Mengulik Sumber Kekuatan (Komunikasi) Politik Jokowi
Oleh: Agus Widyanto
Sudah satu setengah tahun lebih Presiden ke-7 Indonesia Joko Widodo mengakhiri masa jabatannya, dan sudah satu setengah tahun pula Prabowo Subianto menduduki kursi kepresidenan. Namun kenapa nama Jokowi masih beredar kencang di ruang publik dan banyak orang yang berduyun-duyun mengunjungi kediamannya di Kampung Sumber Kota Solo? Yang lebih mengagetkan masih banyak anggota Kabinet Merah Putih pimpinan Presiden Prabowo yang “sowan” ke Presiden ke-7.

Tentu ada yang bertanya-tanya, apa rahasia kekuatan (komunikasi) politik sosok yang selama 7 tahun lebih (28 Juli 2005 hingga 1 Oktober 2012) dan kemudian hijrah ke Jakarta “mengendarai mobil EsEmKa” bertarung berebut kursi Gubernur DKI Jakarta melawan incumbent Fauzi Bowo? Bagaimana dia yang berpasangan dengan Ahok (Basuki Tjahaja Purnama) bisa mengalahkan Fauzi Bowo – Nachrowi Ramli di putaran kedua? Pilgub DKI Jakarta 2012 diikuti oleh 6 Pasangan Calon (Paslon) yakni: 1. Fauzi Bowo – Nachrowi Ramli, 2. Hendardji Soepandji – Ahmad Riza Patria, 3. Joko Widodo – Basuki Tjahaja Purnama, 4. Hidayat Nur Wahid – Didik J Rachbini, 5. Faisal Batubara – Biem Triani Benjamin, 6. AlexNoerdin – Nono Sampono; karena pada putaran pertama tak ada Paslon yang bisa meraih suara 50% plus sebagaimana disyaratkan aturan perundang-undangan, konstelasi politik pun berubah.
Berbekal perolehan suara 42,6% yang diraih di putaran pertama, Jokowi-Ahok bertarung menghadapi Fauzi Bowo – Nachrowi Ramli yang mendapatkan bekal suara 34,0% di putaran pertama dan didukung oleh hamper semua partai politik. Hanya tersisa Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) dan Partai Gerindra sebagai pengusung tetap kukuh mendukung. Hasilnya sebagaimana diumumkan KPU DKI Jakarta, Paslon Fauzi Bowo – Nachrowi Ramli mendapatkan 2.120.815 suara (46,18%), dan Paslon Jokowi – Ahok meraih 2.472.130 suara (setara 53,82% dari suara sah) sehingga ditetapkan sebagai Gubernur – Wakil Gubernur DKI Jakarta periode 2012–2017.
Belum genap satu periode menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta, Jokowi tiba-tiba masuk ke bursa pemilihan presiden 2014, dan menjadi kandidat presiden berpasangan dengan Jusuf Kalla sebagai wakilnya. Lagi-lagi, Jokowi beruntung: Menang Pilpres 2014. Jabatan politik tertinggi sudah diraihnya, sehingga hanya ada satu pembuktian kekuatan politiknya, yakni memenangkan Kembali Pilpres 2019 yang kemudian diketahui berpasangan dengan Ma’ruf Amin. Lengkaplah sudah karir politik lelaki kelahiran Solo, Rabu Pon 21 Juni 1961 yang dalam hitungan Jawa memiliki neptu atau nilai bobot angka 14 (Rabu 7, Pon 7).
Rupanya, tidak seperti para presiden terdahulu yang berakhir dan harus menghilang tertiup angin, Jokowi masih menjadi pusat perhatian orang banyak sampai hari ini. Semenjak berhenti pada Minggu Kliwon 20 Oktober 2024 yang memiliki total neptu atau skor 13 (Minggu 5, Kliwon 8); popularitasnya terus terjaga. Bisa ditanyakan sendiri ke Mbah Google bagaimana positioning-nya. Yang pasti, di ruang digital nama Jokowi selalu muncul dalam berbagai tone atau sentiment: Bisa positif, bisa netral, bisa pula negatif. Loyalisnya juga masih tampil dan eksis di ruang digital. Fenomena ini mengejutkan, sehingga banyak yang mencoba mencari tahu, apa rahasia komunikasi politik sosok yang satu ini.
Untuk mencari tahu apa rahasia kekuatan (komunikasi) politik Jokowi, kita hanya bisa membuat perkiraan yang jernih, ngenta-enta, mengira-ngira berdasarkan logika berpikir yang seharusnya. kepada Jokowi. Dalam perjalanan politiknya, harus diakui Jokowi memiliki strategi yang solid dan konsistendalam membangun dan menjaga citranya. Kalau janji kampanyenya sebagai Capres digaungkan sebagai Nawacita, yakni sembilan agenda prioritas; cara komunikasinya mungkin bisa disebut Nawacitra (Sembilan Langkah Menjaga Citra).
Agenda Nawacita terdiri dari: 1. Menghadirkan kembali negara untuk melindungi segenap bangsa dan memberikan rasa aman pada seluruh warga negara; 2. Membuat pemerintah tidak absen dengan membangun tata kelola pemerintahan yang bersih, efektif, demokratis, dan terpercaya; 3. Membangun Indonesia dari pinggiran dengan memperkuat daerah-daerah dan desa dalam kerangka negara kesatuan; 4. Menolak negara lemah dengan melakukan reformasi sistem dan penegakan hukum yang bebas korupsi, bermartabat, dan terpercaya; 5. Meningkatkan kualitas hidup manusia Indonesia melalui peningkatan program pendidikan dan kesehatan (Indonesia Pintar/Indonesia Sehat); 6. Meningkatkan produktivitas rakyat dan daya saing di pasar internasional sehingga bangsa Indonesia bisa maju dan bangkit bersama bangsa-bangsa Asia lainnya; 7. Kemandirian ekonomi dengan menggerakkan sektor-sektor strategis ekonomi domestik (pasar rakyat, kemaritiman, pertanian, dan energi); 8. Melakukan revolusi karakter bangsa melalui kebijakan pendidikan yang mengedepankan aspek karakter dan budi pekerti.citra yang harus dijaga); 9. Memperteguh kebhinekaan dan memperkuat restorasi sosial.
Lalu, apa isi Nawacitra yang menjadi rahasia komunikasi politik yang berisi kumpulan persepsi yang membuat dia terlihat kokoh, dan seperti tak tergoyahkan meski berbagai distraksi menerjangnya nya?
Ini catatan yang bisa dibuat sebagai hasil pencermatan sederhana yang jelas bukan kajian akademik. Sekedar catatan hasil perenungan penulis semata. Ke-9 citra yang melekat pada diri Jokowi meliputi: 1. Kesan dia adalah orang yang mau bekerja keras (slogannya kerja, kerja, kerja); 2. Tidak suka bermusuhan (selalu menghindar saat dikonfrontasikan dengan pendapat orang); 3. Pemberani (berani mengambil risiko, diperlihatkan dengan mendatangani Uni Soviet dan Ukraina saat pertempuran meletus), 4. Sederhana (kostum casual dipakai saat kunjungan kerja); 5. Rendah hati (selalu menebar senyum, mampu menahan diri dalam situasi tidak enak).
Adapun empat citra Jokowi yang lain Adalah: 6. Sebagai pemimpin yang mampu mewujudkan impian banyak orang yang selama ini terpendam (seperti tol transjawa, double track kereta api, bandara dan pelabuhan-pelabuhan laut baru selain revitalisasi); 7. murah hati (suka bagi-bagi sepeda, kaos, dan gift lainnya); 8. Tidak terlibat korupsi; 9. Bisa menempatkan diri (tahu diri bagaimana harus bersikap).
Pasti banyak yang punya pendapat lain tentang hal ini. Banyak pula yang tidak setuju; bahkan bisa juga ada yang berniat mengubahnya dalam narasi lain seperti aksi yang menarasikan “Nawadosa Jokowi” di Kampus UI Depok. Biarlah waktu yang membuktikan, manut jaman kelakone (ikut kehendak zaman) saja.
(Agus Widyanto adalah wartawan senior, peminat kebudayaan dan falsafah Jawa)

