Soto Semarang Pak Ndut
Soto Semarang Pak Ndut, di Jalan Pusponjolo Barat Raya.(Dok. BahteraJateng/day)
|

Soto Semarang Pak Ndut, 51 Tahun Menjaga Rasa di Pusponjolo

SEMARANG[BahteraJateng] – Terletak dipertengahan Jalan Pusponjolo Barat Raya, Semarang, aroma kuah soto yang hangat seakan menjadi penanda waktu. Di tempat inilah Soto Semarang Pak Ndut bertahan selama lebih dari setengah abad, melewati pergantian generasi dan perubahan zaman, tanpa kehilangan jati diri rasanya.

Usaha soto legendaris ini dirintis sejak 51 tahun lalu oleh Pak Ndut, bernama asli Tahwit, warga asli Gunungpati. Dari berjualan sederhana, Soto Pak Ndut perlahan dikenal pelanggan karena cita rasa khas yang konsisten.

Dipadu dengan kuah dari baskom berisi sate kerang, sate kulit, sate ayam dan sate telur puyuh, menambah sedap rasa Sotonya. Bagi penyuka tempe kriuk juga tersaji diatas meja.

Kini, estafet usaha keluarga tersebut dilanjutkan oleh generasi kedua, Yulianti, yang telah 16 tahun menjaga warisan kuliner sang ayah.

“Sejak masih sekolah saya sudah ikut dagang disini,” kenang Yuli, Minggu (8/2).

Anak kedua Pak Ndut ini mengisahkan, dulu awalnya ayahnya berjualan Soto keliling kemudian menetap hingga usia lanjut sebelum akhirnya sakit stroke. Meski kondisi sang ayah menurun, Yuli memastikan usaha keluarga tetap berjalan seperti sediakala.

“Saya sudah di sini sejak sebelum bapak sakit,” ujarnya.

Setiap hari, rutinitas dimulai sejak dini hari. Yuli berbelanja bahan, meracik bumbu, lalu membuka lapak sejak pukul 06.00 WIB. Aktivitasnya tak berhenti sampai warung tutup. Sore hingga malam, ia kembali bersiap untuk kebutuhan esok hari.

“Kadang jam empat subuh sudah bangun lagi,” tuturnya sambil tersenyum.

Soal penjualan, hari ramai dan sepi sudah menjadi bagian dari perjalanan panjangnya. Akhir pekan menjadi waktu paling sibuk. “Kalau hari Minggu bisa habis 10 kilo daging, Sabtu sekitar 6 kilo,” katanya.

Pada hari biasa, suasana lebih lengang, namun pelanggan setia tetap datang, sebagian besar adalah warga sekitar yang telah puluhan tahun mengenal Soto Pak Ndut.

Keistimewaan Soto Semarang Pak Ndut bukan hanya pada kuahnya yang gurih ringan, tetapi juga pada nilai kesederhanaan dan ketekunan. Tidak ada strategi promosi besar-besaran, tidak pula konsep modern. Yang dijaga adalah rasa, kejujuran, dan konsistensi—nilai yang diwariskan langsung oleh pendirinya.

Bagi Yuli, berjualan soto bukan sekadar mencari nafkah. Ini adalah bentuk bakti pada orang tua dan cara menjaga identitas keluarga.

“Ini warisan bapak,” ucapnya singkat, namun penuh makna.

Roby Maulana, salahsatu pelanggan Soto Pak Ndut menceritakan, dirinya mengenal tempat ini dari gepok tular (cerita-red) kalau di Pusponjolo Barat Raya ada soto yang murah tapi tidak murahan.

“Dari rasa penasaran itu, akhirnya mencari buat merasakan Soto Pak Ndut. 1 porsi soto, teh anget, sate kulit dan sate kerang cukup 21 ribu. Harga murah dan ternyata rasa eksklusif,” ujarnya sambil tersenyum.

Di tengah maraknya kuliner kekinian, Soto Semarang Pak Ndut tetap berdiri dengan caranya sendiri. Selama panci masih mengepul dan pelanggan terus datang, kisah soto legendaris di Pusponjolo Barat Raya ini akan terus hidup—mengikat kenangan, rasa, dan waktu dalam satu mangkuk sederhana.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *