Produksi Arang, Usaha Sederhana Dengan Hasil Memikat
BLORA[BahteraJateng] – Memanfaatkan limbah pengrajin kayu jati menjadi sebuah usaha produktif minim risiko merupakan pilihan usaha Mugiyono asal Dusun Kalitengah, Desa Jiken, Blora. Usahanya sederhana, memproduksi arang kayu jati dan kayu puruk untuk melayani permintaan warung kelontong hingga pabrik pengolahan baja di luar kota.
“Sebelumnya saya merantau ikut pemborong di Jakarta hingga Bali. Setelah punya keinginan pulang ke desa, saya berfikir, usaha apa selain pertanian,” kata Mugi kepada bahterajateng pada Rabu (17/12).
Bermodalkan tujuh juta rupiah dan keberanian melangkah, Mugiyono ambil bagian jadi suplayer arang pada sebuah perusahaan industri baja.
“Awalnya kenal lewat platform media sosial pada tahun 2019 dengan bos pabrik baja. Saya sampaikan bahwa saya siap suplai arang kayu jati, tapi saya hanya punya modal sedikit,” ungkap Mugi mengenang awal kisah dia menekuni usaha.
Dari kejujuran dan keberaniannya diawal usaha inilah lahir kepercayaan dalam transaksi untuk hasil produksinya.
“Akhirnya disepakati, pesan di DP (uang muka-red) lima puluh persen, ketika barang muat dan siap kirim, pelunasan. Dari awal sampai sekarang sistemnya seperti itu. Bahkan hingga saat ini, saya belum pernah jabat tangan langsung dengan pelanggan saya ini,” tutur Mugi.
Bapak dua putri ini menyampaikan bahwa usaha yang dijalaninya ini tidak mau mengambil kayu jati yang masih berupa gelondongan dari hutan.
“Usaha saya ini resmi. Saya punya NPWP, jadi saya tidak mau merusak hutan. Saya mau ambil hanya limbah dari pengrajin akar jati yang ada di Blora dan sekitarnya. Kalau kayu puruk (kayu kebun selain jati-red), biasanya kalau ada tetangga nebang dari pekarangan dan kayunya tidak dipakai, ditawarkan ke saya, saya mau beli, ada juga pucukan jati kampung,” imbuh Mugi.
Mugi juga mengungkapkan pasar arang kayu puruk hasil produksinya.
“Kalau arang kayu puruk, biasanya permintaan lokal. Untuk warung bakaran dan warung kelontong. Satu zak arang jati saya jual Rp. 60.000, kalau arang kayu puruk, saya jual Rp. 40.000. Kira-kira per zak biaya produksi sekitar dua puluh ribuan, dengan proses pengarangan sekitar lima hari. Ukuran dapur pengarangan lima meter, terkumpul 14 zak arang,” pungkas Mugi.(day)

