Pakar UGM Bantah Erupsi Enam Gunung Api Terkait Teori Konspirasi
YOGYAKARTA[BahteraJateng] – Pakar Vulkanologi Universitas Gadjah Mada (UGM) membantah anggapan yang mengaitkan erupsi enam gunung api di Indonesia dengan teori konspirasi maupun campur tangan pihak tertentu yang berseberangan dengan pemerintah.
Pakar Vulkanologi Fakultas Geografi UGM, Prof. Agung Harijoko, mengatakan aktivitas erupsi pada gunung api merupakan fenomena geologi yang dapat berlangsung secara alami.
Ia menjelaskan, erupsi terjadi akibat adanya peningkatan tekanan di dalam dapur magma. Ketika tekanan tersebut mencapai kondisi tertentu, material vulkanik kemudian terdorong keluar menuju permukaan.
“Jadi tidak ada kaitannya dengan teknologi frekuensi atau apa itu. Belum ada buktinya kalau mau dikatakan seperti itu. Jadi tetap saja kalau saya masih percaya bahwa itu adalah proses alami, proses geologi,” ujar Harijoko.
Menurut Harijoko, terjadinya erupsi di beberapa gunung api dalam periode waktu yang berdekatan bukan sesuatu yang otomatis menunjukkan adanya keterlibatan manusia. Fenomena tersebut masih dapat dijelaskan melalui proses vulkanologi yang berlangsung secara alamiah.
“Statement seperti teori konspirasi seperti mungkin latar belakang beliau dari teori studi teror, ya, sehingga apakah terkait dengan itu? Tetapi sebenarnya secara natural, secara alami, ada gunung api,” katanya.
Magma Anak Krakatau Berbeda dengan Krakatau 1883
Harijoko turut membahas aktivitas Gunung Anak Krakatau, termasuk kemungkinan gunung api tersebut mengalami erupsi besar dengan karakteristik seperti peristiwa Krakatau pada 1883.
Ia mengatakan besarnya erupsi sebuah gunung api sangat berkaitan dengan karakteristik magma yang tersimpan di dapur magma. Komposisi magma dapat menentukan tipe serta tingkat eksplosivitas erupsi.
Harijoko menyebut magma yang berkaitan dengan erupsi Krakatau pada 1883 memiliki karakter berbeda dibandingkan material magma yang dikeluarkan Anak Krakatau dalam sekitar 30 tahun terakhir.
“Jenis magma untuk erupsi 1883 itu sangat berbeda dengan magma yang dierupsikan bahkan di 30 tahun terakhir ini. Magma di 1883 itu mempunyai 70 persen kandungan, sedangkan magma yang dierupsikan di 30 tahun terakhir ini masih cukup rendah, sekitar 55 persen,” jelasnya.
Perbedaan komposisi tersebut, lanjut dia, turut memengaruhi karakter erupsi Anak Krakatau. Dalam kurun waktu sekitar tiga dekade terakhir, aktivitas Anak Krakatau tercatat berada pada Volcanic Explosivity Index (VEI) atau Indeks Eksplosivitas Vulkanik level 1 hingga 3.
Angka tersebut tergolong relatif rendah apabila dibandingkan dengan erupsi Krakatau pada 1883.
“Jadi secara potensi tipe erupsinya tentunya akan berbeda. Itu bisa dilihat juga dari erupsinya. Jadi 30 tahun terakhir ini erupsinya mempunyai VEI atau indeks eksplosivitas vulkanik 1 sampai 3. Ini relatif rendah,” katanya.
Berdasarkan kondisi tersebut, Harijoko menilai kemungkinan terjadinya erupsi Anak Krakatau dengan karakteristik seperti Krakatau pada 1883 masih cukup jauh.
Tubuh Anak Krakatau Terus Bertambah
Selain membahas karakter magma, Harijoko menjelaskan proses pertumbuhan tubuh Gunung Anak Krakatau yang terus berlangsung seiring aktivitas erupsinya.
Erupsi dengan tingkat VEI 1 hingga 3, kata dia, umumnya menghasilkan lontaran material vulkanik yang tidak terlalu jauh dari pusat erupsi. Material tersebut kemudian terakumulasi di sekitar kawah dan secara bertahap membentuk morfologi gunung api.
“Karena erupsinya bisa dikatakan VEI 1-3, sehingga lontarannya juga lokal. Lokal sehingga dia akan menumpuk-menumpuk di sekitar pusat erupsinya, sehingga morfologinya kemudian terbangun,” jelasnya.
Meski demikian, posisi Anak Krakatau menjadi salah satu aspek yang perlu diperhatikan. Sejumlah kajian menunjukkan gunung api tersebut tumbuh di bagian tepi kaldera yang terbentuk setelah erupsi besar Krakatau pada 1883.
Kondisi geologi tersebut membuat bagian bawah tubuh Anak Krakatau tidak seluruhnya berada di atas permukaan yang stabil.
“Kalau dari studi yang sudah dilakukan, ternyata Gunung Api Anak Krakatau itu berdiri di atas tepi kaldera dari erupsi 1883. Sehingga mungkin di bawah itu bukan suatu dataran yang stabil,” ujarnya.
Menurut Harijoko, keberadaan tebing kaldera yang cukup terjal juga dapat berpengaruh terhadap kestabilan tubuh Anak Krakatau. Faktor tersebut disebutnya kemungkinan ikut berperan dalam peristiwa longsoran yang terjadi pada 2018.
“Biasanya karena kaldera itu mesti ada tebing yang cukup terjal. Nah, kemungkinan itu yang juga menyebabkan mudahnya longsor seperti di 2018,” pungkasnya.(day)


