanannya hingga kini masih dikenang, salah satunya melalui tradisi Haul Akbar yang rutin digelar setiap tahun oleh masyarakat.

Mbah Syafi’i dikenal sebagai ulama yang menyebarkan ajaran Islam di Pulau Jawa pada sekitar abad ke-17 atau tahun 1600-an. Ia juga tercatat sebagai pendiri Pondok Pesantren Luhur Dondong di wilayah Ngaliyan pada tahun 1609, yang hingga kini masih berdiri dan menjadi pusat kegiatan keagamaan.


Tokoh masyarakat, Kadar Lusman menyampaikan selain sebagai tokoh agama, Mbah Syafi’i juga diyakini memiliki peran dalam perjuangan melawan penjajah Belanda.

“Berdasarkan cerita turun-temurun, beliau disebut-sebut pernah menjadi komandan pasukan pada masa Kerajaan Mataram di bawah kepemimpinan Sultan Agung. Dari basis dakwahnya di wilayah Mangkang, beliau tidak hanya menyebarkan ajaran Islam, tetapi juga membangun semangat perlawanan terhadap kolonialisme,” tutur Pilus, sapaan akrabnya pada Minggu (12/4).


Pengaruh Mbah Syafi’i juga terlihat dari jaringan keilmuannya. Salah satu ulama besar, KH Sholeh Darat, yang dikenal sebagai guru dari Ahmad Dahlan, Hasyim Asy’ari, serta Raden Ajeng Kartini, disebut pernah menimba ilmu di Pondok Pesantren Luhur Dondong.

Meski memiliki peran besar, jejak sejarah Mbah Syafi’i tidak sepenuhnya terdokumentasi dengan baik.

“Hal ini disebabkan hilangnya sejumlah dokumen penting, baik karena dibakar pada masa penjajahan Belanda maupun akibat bencana banjir yang pernah melanda kawasan tersebut,” ujar Ketua DPRD Kota Semarang tersebut.

Hingga kini, pihak pengelola pondok pesantren masih terus melakukan penelusuran literasi untuk memperkuat catatan sejarahnya.

Tradisi Haul Akbar yang disertai kirab budaya menjadi bentuk penghormatan masyarakat terhadap jasa Mbah Syafi’i. Selain doa bersama, kegiatan ini juga menjadi sarana pelestarian budaya lokal serta pengingat akan nilai-nilai perjuangan, dakwah, dan keteladanan yang diwariskan.

Dengan kontribusinya dalam penyebaran Islam dan perjuangan melawan penjajah, tidak sedikit tokoh masyarakat yang menilai Mbah Syafi’i layak diusulkan sebagai pahlawan nasional.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *