Fisip Unwahas
FISIP Unwahas menggelar seminar bertajuk “Tokoh Politik di Media Sosial: Fakta atau Gimmick?” yang berlangsung di Meeting Room Lantai 6 Gedung Dekanat FISIP Unwahas, Jumat (11/7).(Foto Ist)
|

Seminar FISIP Unwahas, Prio Hananto Soroti Panggung Pencitraan Politik di Medsos

SEMARANG[BahteraJateng] – Media sosial kini menjadi panggung utama pencitraan politik di era digital. Hal ini menjadi sorotan dalam seminar bertajuk “Tokoh Politik di Media Sosial: Fakta atau Gimmick?” yang digelar Program Magister Ilmu Politik dan Prodi Ilmu Politik Universitas Wahid Hasyim (Unwahas) pada Jumat (11/7).

Kegiatan yang berlangsung di Meeting Room Lantai 6 Gedung Dekanat FISIP Unwahas itu menghadirkan Tim Ahli DPR/MPR RI sekaligus Konsultan Digital, Prio Hananto, sebagai pembicara utama.


Ia mengulas pergeseran fungsi media sosial dari ruang komunikasi menjadi media pemasaran politik.

“Politisi sekarang tidak hanya menyampaikan kebijakan, tapi juga berupaya tampil menarik, dekat dengan rakyat, dan memancing simpati. Mereka tampil seperti influencer dengan tim kreatif profesional di belakang layar,” ujarnya.

Prio menyebut platform seperti Instagram, TikTok, dan X (dulu Twitter) menjadi arena utama membangun citra, dengan narasi dan visual yang emosional, meski terkadang tidak substansial. Ia mencontohkan politisi yang mengenakan kostum tokoh komik saat kampanye Pemilu 2024.

Ia menegaskan bahwa pencitraan bukan masalah jika tetap disertai transparansi dan akuntabilitas. “Yang jadi persoalan adalah ketika gimmick menutupi substansi. Di sinilah publik harus kritis,” tegasnya.

Dosen Ilmu Politik Unwahas, Azmi Muttaqin, yang juga menjadi narasumber, menekankan pentingnya literasi politik digital. Ia mengingatkan bahwa media sosial berpotensi menyuburkan polarisasi jika digunakan secara manipulatif.

Sementara itu, Dekan FISIP Unwahas, Dr. Ali Martin, menyatakan seminar ini penting untuk membekali mahasiswa agar tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga analis politik yang cerdas dan etis.

“Kita butuh politisi yang otentik, bukan sekadar pencitraan semu,” pungkasnya.

Seminar ini menjadi bagian dari upaya kampus dalam mengkritisi dinamika politik digital dan memperkuat peran akademisi dalam demokrasi.(sun)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *