Tim Pengabdian kepada Masyarakat Unwahas
Tim Pengabdian kepada Masyarakat Unwahas menyerahkan alat monitoring dan auto dosing nutrisi berbasis IoT kepada Newasena Farm pada Sabtu (22/8).(Dok. Humas Unwahas)

Teknologi IoT UNWAHAS Jaga Nutrisi Melon Hidroponik Tetap Stabil, Produktivitas Diharapkan Meningkat

SEMARANG[BahteraJateng] — Tim Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Wahid Hasyim (UNWAHAS) menerapkan teknologi smart farming berbasis Internet of Things (IoT) di Newasena Farm, Kelurahan Meteseh, Kecamatan Tembalang, Kota Semarang. Teknologi tersebut dirancang untuk menjaga kestabilan nutrisi dalam budidaya melon hidroponik sekaligus mendorong peningkatan produktivitas dan kualitas hasil panen.

Teknologi berupa alat monitoring dan auto dosing nutrisi berbasis IoT itu diserahkan kepada Newasena Farm pada Sabtu (22/8/2026). Sistem memungkinkan pengelola memantau kondisi larutan nutrisi secara real-time melalui smartphone maupun komputer.


Ketua Tim Pengabdian UNWAHAS, Rony Wijanarko, mengatakan sistem tersebut memantau sejumlah parameter penting, yakni tingkat keasaman atau pH, Total Dissolved Solids (TDS), serta suhu greenhouse dan suhu air.

Menurutnya, fitur auto dosing menjadi salah satu keunggulan sistem karena mampu menambahkan larutan penyesuai pH dan nutrisi secara otomatis ketika parameter berada di luar batas yang ditentukan.


“Dengan sistem IoT ini, petani bisa memantau kondisi nutrisi dari smartphone mereka kapan saja dan di mana saja,” kata Rony.

Sistem dirancang mempertahankan pH larutan pada rentang optimal 5,5–6,5, sedangkan nilai TDS dijaga pada kisaran 1.500–2.000 ppm. Pengaturan tersebut dilakukan melalui mikrokontroler ESP32 yang terintegrasi dengan sensor dan pompa dosing otomatis.

Anggota Tim Pengabdian, Istanto, mengatakan teknologi tersebut diharapkan mampu menjaga kestabilan nutrisi pada tandon berkapasitas 1.500 liter. Kondisi nutrisi yang lebih stabil diharapkan dapat mendukung pertumbuhan tanaman dan menghasilkan buah melon yang lebih seragam.

Hasil pengujian menunjukkan deviasi akurasi sensor pH berada pada kisaran ±0,2. Sistem juga mampu mempertahankan pH pada rentang optimal selama operasional sehingga pengelolaan nutrisi menjadi lebih terkontrol dibandingkan metode manual.

Pengelola Newasena Farm, Faisol, menyambut penerapan teknologi tersebut. Ia berharap sistem monitoring dan auto dosing dapat meningkatkan kualitas serta produktivitas melon hidroponik yang dihasilkan.

“Dengan monitoring yang lebih baik, kami berharap kualitas dan produktivitas melon hidroponik kami bisa meningkat. Buah yang dihasilkan juga lebih seragam dan memenuhi standar pasar modern,” ujarnya.

Tim UNWAHAS selanjutnya akan melakukan monitoring dan evaluasi untuk memastikan sistem berjalan optimal serta memberikan dampak terhadap hasil panen.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *