Karnaval Budaya RW 01 Wologito
Kreatifitas warga RT 07 meriahkan Karnaval Budaya RW 01 Wologito, Kelurahan Kembang Arum, Semarang Barat, Minggu (30/8).(Foto. BahteraJateng/day)

Setelah Vakum Sejak 1994, Warga RW 01 Wologito Kembang Arum Bangkitkan Kembali Karnaval Budaya

SEMARANG[BahteraJateng] — Ratusan warga RW 01 Wologito, Kelurahan Kembang Arum, Kecamatan Semarang Barat, Kota Semarang, antusias mengikuti jalan sehat dan lomba karnaval budaya dalam rangka memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan RI pada Minggu (30/8/2026).

Kegiatan tersebut menjadi momentum bagi warga untuk kembali menghidupkan tradisi karnaval budaya yang sebelumnya pernah digelar di wilayah tersebut, namun vakum sejak sekitar 1994.


Ketua RW 01 Wologito, Sudarwanto, mengatakan karnaval budaya kembali digelar karena melihat potensi seni dan budaya yang masih dimiliki warga. Menurutnya, sejumlah kesenian tradisional yang dahulu berkembang di lingkungan RW 01 mulai kembali ditampilkan.

“Ketika saya ditunjuk menjadi RW, saya berusaha bagaimana kebudayaan ini kita uri-uri (lestarikan) dan kita tampilkan lagi,” kata Sudarwanto kepada BahteraJateng.


Ia mengaku tidak menyangka antusiasme warga dalam kegiatan kali ini begitu besar. Selain jalan sehat, warga menampilkan beragam kesenian dan kreativitas, seperti barongsai, jaranan, serta tari Jawa tradisional.

Sudarwanto menyebut persiapan kegiatan dilakukan sekitar satu bulan. Bahkan, sejumlah warga secara mandiri mempersiapkan properti karnaval hingga larut malam.

Sudarwanto menegaskan BOP RT tidak digunakan untuk kegiatan di tingkat RW. Dana tersebut diserahkan kepada masing-masing RT dan digunakan untuk kegiatan kemerdekaan di lingkungan masing-masing.

“Program sebagus apapun tanpa dukungan pengurus dan warga tidak akan berjalan maksimal. Guyub rukun yang utama. RW Satu Guyub Rukun! RW Satu Guyub Rukun!,” tegasnya.

Ketua RT 07 RW 01, Edy Suwarso, mengatakan tema yang diusung dalam karnaval adalah seni budaya dalam kemerdekaan. Menurut dia, kegiatan tersebut menjadi upaya generasi penerus untuk mengisi kemerdekaan dengan kegiatan positif sekaligus menjaga budaya lokal.

“Jadi kita tidak terpancing budaya dari luar, tetapi tetap mengupayakan dan nguri-nguri budaya kita sendiri,” ujarnya.

Ketua Panitia Agustusan, Sulistriono, mengatakan kegiatan diikuti sembilan RT dalam satu RW. Pendanaan kegiatan berasal dari iuran warga dan donasi masyarakat sekitar secara sukarela, tanpa menggunakan dana BOP RT.

“Sesuai dengan temanya “warga guyub, sehat ragane, kuat negarane”. Jadi istilahnya saling menopang,” katanya.

Lurah Kembang Arum, Unggul Didi Setiawan, mengapresiasi antusiasme warga dan pelaksanaan kegiatan yang dinilai mampu melibatkan masyarakat secara luas.

“Antusias warga masyarakat juga sangat luar biasa. Ini menjadi bukti bahwa kita warga Indonesia masih mencintai budayanya,” kata Unggul.

Menurutnya, berbagai tema yang diangkat warga dalam karnaval menunjukkan kreativitas masyarakat dalam memaknai momentum kemerdekaan. Tidak hanya mengedepankan hiburan, kegiatan tersebut juga menjadi sarana untuk mengenalkan dan melestarikan budaya kepada generasi berikutnya.

Unggul berharap kegiatan jalan sehat dan karnaval kemerdekaan tidak berhenti di RW 01 Wologito. Ia mendorong kegiatan serupa dapat berkembang dan digelar di RW-RW lain di wilayah Kelurahan Kembang Arum.

“Semoga kegiatan ini bisa berjalan tidak hanya di RW 01, mungkin nanti bisa berkembang di RW-RW lain yang ada di Kelurahan Kembang Arum,” ujarnya.

Ia menilai keberlanjutan kegiatan semacam itu penting untuk menjaga kecintaan masyarakat terhadap budaya Indonesia. Menurutnya, keterlibatan warga secara langsung menjadi salah satu cara untuk mempertahankan budaya lokal di tengah perkembangan zaman.

Sementara itu, tokoh pemuda RT 07, Radit menyampaikan kepuasannya, timnya berhasil mendapat juara 1 lomba karnaval.

“Puji syukur warga Wologito RT 07 mendapat juara 1 di lomba karnaval dan jalan sehat di wilayah wologito RW 1 dalam rangka menyambut HUT RI ke 81,” ujarnya.

Pada karnaval itu, kreatifitas warga RT 07 menampilkan tokoh-tokoh seperti sang proklamator Soekarno-Hatta yang menaiki tank, Jenderal Sudirman, ada pula punakawan, Rama Sinta serta Hanoman.

Dan yang menjadi pusat perhatian pula adanya limbukan yang diperankan oleh bapak-bapak. Serta peran ibu-ibu warga RT 07 yang kompak dengan yel-yelnya dengan iringan lagu menambah karnaval ini menjadi lebih semangat.

“Yang menguras tenaga adalah pembuatan mobil hias berupa tank yang terbuat dari bahan sterofoam, dibuat sekitar 1 minggu oleh warga wologito RT 07. Capek tapi puas dan terbayar dengan mendapat predikat juara,” tuturnya.

Acara tersebut juga diramaikan puluhan UMKM warga RW 01 dan bazar Koperasi Merah Putih melalui program Pemkot Semarang, GPM Kempling Semar, yang menyediakan bawang putih 1/2 kg seharga Rp 20.000, bawang merah 1/2 Rp 17.000, dan beras SPHP 5kg Rp 60.000.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *