Menikmati Kopi Turki di Salatiga
SALATIGA [BahteraJateng]- Teknik penyuguhan unik demi memikat penikmat kopi ditempuh Kedai 729 Juwalan Kupi. Terletak di lantai 2 Pasar Kota Salatiga, outlet ini memberikan sensasi berbeda menyesap kopi enak.
729 Juwalan Kupi mulai buka sekitar tahun 2022 meramaikan kedai-kedai kopi. Beragam konsep tersaji memikat penikmat kopi hingga kaum FOMO (Fear of Missing Out) terus mengeksplorasi tempat baru. Pihak penggagas 729 Juwalan Kupi membutuhkan kurun waktu satu tahun melakukan riset dan inovasi.

Baru, tahun 2023 menyelipkan kopi ala Turki sebagai pilihan penikmat kopi. Sensasi baru minum kopi di Kota Salatiga berhasil menyedot masyarakat melalui media sosial. “Biar unik dan orang melirik ke sini. Namanya warung baru butuh sesuatu yang beda,” ungkap Barista sekaligus pemilik Ronny Tampace, belum lama ini.
Kota Salatiga diapit Kabupaten Semarang dan Boyolali acapkali menjadi lintasan. Udara dingin dan suasana tenang membuat masyarakat tak sempat singgah untuk menikmati waktu santai. Ronny memanfaatkan jagad maya untuk menjual produk dagangannya. Berjualan kreatif di media sosial dengan menggunakan kata unik membuat kedai ini mencuri spotlight.


“Kami menggunakan pasir danau di daerah Poso. Banyak kerikil penghantar panas dan secara bertahap naik ke atas tidak membuat gosong biji kopi,” kata dia.
Sebelumnya, dia menggunakan pasir dari Jawa Tengah alhasil malah menempel di dasar cangkir. Menurut dia, atraksi ini terlihat kurang estetik di mata pelanggan. Hingga menemukan pasir dari kampung halaman saat mudik. Mulai dari coba-coba hingga menjadikan salah satu sesi mengobrol saat menyeduh kopi.
Ronny menyebut pilihan jenis Kopi Arabica favorit adalah Gayo, Kintamani, Toraja dan Bajawa. Penikmati Kopi Robusta bisa memilih Sidikalang, Bengkulu, Merbabu, Flores Manggarai. “Semuanya cocok disajikan dengan teknik seperti ini,” ungkap dia sembari memutar cangkir perlahan di atas pasir.
Sekitar 15 gram bubuk kopi siap seduh dengan air mendidih. Adrenalin semakin terpacu saat menuang air ke dalam kopi secara perlahan.
Terkait alasan membuka kedai di pasar, Ronny menilai pasar adalah pusat transaksi dan perputaran uang. “Minum kopi duduk pelan-pelan dinikmati, kami ingin menghadirkan suasana itu lagi,” kata dia.


Terima kasih sudah mampir, sharing, bercengkrama, dan meliput kami. Kami tidak sabar buat bikin gebrakan selanjutnya.
Terima kasih kak. Ditunggu gebrakan berikutnya