Wihaji
Menteri Wihaji berdialog dengan mahasiswa Institut Pertanian Bogor (IPB) di Graha Widya Wisuda, Bogor, Selasa (26/8).(Foto Ist)
|

Menteri Wihaji: Generasi Muda, Keluarga, dan Masa Depan Indonesia Saling Terkait Wujudkan Indonesia Emas 2045

BOGOR[BahteraJateng] – Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga, Wihaji, menegaskan bahwa generasi muda, keluarga, dan masa depan Indonesia merupakan tiga elemen yang saling terkait dalam mewujudkan visi Indonesia Emas 2045.

Hal itu disampaikan Wihaji saat menyampaikan makalah bertajuk Generasi Muda, Keluarga, dan Masa Depan Indonesia di hadapan sekitar 700 mahasiswa Institut Pertanian Bogor (IPB) di Graha Widya Wisuda, Bogor pada Selasa (26/8).


Menurut Wihaji, keluarga yang harmonis dan berkualitas akan membentuk generasi muda berintegritas, inovatif, serta mampu menghadapi tantangan global.

“Keluarga menyediakan fondasi karakter dan nilai yang kuat bagi generasi muda dengan pengetahuan dan kreativitas tinggi,” ujarnya.

Ia menyebutkan, salah satu tujuan visi Indonesia Emas 2045 yang diusung pemerintahan Presiden Prabowo Subianto adalah melahirkan sumber daya manusia (SDM) unggul, berbudaya, dan menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi.

Wihaji mengingatkan mahasiswa agar memanfaatkan masa pendidikan sebagai investasi diri. “Mahasiswa ibarat emas 18 karat yang sedang diasah menjadi emas 24 karat. Usia kalian produktif, tapi jangan sampai tidak produktif,” katanya.

Bonus Demografi

Menteri Wihaji menekankan pentingnya memanfaatkan era bonus demografi 2020–2045, di mana 70,72 persen penduduk Indonesia berada pada usia produktif.

Menurutnya, ada empat faktor penentu keberhasilan bonus demografi, yakni kualitas SDM, peningkatan partisipasi perempuan di pasar kerja, penciptaan lapangan kerja, serta pengendalian angka kelahiran.

“Generasi muda harus menjadi aktor pembangunan yang berkualitas, mampu membangun keluarga berkualitas, dan melahirkan generasi berkualitas,” ujarnya.

Fenomena Childfree

Dalam sesi dialog, Wihaji juga menyinggung fenomena childfree yang berimplikasi pada penurunan angka kelahiran. Ia mencontohkan Jepang dan Korea Selatan yang mengalami angka kelahiran terendah di dunia pada 2023.

Data BKKBN menunjukkan tren penurunan Total Fertility Rate (TFR) Indonesia dari 2,41 pada Sensus 2010 menjadi 2,14 pada Pendataan Keluarga 2023. Selain itu, jumlah perkawinan turun 30 persen dalam satu dekade terakhir, menandakan adanya pergeseran preferensi keluarga di kalangan generasi muda.

“Fenomena childfree bukan sekadar tren viral, melainkan refleksi pergeseran sosial, ekonomi, dan budaya. Diskusi yang inklusif dibutuhkan agar pilihan ini bisa dihargai, sekaligus mempertimbangkan dampaknya terhadap masa depan demografi bangsa,” terang Wihaji.

Peta Jalan Pembangunan Kependudukan

Lebih lanjut, Wihaji menegaskan pentingnya pembangunan berwawasan kependudukan melalui Peta Jalan Pembangunan Kependudukan (PJPK) yang menjadi operasionalisasi Desain Besar Pembangunan Kependudukan 2025–2045.

“Isu kependudukan adalah isu urgent. Dari analisis ini akan terlihat jumlah penduduk, pekerjaan, investasi, hingga pendidikan di setiap provinsi. Semuanya terpetakan dalam PJPK,” ujarnya optimistis.

Wihaji menambahkan, integrasi kebijakan kependudukan dengan sektor pendidikan, ketenagakerjaan, pajak, hingga jaminan sosial menjadi kunci untuk menciptakan SDM unggul.

“Dengan kebijakan kependudukan yang adaptif, bonus demografi dapat dimanfaatkan untuk mewujudkan Indonesia Emas 2045,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *