Muhasabah Akhir Tahun: Refleksi Seni dan Budaya Berlandaskan Nilai Profetik
BANTUL[BahteraJateng] – Pendopo Prasojo dan Resto Nyangkringan di Bantul menjadi saksi pelaksanaan acara Muhasabah Akhir Tahun dan peluncuran buku kumpulan puisi Cahaya di Tanah Haram karya Jabrohim, pada Senin, 30 Desember 2024.
Acara yang penuh hikmah ini dihadiri oleh tokoh-tokoh seni, budaya, dan pendidikan, termasuk Deputy Perizinan dan Inspeksi Badan Pengawas Tenaga Nuklir, Zainal Arifin; Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Bantul periode 2010–2015, Drs. H. Sahari; dan Wakil Ketua Pengurus Pusat Komunitas Seni Budaya Profetik, Drs. Agus Amarulloh, M.A.; serta sejumlah seniman dan budayawan di Bantul dan sekitarnya.

Tuan rumah acara, Hartadi Prasojo, membuka kegiatan dengan sambutan yang syarat makna melalui untaian puisi. Ia menyampaikan bahwa muhasabah adalah perjalanan menuju kesadaran kolektif, di mana sastra menjadi lentera yang menerangi jalan dan jembatan untuk membangun kehidupan yang lebih bermakna.
“Selamat datang di Bantul, tanah yang memeluk tradisi. Di sini, sastra adalah napas, doa yang mengalir di antara kita semua,” ucap Hartadi mengawali acara dengan penuh kehangatan.
Ketua Yayasan Pusat Seni Budaya Profetik (Pusbatik), Dr. Diah Uswatun Nurhayati, dalam sambutan tertulis yang dibacakan Agus Amarulloh, M.A. menekankan pentingnya seni budaya profetik yang berpijak pada nilai-nilai humanisasi, liberalisasi, dan transendensi sebagaimana dirumuskan oleh Kuntowijoyo.
“Kosbatik bertujuan mengapresiasi maupun menciptakan karya seni yang tidak hanya indah secara estetis, tetapi juga bermakna spiritual dan bermanfaat bagi kehidupan masyarakat,” ujarnya.
Acara ini sekaligus menjadi momentum refleksi perjalanan sastra di Bantul yang telah berlangsung selama lebih dari 50 tahun. Para perintis sastra seperti Muh. Daim Rahardjo, Jabrohim, dan Sahari hadir berbagi kisah inspiratif mengenai kiprah mereka melalui Kelompok Studi Sastra ARAH. Jabrohim, meskipun telah berusia lanjut, terus produktif berkarya dan memberikan contoh nyata semangat berkesenian.

Peluncuran Buku Cahaya di Tanah Haram
Sebagai bagian utama acara, buku kumpulan puisi Cahaya di Tanah Haram karya Jabrohim diluncurkan secara resmi. Buku ini merupakan refleksi mendalam dari pengalaman spiritual penulis selama perjalanan umrah.
“Setiap bait puisi dalam buku ini adalah cerminan perpaduan antara rasio, imajinasi, hati nurani, dan kesadaran spiritual,” ungkap Drs. Agus Amarulloh, M.A., Wakil Ketua Pengurus Pusat Komunitas Seni Budaya Profetik (Kosbatik), yang juga menyoroti pengaruh mendalam dari pengalaman Jabrohim bersama Ustadz Dr. dr. Sagiran, Sp.B(K), KL, M.Kes., selama ibadah umrah.
Dalam kesempatan tersebut, Jabrohim sebagai penulis buku menyerahkan karyanya kepada Pengurus Pusat Komunitas Seni Budaya Profetik yang diterima oleh Agus Amarulloh, M.A. untuk kemudian diluncurkan.
Diawali dengan bacaan basmallah, buku tersebut diluncurkan dilanjutkan dengan penyerahan buku kepada hadirin tertua M. Daim Rahardjo (80 tahun) serta hadirin yang merupakan mantan pejabat tertinggi (H. Sahari, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Bantul Periode 2010 – 2015) dan pejabat yang masih aktif Deputy Perizinan dan Inspeksi Badan Tenaga Nuklir (H. Zainal Arifin).
Karya ini mendapat apresiasi tinggi dari berbagai pihak, termasuk Kelik M. Nugroho, mantan Wartawan Tempo yang hadir dalam acara tersebut. Kelik M. Nugroho yang alumni Pondok Pesantren Gontor ini menilai bahwa buku ini menghadirkan dimensi spiritual dan estetis yang luar biasa.
“Puisi-puisi dalam buku ini adalah doa yang mengajak pembacanya merenungi makna hidup dan keagungan Sang Pencipta,” ungkapnya.
Kolaborasi Seni dan Budaya
Acara ini tidak hanya menjadi ajang peluncuran buku, tetapi juga menunjukkan kekuatan kolaborasi antara seniman, budayawan, dan tokoh pendidikan. Dukungan dari Pendopo Prasojo dan Resto Nyangkringan, yang menjadi mitra kegiatan, menambah kehangatan suasana malam itu.
“Semoga acara ini menjadi inspirasi bagi kita semua untuk terus berkarya,” ujar Dr. Diah Uswatun Nurhayati menutup sambutan tertulisnya.
Muhasabah Akhir Tahun ini membuktikan bahwa seni budaya tidak hanya menjadi medium ekspresi, tetapi juga sarana refleksi diri, pengabdian kepada masyarakat, dan pendekatan kepada Tuhan. Semangat ini diharapkan terus menyala, membawa seni budaya Indonesia ke tingkat yang lebih tinggi.(sun)

