Utang Indonesia Sudah Sepanjang 40 Kali Keliling Bumi
Oleh: Agus Widyanto
Membaca bahwa jumlah utang Pemerintah Indonesia per 31 Maret 2026 sudah mencapai Rp 9.920,42 triliun, dan jika diasumsikan defisit APBN 2026 yang nilainya Rp 240,1 triliun harus ditutup dengan pinjaman atau utang juga; maka total utang pemerintah kita sudah menembus angka Rp 10.000 ribu triliun. Ya, sepuluh ribu triliun rupiah.

Bagaimana gambaran untuk angka sebesar itu, saya meminta bantuan AI (Artificial Intelligence) alias kecerdasan buatan untuk mengukur seberapa panjang nilai itu jika diwujudkan dalam deretan uang denominasi (pecahan) Rp 100.000. Hasilnya: Jika dideret berjajar pecahan seratus ribu terbitan BI yang panjangnya 15,1 cm akan mencapai 1,5 juta kilometer. Rentang panjangnya melebihi 40 kali lingkar bumi jika diukur memakai garis katulistiwa yang panjangnya 40.075,017 km. Panjangnya bahkan setara dengan jarak dua kali pergi-pulang ke bulan yang menurut AI jaraknya 384.400 km.
Rentang panjangnya menjadi 80 kali lingkar bumi jika uang kertas yang dijajar rupiah denominasi 50 ribu. Kalau denominasinya lebih kecil lagi, tentu jumlahnya rentangnya semakin memanjang. Tak terbayangkan bagaimana repotnya jika pembayaran utang itu harus diwujudkan dalam bentuk uang fisik, berapa banyak percetakan milik “security printing company” yang mesti dilibatkan, juga seberapa banyak tinta dan serat kertas yang harus disiapkan untuk itu.
Wacana tentang utang luar negeri pemerintah Indonesia memang sedang menjadi salah satu hot topik belakangan ini. Ada berbagai cara pandang yan dipakai, dan seperti wacana politik ekonomi lainnya; ada yang memastikan itu semua masih dalam batas aman Berdasarkan data terbaru per awal 2026, utang luar negeri Indonesia dinilai masih dalam batas aman dan terkendali melihat rasio utang terhadap PDB masih terjaga di bawah batas aman; ada di angka 40,75% sementara Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara menetapkan batas aman rasio utang pemerintah Indonesia maksimal 60% dari Produk Domestik Bruto (PDB).
Mereka yang mendukung pemerintah memastikan keamanan utang itu karena sebagian besar berupa utang jangka panjang, bukan utang jangka pendek yang jika telat membayar bisa dikejar “Debt Collector Dunia”. “Masih amannya utang Indonesia” juga karena berbentuk Surat Berharga Negara (SBN) domestik yang setara Rp 8.652,89 triliun atau sekitar 87,22% total utang, yang pembayarannya dalam bentuk rupiah; tidak terpengaruh nilai tukar dolar AS yang terus membubung tinggi.
Kelompok yang kontra mengingatkan bahwa nilai utang jatuh tempo di tahun 2026 adalah yang terbesar dalam sejarah: Rp 833,96 triliun. Beban bunga utang tahun 2026 sebesar Rp 599,44 triliun oleh pengkritik dianggap sudah melewati lampu kuning menuju merah karena nilainya setara 22,27% dari pendapatan pajak. Dan, kurs dolar AS yang sudah menembus angka Rp 17.500 per dolar AS tidak bisa diabaikan karena APBN (Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara) memakai asumsi nilai tukar Rp 16.500 per dolar AS. Artinya, sudah ada selisih seribu rupiah.
Kaum moderat tentunya punya cara pandang yang tersendiri soal utang pemerintah. Dengan cara yang sopan kaum moderat beropini selama utang dimanfaatkan untuk hal-hal yang produktif, dikelola dengan hati-hati dan berfokus pada keberlanjutan fiskal, masih oke-oke saja. Pemanfaatan utang yang produktif misalnya untuk membiayai pembangunan infrastruktur, pendidikan, kesehatan, dan subsidi produktif yang menunjang pertumbuhan ekonomi jangka panjang. Pengelolaan yang hati-hati tak perlu lah dibahas; sedangkan keberlanjutan fiskal Adalah bagaimana mengelola beban bunga utang agar tidak menekan fleksibilitas Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara.
Di luar pro-kontra dan kaum moderat, ada para serigala penyendiri (Lone wolf) yang terkadang permainannya seperti Joker, yang lawakannya tidak saja menimbulkan kegaduhan, tapi sesekali juga menyeramkan. Mereka bisa membanting kartunya kapan saja tanpa bisa diprediksi, mereka tiba-tiba mendapat simpati dan dukungan secara cepat, secepat mereka di-bully dan dirujak oleh netizen.
Sosok Joker dalam Khazanah pewayangan mungkin bisa disetarakan dengan Semar, penjelmaan dewa (Batara Ismaya), yang bisa bersikap bijak, bisa lucu, bisa juga tegas dan kesaktiannya tak tertandingi. Semar bisa mengobrak-abrik khayangan dan memakan para raja yang zalim, sebagaimana tergambar dalam lakon “Semar Ngamuk Nguntal Ratu”.
Soal utang pemerintah, kunci permasalahannya pasti tidak ditentukan oleh mereka yang pro, yang kontra, yang moderat ataupun sang Joker. Kunci permasalahan penanganannya ada di tangan pemerintah pusat yang dipimpin Presiden Prabowo Subianto. Karenanya, sepanjang apapun utang kita, secara legal formal sampai tahun 2029 terletak di tangan tokoh yang popular dengan sandi 08, kosong delapan.
(Agus Widyanto adalah wartawan senior, peminat kebudayaan dan falsafah Jawa)

