Wayang Kita Mau Dibawa Kemana?
Oleh Agus Widyanto
Mangayubagya diakuinya wayang sebagai karya kebudayaan yang mengagumkan dalam bidang cerita narasi dan warisan yang indah dan berharga (Masterpiece of Oral and Intangible Heritage of Humanity) oleh badan dunia yang mengurus pendidikan, ilmu pengetahuan dan kebudayaan: UNESCO (United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization) pada tanggal 7 November 2003 dengan menjadikannya sebagai peringatan Hari Wayang Nasional, adalah poin penting yang tidak bermakna apa-apa jika tak disertai tindakan nyata. Apa yang mesti kita lakukan untuk warisan kebudayaan yang diakui dunia itu?
Memperbincangkannya pada momentum tersebut, tentulah relevan. Memperbincangkan suatu tema ibarat mengelaborasi pengetahuan yang kita miliki agar tetap terjaga, setidaknya ada upaya membangun pemahaman yang lebih dalam dan lebih lengkap atas apa yang kita miliki. Kalau mau jujur, walaupun sudah sering mendengar, mungkin sudah banyak yang tidak lagi mengetahui apa yang disebut wayang? Siapa yang menciptakan, siapa saja tokoh yang ada dalam ceritanya? Darimana asalnya?
Jika mengacu definisi di Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), wayang adalah boneka tiruan orang yang terbuat dari pahatan kulit atau kayu dan sebagainya yang dapat dimanfaatkan untuk memerankan tokoh dalam pertunjukan drama tradisional (Bali, Jawa, Sunda, dan sebagainya), biasanya dimainkan oleh seorang yang disebut dalang. Wayang menurut KBBI juga dimaknai sebagai bayang-bayang. Definisi resmi, yang mungkin kurang saja belum memuaskan rasa bahasa kita. Seperti ada nuansa yang belum tersampaikan secara tekstual.
Untuk itu, kita comot pendapat ahli yang relevan. Sri Mulyono, pakar sekaligus praktisi yang banyak bergulat dengan wayang, mendefinisikan wayang sebagai “Sebuah kata Bahasa Indonesia (Jawa) asli yang berarti bayang-bayang yang berasal dari akar kata “yang“ dengan mendapat awalan “ wa “ menjadi kata “ wayang “. Mulyono dalam “Simbolisme dan Mistikisme dalam Wayang” (1983) kemudian menguraikan, kata “wayang“ atau ”hamayang ” pada waktu dulu berarti mempertunjukkan “bayangan “, yang dalam prosesnya lambat laun menjadi pertunjukan bayang-bayang kemudian menjadi seni pentas bayang-bayang atau wayang. Mungkin definisi tersebut belum mudah untuk dipahami.
Ahli Bahasa, WJS Poerwa Darminta yang karya kamusnya menjadi acuan banyak orang, menyebut definisi wayang adalah gambar atau tiruan manusia yang terbuat dari kulit, kayu dan sebagainya untuk mempertunjukkan sesuatu lakon/cerita. Narasi ini sepertinya lebih mudah ditangkap dan dipahami.
Dari sumber bebas yang belum terverifikasi, asal kata wayang disebut dari “Ma Hyang”, yang artinya menuju kepada roh spiritual, dewa, atau Tuhan Yang Maha Esa. Ini model etimologi rakyat yang disebut kerata basa atau jarwo dhosok. Jadi ada kebebasan dalam menafsirkan, mengacu pada bunyi dan hurufnya.
Mana yang cocok, silakan pilih. Bahkan kalau tidak ada yang cocok, membuat definisi sendiri juga tidak dilarang. Apapun yang bisa kita lakukan, tentu akan memperkaya wacana tentang wayang, warisan budaya yang diakui dunia yang saat ini seperti terlepas dari kehidupan masyarakat. Kalau tidak ada kesungguhan, wayang hanya akan bisa dilihat di museum dan menjadi kajian terbatas di ruang akademik. Sayang kan?
Dalam wujud nyata, apa yang disebut wayang ternyata ragamnya sangat banyak. Yang paling terkenal adalah wayang kulit atau lazim disebut wayang purwa: Kesenian dengan menggunakan bentuk karakter mitologi yang biasanya dibuat dengan menggunakan lembaran kulit binatang (kerbau atau sapi) yang dikeringkan. Wayang kulit adalah seni yang sangat lengkap, karena ada seni tatah dan seni rupa untuk wayang kulitnya, ada seni suara dan seni musik (waranggana dan gamelan), seni teater dalam bentuk narasi dan dialog yang dilakukan oleh dalang, ada puisi yang sering pula berupa mantra atau jargon-jargon menarik yang diucapkan ki dalang, dan ada tata panggung juga.
Wayang kulit sekarang ada beberapa variasi, seperti wayang wahyu yang mengisahkan cerita keagamaan, dan wayang kontemporer yang tokoh-tokohnya tidak berasal dari Kitab Ramayana, Kitab Mahabharata dan Kita Pustaka Raja, tapi dari tokoh-tokoh modern dan kreasi bebas gaya baru. Ada pula wayang suket, yang sempat dipopulerkan lagi oleh Ki Dalang Slamet Gundono (almarhum).
Jenis kedua yang populer khususnya di Jawa Barat adalah Wayang Golek: Seni pertunjukan tiga dimensi berbahan dasar kayu yang diukir menyerupai manusia, kemudian didandani dengan kain-kain sebagai busana yang membuatnya menjadi lebih menarik. Jenis wayang tiga dimensi ini, konon, adalah bentuk asli wayang sebelum dibuat model pipih dari kulit di era Walisongo. Jenis wayang tiga dimensi yang ada di Jawa lainnya adalah wayang Potehi, seni dari Tiongkok yang sekarang dimainkan dengan Bahasa Jawa dan Bahasa Indonesia sebagai pengantara.
Adapun variable ketiga dari wayang adalah Wayang Orang, suguhan kesenian yang tokohnya diperankan oleh orang, dengan iringan gamelan, dialog oleh aktor dan aktris panggung, disertai tembang dan dekorasi panggung hasil karya seni lukis dan senirupa yang elok. Kini, pementasan rutin wayang orang hanya tinggal di tiga titik, yaitu Wayang Orang (WO) Bharata di Jl Kali Lio Senen Raya Jakarta, WO Sriwedari di Taman Sriwedari Solo dan WO Ngesti Pandawa di Kompleks Taman Budaya Raden Saleh, Jl Sriwijaya Kota Semarang.
Yang keempat adalah Wayang Beber, yakni model wayang yang memakai gulungan gambar berisi kisah atau lakon yang akan diceritakan. Wayang ini populer di Pacitan, Ponorogo dan sekitarnya. Lakon yang dimainkan kebanyakan cerita Panji yang mengisahkan Panji Asmorobangun dengan Dewi Sekartaji.
Yang kelima, yang jarang diketahui orang adalah jenis kesenian yang disebut Wayang Jemblung. Ini model pertunjukan wayang yang dimainkan secara oral, baik dialog maupun musiknya semuanya mengandalkan mulut, seperti akapela. Wayang ini konon diinspirasikan saat Amangkurat I melarikan diri menuju Batavia, saat berada di Banyumas dan ingin memberi hiburan kepada masyarakat, Ki Dalang Lebdojiwo yang turut mendampinginya diminta untuk berpentas. Karena Ki Lebdojiwo tidak membawa perangkat musik dan tidak membawa wayang, sehingga harus tampil secara oral. Inilah inspirasi wayang jeblung yang konon berasal dari akar kata Gemblung atau gila.
Dalam hal sejarah wayang, memang masih terkesan simpang-siur karena para cerdik pandai yang seharusnya melakukan kajian yang bisa dipertanggung jawabkan belum secara tegas menyampaikan hasil kajian yang memadai. Mungkin saja sudah ada penelitian yang memadai, namun belum disertai sosialisasi yang cukup sehingga kaum awam masih saja kebingungan.
Ada yang menyebut wayang berasal dari India, karena Lakon (cerita) wayang kulit biasanya berdasarkan cerita yang diambil dari epik Ramayana karya Walmiki dan Mahabharata karya Vyasa Krisna Dwipayana atau Begawan Vyasa. Namun dalam lakon wayang, meski beranjak dari kedua epic tersebut, sudah ada perubahan-perubahan; apalagi lakon wayang memang tak hanya mengandalkan Ramayana dan Mahabharata sebagai sumber. Meski tokohnya bisa sama, namun ceritanya bisa berbeda, itu yang disebut Lakon Carangan. Sementara yang sama seperti dua kitab tersebut disebut Lakon pakem.
Dalam kisah pewayangan Nusantara juga muncul tokoh-tokoh yang tidak ada di India seperti Punokawan Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong yang menjadi pendamping para kesatria Pandawa. Kemudian sosok Wisanggeni, putra Arjuna yang lahir dari seorang bidadari bernama Batari Dresanala, putri Batara Brama dan Dewi Saraswati. Wisanggeni yang kesaktiannya melebih anak-anak Pandawa ini kisahnya menyisip dalam cerita Mahabharata. Alkisah menjelang meletusnya perang Baratayuda, Wisanggeni dan Antasena naik ke Kahyangan Alang-alang Kumitir meminta restu kepada Sanghyang Wenang sebelum mereka bergabung di pihak Pandawa. Akan tetapi, Sanghyang Wenang telah meramalkan, pihak Pandawa justru akan mengalami kekalahan apabila Wisanggeni dan Antasena ikut bertempur. Karena itu, akhirnya Wisanggeni dan Antasena memutuskan untuk tidak kembali ke perkemahan Pandawa. Mereka rela menjadi tumbal demi kemenangan Pandawa, mereka pun mengheningkan cipta kemudian mencapai moksa, musnah bersama jasad mereka.
Yang meyakini wayang merupakan budaya asli Nusantara dalam hal ini Jawa, merujuk informasi tertua mengenai pertunjukan wayang termuat di dalam sebuah prasasti dari Kerajaan Mataram Kuno dari abad ke-9. Selanjutnya berkembang di era kerajaan Kediri dan Kerajaan Majapahit pada abad ke-15. Menurut Kitab Centini, disebutkan bahwa kesenian Wayang, diciptakan oleh Raja Jayabaya dari Kerajaan Mamenang atau Kediri. Sekatar abad ke-10 Raja Jayabaya berusaha menciptakan gambaran dari roh leluhurnya dan dilukiskan di atas daun lontar. Bentuk gambaran Wayang tersebut ditiru dari Gambaran relief cerita Ramayana pada Candi Penataran di Blitar.
Sejarah wayang selayaknya menjadi prioritas kajian para sejarawan, arkeolog dan pakar antropologi budaya untuk mendalaminya. Pengakuan UNESCO harus diikuti oleh pendalaman yang lebih, dari sekedar cerita dan mitos-mitos yang ada. Perlu pembuktian apakah benar wayang sungguh-sungguh bahwa wayang sudah ada sejak zaman kuno di Nusantara sebelum kedatangan agama Hindu-Buddha dan Islam? Apakah benar kalau wayang merupakan pengaruh Hindu-Buddha? Bagaimana perkembangannya di era Mataram Kuno sampai Majapahit yang disebut-sebut sebagai era kejayaan wayang?
Apapun hasilnya, bisa dijadikan anjakan awal untuk memahami wayang yang lahir dari bumi kita, Nusantara, yang sudah diakui dunia sebagai warisan penting bagi peradaban. Media seni yang prnah memiliki peran strategis dalam kehidupan masyarakat sebagai media hiburan, bagian dari ritual adat keagamaan, media menyampaikan pesan moral, dan media untuk pendidikan masyarakat.
Pasti tidak ada yang berharap wayang akan menghilang begitu saja. Apalagi kita yang menjadi sebagai pewarisnya, ada kewajiban untuk menjaga keberlanjutan seni wayang sebagai kekayaan bangsa yang memiliki nilai-nilai filosofis, religius, kultural edukatif, estetis, dan nilai-nilai kultural. Wayang mau dibawa kemana, itu tanggung jawab kita yang sekarang sudah memiliki Kementerian Kebudayaan untuk memastikannya. Selamat Hari wayang Nasional.
(Agus Widyanto, wartawan senior, peminat kebudayaan dan falsafah Jawa)

