Bencana Alam Landa Sumatera, Bagaimana Pesisir Utara Jawa?
SEMARANG[BahteraJateng] – Rangkaian bencana alam yang melanda beberapa wilayah Sumatera dalam beberapa hari terakhir ini kembali menegaskan satu hal: kerusakan ekosistem dan krisis iklim telah berubah menjadi bencana ekologis dan sosial yang merata di seluruh pelosok Indonesia.
Berdasarkan analisis Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan (KIARA), 199 kabupaten/kota pesisir di Indonesia akan mengalami banjir rob pada tahun 2050. Indonesia memiliki 81.616 desa yang tersebar di seluruh Indonesia dan terdapat 12.510 desa pesisir yang memiliki potensi besar mengalami banjir rob dan harus hidup dalam ancaman.
Di pesisir utara Jawa pun, terutama Kabupaten Demak, tanah kini hilang tanpa jejak, bahkan ruang hidup masyarakatnya di sejumlah desa telah tenggelam, sebagian menanti secara perlahan tenggelam.
Desa-desa seperti Timbulsloko, Margolinduk, Morodemak, hingga Purworejo menyusut dari peta dalam kurun dua dekade.
Abrasi ekstrem yang terjadi bukan semata peristiwa alam, melainkan akumulasi panjang dari pembangunan ekstraktif dan percepatan krisis iklim.
Mangrove ditebang, tambak diubah menjadi kawasan industri, sungai-sungai dipersempit, pasir laut dikeruk, dan garis pantai direklamasi. Laut kini balas menelan daratan.
“Saat proses kampung ditenggelamkan oleh kebijakan negara atas nama tol laut atau pembangunan lainnya, masyarakat mengalami banjir rob kepanjangan, dan abrasi parah, negara tidak hadir apalagi menetapkan sebagai bencana nasional,” jelas Susan Herawati, Sekretaris Jenderal Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan (KIARA) dalam keterangan tertulisnya.
KIARA melihat kerusakan ekologis di Kabupaten Demak dan bencana di Sumatera berdiri di atas akar masalah yang sama: eksploitasi lingkungan yang melampaui daya dukung alam.
Penebangan vegetasi penyangga, reklamasi dan pengurukan pesisir, ekspansi industri skala besar, serta tata ruang yang mengabaikan risiko ekologis menjadikan desa-desa pesisir Jawa dan Sumatera semakin rentan.
Siapa paling terdampak dalam krisis iklim dan bencana ekologis ini, perempuan dan anak-anak, imbuh Susan.
Salahsatu yang dilakukan oleh KIARA bersama jaringan adalah menyuarakan krisis yang selama ini sering tidak mendapat perhatian negara.
Seruan darurat dari mereka yang ruang hidupnya berada di garis terdepan krisis ekologi: perempuan nelayan dan masyarakat pesisir pada umumnya.(day)


