Wayang golek
Sejarah perjuangan perang Diponegoro dipentaskan dalam pertunjukan wayang golek oleh Ki Dalang Kusno di halaman SD Negeri 1 Tumanggal, Kecamatan Pengadegan, Kabupaten Purbalingga, Sabtu (10/1).(Dok Angga)
| |

Perang Diponegoro, Edukasi Sejarah Bangsa Lewat Wayang Golek

PURBALINGGA[BahteraJateng] – Sejarah perang Diponegoro mengenai perjuangan Pangeran Diponegoro melawan penjajahan Belanda dipentaskan dalam pertunjukan wayang golek oleh Ki Dalang Kusno di halaman SD Negeri 1 Tumanggal, Kecamatan Pengadegan, Kabupaten Purbalingga pada Sabtu (10/1). Pementasan ini menjadi puncak rangkaian gelar budaya peringatan Hari Jadi sekolah tersebut.

Ki Dalang Kusno, dalang wayang golek yang masih aktif di Purbalingga, mengisahkan awal konflik antara Pangeran Diponegoro dengan Patih Danurejo III, pejabat Kraton Ngayogyokarto Hadiningrat yang dianggap membuat kebijakan menyengsarakan rakyat.

Dalam ceritanya, Danurejo III disebut menerapkan aturan pemungutan pajak yang memberatkan masyarakat sejak diangkat sebagai patih pada 1813. Kebijakan itu dinilai lebih menguntungkan pihak Belanda dan memperkaya diri sendiri, sehingga bertentangan dengan cita-cita Pangeran Diponegoro yang ingin memperjuangkan kesejahteraan rakyat.

Ketidakpuasan tersebut membuat Bendara Raden Mas Antawirya—nama kecil Pangeran Diponegoro—memilih meninggalkan lingkungan keraton dan menetap di Tegalrejo. Situasi semakin memburuk ketika kekuasaan kraton melemah setelah wafatnya Sri Sultan Hamengkubuwono III dan naiknya Sultan Hamengkubuwono IV yang masih berusia tiga tahun.

Kesempatan itu dimanfaatkan Belanda dengan menyewa tanah kraton, termasuk wilayah Tegalrejo. Konflik memuncak saat pembangunan fasilitas Belanda dilakukan di atas makam leluhur Pangeran Diponegoro. Peristiwa tersebut memicu kemarahan sang pangeran dan mendorongnya melakukan perlawanan terbuka.

Pada 1825, Pangeran Diponegoro hijrah ke Goa Selarong untuk menyusun kekuatan. Ribuan rakyat bergabung, menandai dimulainya Perang Diponegoro atau Perang Jawa. Perang ini dikenal sebagai salah satu perlawanan terbesar terhadap kolonialisme Belanda, dengan korban ratusan ribu jiwa dan biaya perang yang sangat besar.

Perang dilakukan dengan taktik gerilya, sementara Belanda membalas dengan strategi “Bentengstelsel” untuk mempersempit ruang gerak pasukan Diponegoro.

Di akhir pementasan, Ki Dalang Kusno juga menampilkan kisah Perang Diponegoro di wilayah Purbalingga. Pasukan Diponegoro yang dipimpin Tubagus Buang bergerak dari Danakerta, melewati Tumanggal dan Pengadegan, hingga akhirnya dihadang pasukan Kadipaten Purbalingga di Desa Selakambang.(day)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *