Dialog Kebudayaan bertajuk "Indonesia yang Dibayangkan Pram" dalam rangkaian Festival Blora "Se-Abad Pram", pada Jumat (7/2).(Foto Ist)
|

Seabad Pramoedya Ananta Toer, dalam Indonesia yang Dibayangkan Pram

BLORA[BahteraJateng] – Kabupaten Blora merayakan warisan sastrawan besar Pramoedya Ananta Toer dalam rangkaian Festival Blora “Se-Abad Pram”. Pada Jumat (7/2), acara utama yang digelar adalah Dialog Kebudayaan bertajuk “Indonesia yang Dibayangkan Pram”.

Diskusi ini menghadirkan pidato pengantar dari Prof. Remco Raben (Universitas Amsterdam) dan dipandu oleh W. Sanavero, dengan narasumber Muhidin M. Dahlan, Ruth Indiah Rahayu, dan Ni Made Purnamasari.


Pada malam harinya, Happy Salma membawakan monolog “Nyai Ontosoroh” di Pendopo Rumah Dinas Bupati Blora. Pementasan ini menghadirkan kembali sosok perempuan kuat dalam karya Pramoedya, yang menjadi simbol perlawanan terhadap sistem kolonial.

Festival yang dibuka langsung oleh Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon, bertepatan dengan hari lahir ke-100 Pramoedya Ananta Toer, pada Kamis (6/2).


Acara peresmian ditandai dengan pemukulan gong serta penyerahan buku karya Pram oleh putrinya, Astuti, didampingi Aditya Ananta Toer, Ketua Yayasan Pramoedya Ananta Toer Foundation.

Dalam kesempatan tersebut, Bupati Blora, Arief Rohman, menyatakan keinginannya untuk menjadikan bulan Februari sebagai “Bulan Pramoedya Ananta Toer” dan memperingati hari lahirnya sebagai agenda tahunan.

Ia juga bercita-cita menjadikan Blora sebagai kota sastra dan budaya, dengan mendorong budaya literasi dan menulis di kalangan pelajar dari tingkat SMP hingga perguruan tinggi.

Sebelumnya, para pelajar SMPN 5 Blora menampilkan Dramatic Reading surat-surat Pramoedya untuk keluarganya. Pertunjukan ini menghadirkan kembali suasana ketika Pram menjalani pengasingan.

Bupati Arief Rohman dan Bunda Literasi Blora, Ainia Sholicah, mengapresiasi bakat para pelajar dan berharap kegiatan serupa dapat rutin digelar.

Festival ini masih akan berlangsung hingga 8 Februari 2025, dengan berbagai acara menarik seperti pameran, diskusi sastra, pemutaran film, dan pertunjukan seni lainnya.

Peringatan Seabad Pram diharapkan semakin memperkuat identitas Blora sebagai kota sastra yang menghargai warisan intelektual salah satu putra terbaiknya.(sun)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *