Sifat Pacul yang Tak Boleh “Ucul” Pada Diri Pemimpin vs “Papat Sing Kudu Ucul”
Menelusuri Rahasia Primbon Kepemimpinan (Politik) Jawa (7)
Oleh: Agus Widyanto

Prolog: Masyarakat Jawa memiliki Khazanah yang cukup banyak tentang kepemimpinan dan bagaimana menjadi seorang pemimpin. Nilai-nilai falsafi kepemimpinan -termasuk di dalamnya kepemimpinan politik- tersebut, sayangnya, sering dicibir karena ada pemimpin beretnis Jawa yang perilaku politiknya tidak seperti nilai-nilai kepemimpinan adhiluhung yang diajarkan. Nilai-nilai falsafi adalah adalah ukuran ideal, sedangkan perilaku adalah praktek yang terlihat. Karenanya, memahami nilai-nilai kepemimpinan (politik) Jawa agar tahu tolok ukur terhadap praktek kepemimpinan yang ada. Bahtera Jateng akan menyajikan secara serial nilai-nilai kepemimpinan (politik) yang ada dan (pernah) tumbuh di masyarakat Jawa sebagai penyegar ingatan kita semua. Semoga bermanfaat.
Dalam kultur Jawa, semua benda selain bisa dipersonifikasikan, juga bisa diurai makna dan falsafahnya menjadi ajaran atau pemahaman. Salah satu metode pemberian makna di kalangan masyarakat Jawa adalah kerata basa atau jarwo dhosok, setara dengan metode etimologi (cabang linguistik yang mempelajari asal-usul dari suatu kata). Kerata memiliki arti membuka atau menjabarkan; kerata basa artinya menjabarkan atau membuka makna dari Bahasa (basa).
Yang terlihat dalam praktek sehari-hari, kerata basa atau jarwo dhosok lebih mirip pola akronim yang dipadukan dengan teknik “othak athik gathuk”, suatu pola yang sering dipahami sebagai gimmick (Cambridge Dictionary mengartikan gimmick adalah sesuatu yang tidak nyata dan bertujuan untuk cari perhatian atau minat seseorang untuk sementara; sementara KBBI memaknai gimmick adalah sesuatu berupa alat atau trik yang berguna untuk menarik perhatian dengan mengelabui lawan).
Sejatinya falsafah Jawa itu sangat dinamis, terbuka, bahkan toleran terhadap berbagai perubahan. Tafsir atau pemaknaannya selalu mengikuti perkembangan jaman (Manut Jaman Kelakone), meski ada hal-hal yang harus mengikuti aturan (Pakem). Bentuk toleransi dan keterbukaan budaya Jawa dalam pewayangan terlihat dari dua model sajian cerita yang ada: Pakem dan Carangan. Pakem itu sesuai aturan dasar, sementara carangan merupakan manifestasi dari inovasi dan kreativitas tuntutan jaman.
Falsafah dimaknai sebagai anggapan, gagasan, dan sikap batin yang paling dasar yang dimiliki oleh orang atau masyarakat; pandangan hidup. Sedikit berbeda dengan filsafat yang maknanya adalah pengetahuan dan penyelidikan dengan akal budi mengenai hakikat segala yang ada, sebab, asal, dan hukumnya. Ada pula yang mengartikan filsafat sebagai teori yang mendasari alam pikiran atau suatu kegiatan; atau bisa juga diartikan sebagai ilmu yang berintikan logika, estetika, metafisika, dan epistemology. Kita ambil falsafah yang lebih relevan dengan pemahaman kehidupan sehari-hari.
Dalam kehidupan di pedesaan Jawa, ada alat pertanian tradisonal yang disebut Pacul (Cangkul: Indonesia). Penamaan Pacul, juga didalami, ternyata mengandung falsafah yang berkembang menjadi pengetahuan umum dan menjadi ingatan kolektif masyarakat. Dalam pemahaman umum, Pacul di Jawa memiliki empat bagian yang masing-masing memiliki nama sendiri. Keempat bagian itu adalah Doran, Bawak, Langkir dan Tanding.
Doran (ada yang menyebut Garan) yakni gagang atau pegangan yang terbuat dari kayu; Bawak yakni logam berbentuk lingkaran yang menyatukan bilang logam cangkul dengan pegangan, Langkir (Ada yang menyebut Landep) yakni bagian ujung logam yang tajam; Tanding yaitu logam di sekitar Bawak yang dibuat lebih tebal dan kokoh yang dipakai untuk memecah batu atau memukul benda keras yang tidak bisa dipatahkan dengan Langkir.
Hasil “othak athik gathuk”, tentang Pacul bisa dikelompokan menjadi dua hal dasar, yakni hal-hal baik yang harus digenggam, dan hal-hal buruk yang harus dilepaskan dari sifat atau setidaknya harus dihindari.
Untuk empat hal yang harus diugemi, dipegang erat (“Papat Sing Ora kena Ucul”) masing-masing bagian dimaknai secara khusus. Doran dimaknai sebagai “Tansah nDedonga Ing Pangeran” (Dalam Menjalani Hidup Manusia Harus Selalu Berdoa dan Memohon Kepada Tuhan). Kemudian Bawak dimaknai sebagai “Obahing Awak” (Dalam Menjalani Hidup Manusia Harus Bergerak); Langkir dimaknai sebagai “Landeping Pikir” (Dalam Menjalani kehidupan Yang baik diperlukan Ketajaman Berpikir); sedangkan Tanding dimaknai sebagai “Tatanan Kudu Dieling-Eling” (Agar kehidupan Bersama Bisa Harmonis Tatanan Kehidupan Harus Selalu Diingat dan Dijaga).
Adapun dalam konteks menghindari empat perilaku buruk (“Ngipatke Samubarang Kang Ola Supaya Ucul”) juga diuraikan secara sederhana. Garan dalam konteks ini dimaknai “Ngguguwa Marang Pangeran” (Percayalah Kepada Tuhan), jangan sombong mengandalkan diri sendiri atau mengandalkan orang lain sebagai beking. Bawak perlu dijadikan pedoman “Kudu njaga solah bawa lan grapyak” (Perlu menjaga sikap, tindak tanduk, atau tingkah laku dan bersikap ramah), jangan memperlihatkan sifat “kemethak, sengak, galak lan cluthak”.
Sedangkan Landep menjadi pengingat agar selalu “landep penggraitone, ora cengkah karo jejering kautaman” (tajam pemikirannya dan berpandangan luas ke masa depan, tidak menyimpang dari budi pekerti luhur dan utama). Sekali lagi, ada pengingat agar menjaga budi pekerti sebagai penyeimbang seluas apapun pandangan dan setajam apapun pikiran yang kita punyai. Landep juga diurai menjadi “Lelandesan kawaspadan” (mampu mengendalikan diri dengan sikap waspada).
Yang menarik kata Tanding secara filosofis dinarasikan menjadi “Ngutamakna pilih tanding, aja seneng perang tanding” (Hanya melawan yang perlu dilawan, jangan berseteru dengan semua orang). Mungkin dalam jargon kekinian itu setara dengan ungkapan “Seribu teman terlalu sedikit, satu musuh terlalu banyak”.
Menjadi pemimpin adalah kesempatan dan amanah yang tidak diperoleh semua orang. Pemimpin merupakan orang terpilih, yang di pundaknya ada banyak beban dan harapan yang harus dipikul. Karenanya, pemimpin, “pangarso” bahkan ada yang dikultuskan dengan sebutan “Prabu, Sultan, dan Panembahan”.
Masyarakat awam memiliki kerinduan sosok pemimpin adalah pribadi-pribadi ideal yang dipercaya bisa melindungi, menjaga, dan memenuhi kebutuhan komunitas yang dipimpinnya. Sosok pemimpin ideal itulah yang didambakan, dan dimitoskan oleh masyarakat sebagai pembawa kemajuan. Konsekuensinya, seseorang yang menjadi pemimpin harus menyadari ada harapan bahwa dirinya bisa berbuat dan berperilaku seperti yang diidealkan masyarakat.
Banyak standar kepemimpinan yang bisa dipakai. Salah satunya falsafah kepemimpinan yang dilambangkan dalam bentuk Pacul. Idealnya seorang pemimpin memegang teguh empath al “Papat kang ora kena ucul”. Sebaliknya, pemimpin juga melepaskan diri dari empat perilaku buruk, “Ngipatke Samubarang Kang Ola Supaya Ucul”.
(Agus Widyanto adalah wartawan senior, peminat kebudayaan dan falsafah Jawa)

