Kirab Budaya Haul Mbah Syafi’i
Salahsatu peserta kirab budaya haul akbar Mbah Syafi'i, Minggu (12/4).(Dok. BahteraJateng/day)
|

Teladani Sosok Ulama Pejuang, Ribuan Warga Ikuti Kirab Budaya Haul Mbah Syafi’i

SEMARANG[BahteraJateng] – Sosok KH R. Syafii Piyoro Negoro kembali dikenang sebagai ulama sekaligus pejuang dalam Kirab Budaya Haul Akbar yang diikuti ribuan warga dari Kecamatan Tugu dan Ngaliyan pada Minggu (12/4).

Kirab yang dimulai dari Terminal Mangkang menuju pemakaman Mbah Syafi’i di Dondong, Wonosari, Ngaliyan itu menjadi momentum untuk meneladani perjuangan dan nilai-nilai religius yang diwariskan tokoh penyebar Islam di Pulau Jawa tersebut.


Kegiatan ini dilepas oleh Ketua DPRD Kota Semarang, Kadar Lusman bersama anggota DPRD Jateng, Krisseptiana Hendrar Prihadi dan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Semarang, Indriyasari.

Dikenal sebagai pendiri Pondok Pesantren Luhur Dondong pada tahun 1609, Mbah Syafi’i tidak hanya berperan dalam syiar Islam, tetapi juga disebut ikut berjuang melawan penjajahan Belanda. Bahkan, dalam cerita tutur masyarakat, ia diyakini pernah menjadi bagian dari pasukan Sultan Agung.

Ketua DPRD sekaligus tokoh masyarakat, Kadar Lusman, mengatakan nilai perjuangan dan keteladanan Mbah Syafi’i harus terus diwariskan kepada generasi muda.

“Beliau bukan hanya menyebarkan agama, tetapi juga ikut berjuang melawan penjajah. Ini yang harus kita teladani, baik semangat religius maupun nasionalismenya,” ujar Pilus, sapaan akrabnya.

Ia menambahkan, kegiatan haul yang diisi dengan kirab budaya, doa bersama, dan sholawatan menjadi sarana efektif untuk mengingat sekaligus menanamkan nilai perjuangan tokoh kepada masyarakat.

Selain dikenal sebagai ulama pejuang, Mbah Syafi’i juga memiliki kontribusi besar dalam dunia pendidikan Islam. Pondok Pesantren Luhur Dondong yang didirikannya masih bertahan hingga kini dan menjadi bagian dari jejak sejarah penyebaran Islam di wilayah Semarang.

Dalam kirab tersebut, turut ditampilkan kitab peninggalan Mbah Syafi’i yang masih tersimpan di pondok pesantren tersebut sebagai simbol warisan keilmuan yang terus dijaga.

Meski begitu, pengurus pondok mengakui bahwa literasi tertulis mengenai sosok Mbah Syafi’i masih terbatas. Hal ini disebabkan banyak dokumen penting yang hilang akibat dibakar pada masa penjajahan serta bencana banjir.

Melalui haul dan kirab budaya ini, masyarakat berharap keteladanan Mbah Syafi’i sebagai ulama dan pejuang tidak hanya dikenang, tetapi juga diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

“Bahkan, saya menilai sosok beliau layak diusulkan sebagai pahlawan nasional,” tandasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *