Bank Sampah Omah Keboen
Bank Sampah Omah Keboen di Jalan Wonodri Sendang Raya 8, Kota Semarang.(Dok. Bank Sampah Omah Keboen)
|

Dari Sampah hingga Telur Ayam, Bank Sampah Omah Keboen Ubah Limbah Jadi Cuan Rp3–5 Juta per Bulan

SEMARANG[BahteraJateng] — Di tengah hiruk-pikuk Kota Semarang, tak jauh dari kawasan Simpang Lima, ada sebuah tempat yang menawarkan cerita berbeda tentang limbah sampah yang menjadi ladang cuan.

Di Jalan Wonodri Sendang Raya 8, sampah plastik, botol bekas, kardus hingga minyak jelantah tak berakhir begitu saja di tempat pembuangan. Di Bank Sampah Omah Keboen, benda-benda yang kerap dianggap tak bernilai itu justru menjadi pintu masuk bagi kegiatan ekonomi warga.


Berawal dari sekadar hobi dan keinginan mengelola sampah, Omah Keboen perlahan tumbuh menjadi sistem pertanian terpadu yang menggabungkan pengelolaan sampah, urban farming, peternakan, perikanan hingga budidaya maggot.

Hasilnya bukan sekadar lingkungan yang lebih bersih. Dalam sebulan, Omah Keboen kini mampu menghasilkan pendapatan sekitar Rp3 juta hingga Rp5 juta dari berbagai aktivitas tersebut.


Ketua Bank Sampah Omah Keboen, Dharant Noor Patria, mengatakan perjalanan itu bermula dari aktivitas sederhana. Kala itu, Omah Keboen hanya menerima sejumlah jenis sampah yang masih memiliki nilai jual.

“Awalnya ya hanya menerima sampah plastik, kardus, minyak jelantah, kaleng dan botol bekas air kemasan,” ujar Dharant.

Namun, pengelolaan sampah tersebut kemudian berkembang. Botol-botol bekas dimanfaatkan untuk mendukung urban farming dengan menggunakan lahan kosong di sekitar rumah.

Sejak 2022, konsep itu terus diperluas. Dari pertanian, Omah Keboen mulai merambah budidaya ikan lele.

Kini, hasil budidaya lele bahkan telah mampu menyuplai sejumlah warung makan di sekitar lokasi.

Tidak berhenti di ikan, Omah Keboen kemudian mengembangkan peternakan ayam KUB. Jenis ayam tersebut dipilih karena dinilai lebih tahan terhadap penyakit sekaligus memiliki produktivitas telur yang lebih tinggi.

Ayam KUB yang dikembangkan mampu menghasilkan sekitar 160 butir telur per tahun. Jumlah itu lebih tinggi dibandingkan ayam biasa yang rata-rata menghasilkan sekitar 100 butir telur per tahun.

Yang menarik, peternakan tersebut juga tidak menghasilkan limbah yang terbuang percuma.

Kotoran ayam dikumpulkan dan diolah menjadi pupuk, baik dalam bentuk kompos maupun pupuk cair. Pupuk itu kemudian digunakan untuk mendukung urban farming dan sebagian telah dijual.

Siklus tersebut semakin lengkap dengan budidaya maggot.

Maggot dimanfaatkan sebagai pakan lele sekaligus campuran pakan ayam KUB. Dengan demikian, sejumlah kegiatan di Omah Keboen saling terhubung dan menghasilkan pola usaha yang lebih berkelanjutan.

Dari berbagai aktivitas itulah pemasukan Omah Keboen terbentuk.

“Penghasilannya sekitar Rp3 juta sampai Rp5 juta per bulan, dari penjualan sampah, lele, pupuk dan juga telur ayam,” kata Dharant.

Nilai tersebut mungkin belum tergolong besar jika dibandingkan dengan skala usaha komersial. Namun bagi Omah Keboen, keuntungan utamanya bukan semata-mata angka rupiah.

Keberadaan bank sampah tersebut menjadi pemantik bagi warga untuk melihat sampah dari sudut pandang berbeda.

Sampah bukan lagi sekadar barang yang harus dibuang. Dengan pengelolaan yang tepat, sampah bisa menjadi modal untuk kegiatan produktif.

Saat ini, Omah Keboen telah memiliki sekitar 30 nasabah. Pengelola pun masih menyimpan sejumlah target pengembangan.

Salah satunya membeli mesin pemanas untuk mengepres tutup botol air kemasan sehingga dapat diolah menjadi bahan kerajinan tangan. Target lainnya adalah memiliki mesin yang mampu mengubah botol bekas air mineral menjadi sapu.

“Semoga tahun ini seluruh target itu sudah bisa terwujud. Jujur kami belum menemukan di mana penjual mesin semacam itu,” ujar Dharant.

Perjalanan Omah Keboen akhirnya membawa mereka meraih penghargaan sebagai juara pertama bank sampah terbaik tingkat Kota Semarang 2026.

Lurah Wonodri Noor Chosim mengatakan keberadaan Omah Keboen menunjukkan bahwa pengelolaan sampah dapat berjalan beriringan dengan pemberdayaan ekonomi dan ketahanan pangan.

“Bank Sampah Omah Keboen ini tidak saja melakukan pemberdayaan warga, namun juga berupaya mengurangi sampah plastik dan yang pasti melakukan upaya ketahanan pangan,” katanya.

Dari halaman rumah di tengah kota, Omah Keboen membuktikan bahwa pertanian tidak selalu membutuhkan lahan luas. Sampah pun tidak selalu berarti akhir dari sebuah barang.

Di tangan warga Wonodri, sampah justru menjadi awal dari sebuah siklus: dikumpulkan, diolah, dimanfaatkan, menghasilkan pangan, lalu kembali memberi nilai ekonomi.

Dan dari sana, Rp3 juta hingga Rp5 juta per bulan bukan sekadar angka pendapatan. Itu adalah bukti bahwa ketika sampah dikelola dengan kreativitas, ia bisa menjadi sumber kehidupan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *