Screenshot
|

Pemkot Semarang Targetkan Penyelesaian 44 Ha Kawasan Kumuh

SEMARANG [BahteraJateng]- Pemerintah Kota Semarang menargetkan penyelesaian kawasan kumuh menjadi lingkungan yang lebih bersih, sehat, nyaman dan adaptif di wilayah Ibu Kota Jawa Tengah tersebut masih menyisakan 44 ha.

Wali Kota Semarang, Hevearita Gunaryanti Rahayu, akrab disapa Mbak Ita, menjelaskan, berbagai upaya telah dilakukan untuk menciptakan lingkungan lebih bersih, sehat, nyaman dan adaptif terhadap kerentanan bencana serta perubahan iklim.

“Kami berkomitmen untuk terus mengurangi kawasan kumuh hingga mencapai 0 persen,” kata dia, Kamis (9/1), di sela-sela presentasi penilaian nominasi Lomba Hari Habitat Provinsi Jawa Tengah 2025 di hadapan tim juri, Kamis (9/1) di Hotel Khas.

Menurut Mbak Ita, capaian dan keberhasilan penghapusan kawasan kumuh pada tahun 2023 mencatat rekor tertinggi sebesar 192 hektar.

Sebagai kota pesisir, kata dia, dengan pertumbuhan dinamis sejumlah upaya dilakukan dengan meningkatkan inovasi pengurangan kawasan kumuh. Diantaranya menghidupkan lahan tidur serta mempertahankan wilayah bebas kumuh telah terselesaikan.

Untuk penanganan kawasan kumuh di wilayah Kelurahan Tugu, Mangkang Wetan dan Mangunharjo telah dilakukan normalisasi Sungai Bringin telah selesai dan akan dilanjutkan dengan normalisasi Sungai Plumbon saat ini telah selesai proses pembebasan lahan.

Selain itu, kata dia, dioptimalkan pula upaya pengelolaan sampah, rehabilitasi kawasan mangrove, perbaikan infrastruktur jalan, program Rumah Tidak Layak Huni (RTLH), hingga peningkatan infrastruktur irigasi.

Sebagai langkah adaptasi iklim, juga dilakukan pemanenan air hujan, peresapan air melalui biopori, penanaman sistem hidroponik memanfaatkan air limbah AC dan aquaponik memanfaatkan air limbah lele. Di samping itu, penanaman padi biosalin menjadikan produktivitas lahan payau lebih tinggi serta upaya lainnya.

Di sisi regulasi, Pemkot Semarang mengesahkan Perda Penyelenggaraan Kawasan Perumahan dan Permukiman sebagai langkah pencegahan dan mitigasi bencana kewilayahan.   

“Keberhasilan di wilayah Tugu ini adalah hasil kerja keras seluruh pihak, baik dari pemerintah, masyarakat, maupun mitra lainnya.  Kami optimis kawasan kumuh dapat berkurang hingga 0 persen di masa mendatang termasuk melalui kepemimpinan yang baru,” ujar Mbak Ita.

Dengan kolaborasi bersama antara masyarakat, Bank Sampah Mawar Merah, peran Bapak Sururi dengan rehab mangrove hingga dianugerahi Kalpataru, BRIN, kementerian, lembaga, akademisi, serta pengusaha serta perbankan dirinya optimis wilayah kumuh akan terselesaikan dan menjadi lebih indah dan layak huni.

Salah satu kawasan akan menjadi perhatian khusus selanjutnya adalah wilayah Kauman. Pemkot Semarang berharap kolaborasi dengan pemerintah provinsi dan pusat dapat mempercepat revitalisasi kawasan ini, sehingga menjadi destinasi wisata indah, representatif, layak huni, berkelanjutan, dan ramah lingkungan.

Tidak hanya menghilangkan kekumuhan, langkah ini juga diharapkan membawa manfaat ekonomi bagi masyarakat setempat.

Dengan sisa pekerjaan rumah yang ada, Mbak Ita optimis dapat terus berkomitmen terhadap pengurangan kawasan kumuh dan pembangunan berkelanjutan. (hen)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *