Kekalahan Perdana PDIP di Kandang Banteng: Bangkitnya Era Nasionalis-Religius di Jateng
MAGELANG[BahteraJateng] – Pada gelaran di Pemilihan Gubernur (Pilgub) Jawa Tengah 2024, untuk pertama kalinya sejak 15 tahun terakhir, PDI Perjuangan (PDIP) tumbang. Kekalahan ini menandai berakhirnya dominasi “kandang banteng” dan kebangkitan era kepemimpinan Nasionalis-Religius di Jateng
Pasangan Ahmad Luthfi dan Taj Yasin Maimoen (Luthfi-Yasin) menang telak dengan perolehan suara 59,14% (11,39 juta suara), mengalahkan pasangan Andika-Hendi yang didukung PDIP dengan 40,86% suara (7,87 juta suara).
KH. Agus Aly Qayshar (Gus Ali), Pengasuh Pondok Pesantren Darussalam Timur Watucongol, menyebut kemenangan Luthfi-Yasin pada Pilgub Jateng sebagai bukti lahirnya basis utama nasionalis-religius di Jawa Tengah.
“Watucongol mendukung penuh pasangan nasionalis-religius ini. Kombinasi kepemimpinan ini membawa harapan untuk menciptakan Jawa Tengah yang kompak, adem, dan aman,” ujar Gus Ali saat menghadiri acara Haul Aulia di Magelang, pada Sabtu, 7 Desember 2024.
Menurut Gus Ali, Jawa Tengah telah lama dikenal sebagai basis masyarakat nasionalis dan religius. Ia berharap kemenangan ini akan memberikan perhatian lebih pada pendidikan dan pesantren di wilayah tersebut. Gus Ali, yang sebelumnya mendukung PDIP selama 20 tahun, mengalihkan dukungannya kepada Luthfi-Yasin karena dianggap lebih sesuai dengan aspirasi rakyat.
Dukungan terhadap pasangan ini juga datang dari Gus Kautsar, pengasuh Pondok Pesantren Ploso Kediri. Ia menilai perpaduan nasionalis dan religius mampu membawa stabilitas dan kemajuan bagi Jawa Tengah.
“Dengan kemenangan ini, Jateng akan menjadi lebih adem di bawah kepemimpinan yang harmonis,” tegasnya.
Ketua DPW PKB Jateng, Gus Yusuf Chudlori, sebelumnya juga mendorong perlunya kepemimpinan nasionalis-religius di provinsi ini. “Ini momentum penting untuk menghijaukan Jawa Tengah bersama nilai-nilai nasionalisme,” katanya.
Kemenangan Luthfi-Yasin menutup dominasi PDIP di Jawa Tengah, yang sebelumnya selalu unggul dalam Pilgub 2008, 2013, dan 2018. Hasil ini sekaligus menunjukkan perubahan preferensi politik masyarakat Jawa Tengah yang kini mendukung pemimpin dengan visi nasionalis dan religius untuk menjawab tantangan di masa depan.(sun)


