Agroindustri Kreatif: Mie Mokaf Jadi Pilihan Pangan Sehat Masa Depan
SEMARANG[BahteraJateng] – Ekspo Agroindustri Kreatif Mie Sehat dari Mokaf yang digelar di Gedung C lt.3 Fakultas Pertanian Universitas Wahid Hasyim (Unwahas) pada Selasa, 7 Januari 2025 berhasil menarik perhatian masyarakat. Dengan mengusung slogan “Tetap Sehat Walau Makan Mie”, acara ini memperkenalkan inovasi pangan berbasis tepung singkong modifikasi (Modified Cassava Flour atau mokaf) sebagai alternatif sehat dan ramah lingkungan untuk kebutuhan pangan modern.
Dalam konteks tren makanan cepat saji, mie telah menjadi pilihan praktis bagi banyak orang. Namun, mie berbahan dasar tepung terigu sering menimbulkan kekhawatiran kesehatan, terutama bagi mereka yang sensitif terhadap gluten atau ingin menjaga pola makan seimbang. Untuk mengatasi tantangan ini, inovasi pangan berbasis mokaf menawarkan solusi yang lebih sehat. Tepung mokaf, yang berasal dari singkong, tidak hanya bebas gluten tetapi juga kaya nutrisi, menjadikannya alternatif menjanjikan untuk mi berbahan dasar gandum.
Inovasi dan Produksi Mie Berbasis Mokaf
Pada ekspo ini, mie yang dihasilkan merupakan hasil substitusi tepung terigu hingga 50% dengan tepung mokaf. Meski belum sepenuhnya menggantikan tepung terigu, produk ini telah menunjukkan karakteristik fisik dan sensorik yang memadai. Penelitian terdahulu juga mendukung keberhasilan substitusi tepung terigu dengan kombinasi mokaf, tapioka, dan kedelai dalam produksi mie.
Produk mie yang dihasilkan meliputi berbagai jenis, seperti mie rebus, mie goreng, mie kering, mie kremes, dan bola-bola mie. Tidak hanya itu, terdapat sembilan merek mie hasil karya mahasiswa, di antaranya NagaMie, Yummy Noodle, Mocamee, Ubimie, dan Simoc. Proses produksi dilakukan di laboratorium produksi Fakultas Pertanian Unwahas, di bawah bimbingan para asisten praktikum, yaitu Huwaida, Pungky, dan Febiyanti.
Kepala laboratorium, Fijay Afif, menjelaskan bahwa mie berbahan dasar mokaf memiliki daya tahan yang cukup lama. Mie kering yang diproduksi dengan proses pengeringan sempurna dapat bertahan lebih dari satu tahun. Namun, mie yang mengalami proses pengeringan kurang optimal rentan terhadap jamur.
“Memahami pola kadar air dan indikator kualitas sangat penting untuk memastikan integritas produk tetap terjaga,” ujarnya.
Dukungan Akademisi dan Inovasi Mahasiswa
Acara ini juga mendapat apresiasi dari Wakil Rektor 1 Unwahas , Dr. Andi Purwono, yang memuji kontribusi inovasi agroindustri dalam meningkatkan kesehatan masyarakat dan pemberdayaan ekonomi lokal.
“Kami sangat mengapresiasi kegiatan seperti ini. Ekspo ini membuktikan bahwa inovasi berbasis agroindustri mampu memberikan dampak positif, baik dari segi kesehatan maupun ekonomi. Semoga kegiatan ini menjadi inspirasi untuk pengembangan produk pangan lainnya,” tuturnya.
Sementara itu, Dekan Fakultas Pertanian, Dr. Rossi Prabowo, juga memberikan apresiasi khusus kepada para mahasiswa yang telah berhasil menciptakan produk mie sehat berbasis mokaf.
“Kreativitas mahasiswa dalam mengolah mokaf menjadi produk seperti mie sehat ini sangat membanggakan. Mereka telah membuktikan bahwa ilmu yang dipelajari di bangku kuliah dapat diimplementasikan secara nyata untuk menciptakan produk inovatif yang bermanfaat bagi masyarakat,” katanya.
Selain itu, Dewi Hastuti, dosen mata kuliah Agroindustri Kreatif, menambahkan bahwa singkong, sebagai bahan utama mokaf, memiliki potensi besar dalam mendukung ketahanan pangan nasional.
“Pengolahan singkong menjadi mokaf memungkinkan terciptanya mie bebas gluten yang memenuhi permintaan makanan sehat. Kombinasi tepung mokaf dengan kedelai juga meningkatkan nilai gizi produk, menjadikannya pilihan yang lebih lengkap,” jelasnya.
Potensi Bisnis dan Ketahanan Pangan Lokal
Ekspo ini tidak hanya memperkenalkan mie berbasis mokaf sebagai alternatif pangan sehat, tetapi juga membuka peluang bisnis baru bagi pelaku UMKM. Mokaf, sebagai bahan lokal, memiliki potensi besar untuk mendukung ketahanan pangan nasional sekaligus memberdayakan ekonomi lokal.
Singkong yang selama ini dikenal sebagai makanan pokok di berbagai negara berkembang, kini dapat diolah menjadi produk bernilai tambah yang sesuai dengan kebutuhan konsumen modern.
Kegiatan ini juga menjadi momentum penting dalam memperkuat keberadaan mokaf sebagai solusi pangan sehat berbasis lokal. Dengan teknik pemrosesan inovatif, mie mokaf mampu memenuhi kebutuhan diet beragam konsumen modern, tanpa mengurangi cita rasa dan kenyamanan yang menjadikan mi sebagai makanan pokok favorit.
Kesimpulan
Ekspo Agroindustri Kreatif ini menunjukkan langkah signifikan dalam memenuhi permintaan makanan sehat dan bebas gluten. Dengan menggabungkan sifat unik mokaf yang bebas gluten dan bernutrisi tinggi, serta teknik pemrosesan modern, produk mie mokaf menjadi solusi yang menjanjikan untuk kebutuhan pangan masa depan. Selain itu, acara ini membuktikan bahwa inovasi berbasis lokal dapat menghasilkan produk berkualitas tinggi, mendukung ketahanan pangan, serta memberikan dampak positif bagi masyarakat.
Melalui kegiatan ini, Universitas Wahid Hasyim tidak hanya berperan sebagai institusi pendidikan, tetapi juga sebagai pelopor dalam pengembangan inovasi pangan berbasis lokal yang sehat dan berkelanjutan. Mie mokaf menjadi contoh nyata bagaimana kreativitas mahasiswa dan dukungan akademisi dapat menciptakan produk yang bermanfaat bagi masyarakat dan ekonomi.(sun)

