Angkat Kesetaraan Gender, Tahayu Unnihayah Raih Wisudawan Terbaik KPI UIN Walisongo
SEMARANG[BahteraJateng] – Isu kesetaraan gender menjadi fokus penelitian wisudawan terbaik Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) S1 UIN Walisongo Semarang, Tahayu Unnihayah. Melalui skripsinya, Tahayu menyoroti masih adanya ketidakadilan gender yang ditampilkan dalam media film maupun kehidupan sosial masyarakat.
Mahasiswi asal Desa Tambakpolo, Kecamatan Bonang, Kabupaten Demak itu berhasil meraih predikat wisudawan terbaik KPI UIN Walisongo dalam prosesi wisuda yang digelar di Gedung Tgk Ismail Yaqub Semarang.
Tahayu mengangkat skripsi berjudul “Ketidakadilan Gender dalam Film ‘Perjalanan Pembuktian Cinta’ Karya M. Amrul Ummami (2024)”. Menurutnya, penelitian tersebut lahir dari keresahan terhadap fenomena ketidaksetaraan yang masih terjadi di tengah masyarakat.
“Saya tertarik mengambil judul ini karena melihat adanya ketidakadilan gender yang masih langgeng dalam kehidupan nyata maupun di dalam media. Melalui skripsi ini, saya ingin membuktikan bahwa sesama manusia mempunyai hak yang sama,” ujar Tahayu pada Sabtu (23/5).
Ia mengaku tidak pernah menargetkan diri menjadi wisudawan terbaik. Sejak awal, niatnya hanya menjalani kuliah dengan sungguh-sungguh agar ilmu yang diperoleh dapat bermanfaat bagi orang lain.
“Alhamdulillah, saya tidak menyangka bisa sampai di posisi ini. Niat awal saya hanya ingin belajar dengan sungguh-sungguh demi ilmu yang bermanfaat,” katanya.
Selama menjalani perkuliahan, Tahayu juga aktif sebagai santri yang mukim di Pondok Pesantren Darul Falah Besongo Ngaliyan. Ia mengakui sempat mengalami kesulitan dalam membagi waktu antara kegiatan akademik dan aktivitas pondok.
Untuk mengatasinya, ia menerapkan kebiasaan membuat daftar kegiatan harian atau daily journal sebagai panduan produktivitas. Selain itu, sejak semester awal ia juga rutin membuat rekapan materi kuliah dalam sebuah buku binder untuk dipelajari kembali secara berkala.
“Prinsip saya, setiap hari harus produktif. Kalau hari ini belum maksimal, besok harus mengejar target,” tuturnya.
Tahayu menambahkan, proses penyusunan skripsi justru menjadi pengalaman yang menyenangkan baginya karena dapat menjadi ruang menyuarakan gagasan tentang kesetaraan manusia.
“Alhamdulillah saya menikmati prosesnya. Saya menulis sekaligus ingin membuktikan bahwa semua manusia itu sama,” imbuhnya.
Predikat wisudawan terbaik tersebut ia persembahkan untuk kedua orang tuanya, terutama sang ayah, Maftuhin Zain, yang bekerja sebagai wiraswasta.
“Tentunya tanpa doa kedua orang tua saya bukan siapa-siapa. Terima kasih kepada bapak dan ibu yang sudah berjuang untuk saya,” ucapnya haru.
Usai menyelesaikan studi S1, Tahayu mengaku tengah mempersiapkan diri untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang Magister (S2) melalui jalur beasiswa.

